Arsip untuk Juli, 2009

PESTA BUKU JOGJA 2009

Sorot Pesta Buku Jogja 2009 Lewat Buku Panduan

Pikiran Dibuka Nurani Bicara”

Oleh : Norma Kristiani

Bukan kali pertama IKAPI mengadakan ajang seperti ini, namun kali ini panitia membuatnya lebih berbeda dari sebelumnya. Pesta Buku Jogja 2009 merupakan tajuk yang diambil Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY untuk pameran buku yang digelar pada tanggal 11-16 Maret 2009. Selama sepekan ini Jogja Expo Center (JEC) yang dipilih menjadi arena pesta buku. Pameran buku yang diselenggarakan oleh IKAPI DIY kali ini merupakan pameran ke-21. Dari tahun ke tahun pelaksanaan pameran ini selalu ditunggu oleh masyarakat Yogyakarta dan selalu dipadati pengunjung. Tema yang diambil untuk pameran kali ini adalah “Pikiran Dibuka Nurani Bicara”. Ketua panitia pesta buku, YB Priyanahadi, dalam sambutannya di buku panduan pameran mengatakan bahwa dengan membaca buku, maka pikiran kita akan dibuka, wawasan diperluas. Dengan membaca buku pun dapat membentuk nurani yang semakin jernih, bening, dan dewasa.

Ada pepatah yang mengatakan, kalau pikiran itu seperti parasut. Parasut akan berfungsi dalam keadaan terbuka. Jika terus tertutup dan tidak bisa membuka, maka tamatlah riwayat orang yang memakai parasut tersebut. Demikianlah sepenggal pepatah yang yang dituturkan Ketua Umum IKAPI, Setia Dharma Madjid, dalam buku panduan pameran. Buku adalah jendela dunia. Karena hanya dengan membaca buku saja, kita dapat menjelajahi dunia, mengetahui perkembangan dunia dan berbagai pengetahuan dengan segala perubahannya. Itulah salah satu tujuan IKAPI mengadakan ajang seperti ini. IKAPI mengajak masyarakat Yogyakarta khususnya, untuk melihat dunia lewat ajang membaca buku.

“…Walaupun saat ini minat baca yang dimiliki oleh masyarakat relatif masih rendah, namun setiap ada penyelenggaraan pameran buku, animo dan antusiasme masyarakat untuk datang cukup mengembirakan….”, itulah sepenggal sambutan yang diutarakan Sultan HB X dalam buku panduan pameran. Sultan menginginkan pengunjung yang datang dalam pameran bukan hanya melihat-lihat saja, melainkan juga mau membeli. Memang benar, pameran ini diadakan bukan saja digunakan sebagai ajang pamer buku mereka saja, melainkan sebagai sarana bagi penulis dan penerbit untuk menjual hasil karya mereka. Peserta pameran tentunya mengharapkan buku-buku mereka laris manis diborong pembeli. Karena dengan cara membeli buku itu sendiri, kita dapat mendukung dan menghargai hasil tulisan mereka. Itulah bentuk apresiasi kita bagi mereka. Untuk mendukung bentuk apresiasi pengunjung, maka IKAPI menyusun strategi dengan memberi penawaran harga yang murah dengan diskon mulai dari 5% hingga 90%, benar-benar spektakuler!.

Pameran Dibuka, Buku Panduan Bicara

Tak perlu bingung menjelajahi lautan buku di JEC sore itu. Pengunjung yang datang dapat menjelajahi pameran hanya lewat buku panduan. Buku ini dapat pengunjung ambil di stand sekretariatan pameran yang berada di pojok kanan dari pintu masuk. “Buku ini kita dijual Rp 1000,- saja per buku mbak”, jelas Mila salah seorang panitia yang berada di stand tersebut. Buku ini ditulis oleh IKAPI DIY guna memudahkan pengunjung untuk memperoleh informasi tentang pameran, mulai dari siapa saja peserta yang mengikuti ajang ini, hingga bagaimana laporan ketua panitia pesta buku Jogja 2009 dan sambutan-sambutan dari ketua umum IKAPI, IKAPI DIY dan Gubernur DIY. Pengunjung juga dapat mengikuti seluruh kegiatan yang disuguhkan panitia, karena panitia mencantumkan jadwal kegiatan Pesta Buku Jogja 2009 dalam buku panduan tersebut. Peserta yang mengikuti pameran ini sejumlah 49 penerbit dengan stand yang berjumlah sekitar 70 stand. Berdesak-desakan dan ramai. Itulah situasi yang saya alami ketika menyusuri lorong-lorong stand yang dipadati pengunjung. Namun dengan adanya denah stand dan peserta pameran, pengunjung tak perlu kesusahan lagi mencari stand yang mereka inginkan.

Yang mengagumkan lagi adalah tulisan dari beberapa perwakilan, yaitu dari penerbit, guru, pelajar di beberapa sekolah, mahasiswa, kolumnis, bahkan dari ketua panitia PBJ 2009 sendiri. Semua hasil tulisan dari beberapa perwakilan tersebut sangat menarik. Tema tulisan yang mereka ambil keseluruhannya berbicara tentang buku yang dapat membuka cakrawala piiran kita akan dunia dan semua perkembangannya. Ataka salah satunya. Ia adalah perwakilan dari novelis, pelajar dari SMAN 3 Yogyakarta, yang menyumbangkan pikirannya dengan tulisan yang ia beri judul “Membaca Buku itu Dahyat!”. Ia menceritakan keajaiban buku yang mengubah hidupnya, mulai dari hobinya membaca buku hingga bagaimana hobi membacanya itu tertuang dalam sebuah tulisan. Ia mengatakan bahwa bukulah yang membangun imajinasinya yang kemudian menghipnotisnya untuk menulis fantasinya menurut versinya sendiri menjadi kenyataan. Sungguh dahsyat memang. Seorang Ataka yang masih pelajar namun sudah banyak mengenal dunia melalui kisah nyata para imajinatif yang menjadi referensinya. Pesannya adalah “bacalah buku, karena kamu akan merasakan kedahsyatannya. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin banyak pula pengetahuan yang kita terima”.

Banyak pengunjung yang sangat senang dengan adanya pameran ini. Hal ini terbukti dari antusias masyarakat yang datang dan tak sedikitn yang memborong buku-buku yang ditawarkan. “Semua jenis buku ada di sini! Wah, dahsyat! Awalnya saya mau membeli peta dunia dan beberapa novel, tapi saya sekarang malah bingung mau beli buku apa, soalnya semua bagus dan murah-murah”, tutur Kirana, salah satu mahasiswa Geografi UGM. Hal yang tak kalah menarik dalam pesta buku kali ini adalah adanya doorprize berupa kulkas, TV, minicompo, buku-buku,dan masih banyak lagi, dan grandprize berupa motor. “Semua orang bisa berkesempatan dapat hadiahnya mbak, caranya pengunjung membeli buku atau apapun di pameran ini minimal pembelanjaan Rp 20.000,-, nanti struk belanjanya ditukar dengan kupon di sekretariatan pameran”, tutur Mila, salah satu panitia dari stand sekretariatan ketika ditanya mengenai hadiah yang ditawarkan.

Masyarakat Jogja akan terus menanti hadirnya pesta buku yang akan datang, dan berharap banyak penawaran yang tak kalah menarik dengan sekarang. “Hidup IKAPI, hidup budaya baca”.

Tinggalkan sebuah Komentar

MONUMEN TKR

Monumen Tentara Keamanan Rakyat, Pemanis Pusat Kota Yogyakarta yang Kokoh

Oleh : Norma Kristiani

YOGYAKATA, Rabu, (11/03), di malam yang sedikit lengang, saya menyusuri jalanan di pusat kota. Tepatnya di jalan Oerip Soemohardjo. Saya sengaja berjalan kaki agar bisa melihat keindahan kota Yogyakarta di kala malam. Kaki ku berhenti di satu titik dimana di situ terdapat sebuah monumen. “Wah, sejak kapsan monument ini ada? Kokoh”, hanya satu kata yang muncul di benak saya”. Monumen itu berada di dalam sebuah museum Dharma Wiratama. Tak ingin melewatkan kesempatan, saya meminta ijin pada salah satu penjaga museum itu agar saya bisa melihat lebih dekat bentuk dan tulisan yang ada di monumen tersebut.

Monumen ini berada di pusat kota Yogyakarta, tepatnya di jalan Oerip Soemohardjo, di Museum Dharma Wiratama. Museum ini kokoh berdiri sejak 1995, sudah 14 tahun berjaya. Sepintas monumen ini hanya monumen biasa yang ‘mungkin’ keberadaannya dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat yang melewatinya sebagai pemanis kota. Padahal letaknya bersebelahan dengan perempatan lampu merah Gramedia yang membuat monumen ini tampak. Monumen ini dinamakan monumen Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang dibangun oleh Alumni Akademi Militer Angkatan 1948, dan 1949/1950, pada peringatan 50 tahun hari jadi Akademi Militer. Monumen TKR dibangun untuk mengenang perjuangan tentara Indonesia dalam melawan penjajah dan menyelamatkan rakyat dari perang.

Monumen TKR ini berdiri kokoh, terdapat dua patung tentara yang mengapit pilar berisi sejarah berdirinya monumen ini. Tak perlu banyak bertanya pada penjaga museum tersebut, karena monumen ini sudah memaparkan seluruh informasi mengenai monument itu sendiri. Mulai dari sejarah TKR hingga sejarah penamaan jalan tempat berdirinya monument ini. Sejarah TKR dimulai dari terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945, kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945, yang berkembang menjadi tentara keselamatan rakyat. Pada 22 Januari 1946 lahirlah Tentara Republik Indonesia (TRI) yang menjelma menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947 hingga sekarang. Awalnya lingkungan tempat ini adalah markas tertinggi tentara keamanan rakyat pucuk pimpinan tertinggi bersenjata Republik Indonesia, yang memancarkan kesatuan komando ke seluruh penjuru tanah air. Pada tanggal 12 November di tempat itu diadakan konferensi besar TKR dan terpilihlah Bapak Jenderal Soedirman sebagai panglima besar angkatan perang Republik Indonesia. Pemimpin pahlawan menentang penjajahan dan bersama Bapak Jenderal Oerip Soemohardjo, kepala staf umum. Peletak dasar organisasi anggota bersenjata Republik Indonesia merupakan dwitunggal dalam kepemimpinan angkatan bersenjata Republik Indonesia. Nama Oerip Soemiharjoi inilah yang digunakan sebagai nama jalan tempat monumen ini berdiri.

Monumen ini diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1995 oleh Soesilo Soedarman Jenderal TNI (Purn.), Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Ketika diatanyai seputar keberadaan dan makna monumen ini, Yonathan Sostenes, salah seorang mahasiswa yang kebetulan juga melewati jalan tersebut, “saya sering lewat jalan sini sih mbak, saya juga sering lihat monumen ini, tapi saya baru tahu kalo ini tuh monumen TKR. Ya, semoga saja masyarakat lain bisa mengetahui keberadaan monumen ini”, katanya.

Merupakan sebuah bangunan bersejarah yang patut dijaga dan dipandang keberadaannya, karena monumen ini dapat mengingatkan kita akan perjuangan besar para tentara demi keselamatan rakyat Indonesia di masa penjajahan. Namun ada beberapa tulisan di monumen tersebut yang hilang karena terhapus oleh waktu. Mari kita belajar untuk mengenal sejarah tentara Indonesia dengan sesekali berkunjung ke Monumen TKR ini. Monumen ini dapat dikunjungi oleh umum dan tidak dipungut biaya masuk.

Tinggalkan sebuah Komentar

drama satu babak

MANA TAHAN!!!!”


(Naskah ini dibuat untuk memenuhi salah satu mata kuliah “PEMENTASAN KELOMPOK”)


Arya Pramudya Setyawan. Ia seorang pengusaha sukses yang mempunyai beberapa perusahaan besar yang berada di beberapa kota di Indonesia. Kehidupannya selalu ia habiskan di luar kota, bahkan ia pun sering keluar negeri untuk urusan bisnis. Ia mempunyai seorang istri yang cantik bernama Ride. Arya, begitu nama sapaannya sehari-hari, mengalami dilema karena sang istri tidak bisa memiliki keturunan (mandul). Padahal Arya sangat mendambakaan seorang putra yang nantinya dapat meneruskan dan mewarisi semua harta yang ia miliki.

Karena sudah tak tahan dengan kondisi yang dialami suaminya, Ride akhirnya mengijinkan Arya untuk menikah lagi (poligami), asalkan ia adil dalam hal lahir batinnya. Mona, adalah istri kedua Arya. Mona memberikan seorang putri yang bernama Arna. Dan saat ini Mona telah mengandung lagi, dengan hasil USG perempuan. Karena Mona tak bisa memberikan keturunan laki-laki, Arya pun menikah lagi dengan harapan bisa memiliki seorang putra.

Anti yang kemudian menjadi istri ketiga Arya. Ia adalah seorang penyabar dengan kondisi Arya yang memiliki banyak istri. Lagi-lagi Arya dihadapkan pada situasi yang sama dengan Ride. Anti tak kunjung hamil. Arya memutuskan untuk menikah lagi, dengan disertai rentetan syarat dari para istrinya, yang mewajibkan Arya untuk terus adil dan bijaksana dalam membagi kebutuhan lahir batin seluruh istrinya. Dan ini akan menjadi pernikahan terakhir, sesuai permintaan para istri. Lystyana Widi, merupakan istri keempat Arya. Ia seorang yang muda, usianya baru 21 tahun. Setelah menikah dengan Listy, waktu dan diri Arya hanya tercurah untuk listy dan ini yang menjadi puncak permasalahan Arya dengan istri-istri sebelumnysa. Ketiga istri merasa diperlakukan tidak adil dengan kehadiran Listy. Kemudian mereka membuat kesepakatan untuk membuat jadwal bagi masing-masing istri. Namun Arya tidak bisa memenuhi semua itu dan membuat emosi semua istri. Dari cerita di atas, kami ingin menyampaikan pesan bahwa “katakan tidak pada poligami” karena “ Money can buy sex, but can not buy Love”. Intinya cinta itu tidak bisa dibeli dengan uang. Sekian.

1. SUTRADARA : NORMA KRISTIANI

2. PENULIS NASKAH : NORMA KRISTIANI, KANTI RAHAYU, LUSIA NADIYAWATI

3. SIE KOSTUM : ERNIATI T.M. DAN ENNA

4. PENATA SUARA : FABIANUS DENI A.

5. PEMAIN :

1. DENI ARIYANTO sebagai ARYA

2. LUSIA NADIYAWATI sebagai RIDE, ISTRI KE-1

3. ENNA sebagai MONA, ISTRI KE-2

4. KANTI RAHAYU sebagai ANTI, ISTRI KE-3

5. NORMA KRISTIANI sebagai LISTY, ISTRI KE-4

6. ERNIATI T.M. sebagai ARNA, ANAK ARYA DAN MONA


Drama satu babak :

(Di sebuah ruang keluarga, tampak ketiga istri Arya berbincang-bincang. Ride, Mona, dan Anti masuk.) (Lagu 1)

Mona : “Mbak, aku tuh sebel sama mas Arya, dia itu kayaknya udah gak sayang lagi sama aku. Padahal kan sekarang ini aku lagi hamil, juga karena mas Arya, ini kan anaknya mas Arya, beliin baju hamil kek, ya disayang-sayang juga enggak”. (tampak jengkel)

Ride : “Nasibmu itu sama dengan aku. Aku yang istri pertama aja ngalamin nasib kaya kamu, sekarang mas Arya lebih senang sama Listy tiap malam berduaan terus. Uuurrghh,….”

Anti : “Sabar mbak, nasib kita ini sama. Tapi kita harus nrima, yang sabar”.

Mona : “Ah kamu itu Anti, jadi istri kok ya terlalu sabar. Jadinya kan mas Arya nglunjak!

Ride : “Istri kok empat, jujur saja hatiku sakit banget. Tapi ya gimana lagi aku gak bisa ngasih keturunan sama mas Arya”.

Anti : “Ya udah mbak, kita pikirkan saja jalan tengah yang terbaik buat kita, gimana?”.

Ride : “Setuju aku, tapi gimana caranya? Biar kita sama-sama adil dan makmur”.

Anti : “Kita buat jadwal saja, satu minggu kita bagi berempat untuk giliran mas Arya tidur. Jadi masing-masing kita bisa sama mas Arya, biar adil kan”.

Mona : “Iya-iya aku setuju banget Anti, tumben kamu puinter” (sambil tertawa bercanda).

Anti : “enak aja kamu mbak, baru tahu ya?” (ikut tertawa)

Ride : “Ya udah An, siapin kertas, kita buat jadwal”. (Anti mengambil kertas dan pena)

(Anti, Ride, dan Mona mulai membuat jadwal untuk Arya)

(Selagi mereka membuat jadwal, datanglah anak mona yang bernama Arna)

Arna : “Mami, mami, lagi pada ngapain? Kok sibuk banget sih? Gak mau jodohin aku sama anak teman-teman mami kan? Aku kan masih mau kuliah and jadi wanita karier gitu lhoh”. (manja dan centil)

Mona : “Ih kamu ini anak kecil, ini urusan mami-mami, sana kamu main aja, tadi ditunggu Hella di Saphir Mall suruh nganterin cari sepatu katanya, tadi pagi telepon tapi mami yang ngangkat. Dia pesan gitu, suruh nyampein ke kamu”.

Arna : “Tapi bagi duit ya Mi”. (sambil merengek)

Mona : “Sana minta papimu!”. (Arna pergi mendatangi papinya)

Kanti : “Mbak, koq panas sih? AC nya rusak kali ya? Kita lanjut di teras aja yuk sambil ngeteh”.

Ride dan Mona : “ok deh….”

(Ride, Mona, dan Anti keluar ruangan.)(lagu ke-1 dimatikan)

(Arna berjalan menuju ruang tengah, disitu ada papi dan mami Listy yang sedang berduaan) (Lagu ke-2, pelan)

Arya dan Listy masuk dan duduk di sofa / kursi….

Arna : “Papi, papi cakep, ganteng, bagi duit dong! Arna mau ke Mall nih”. (menggeleot manja pada Arya)

Arya : “Arna…Arna… tiap hari kok minta duit mulu! Duh, duh, Bisa bangkrut papimu ini. (sambil mengeluarkan dompet), Ni, cukup kan?”

Arna : “Makasih Pi, da…da…”

(Masih Diiringi lagu ke-2….)

Listy : “Mas, kamu tu jangan terlalu baik sama anak, nanti manja”. (Listy sedikit iri)

Arya : “Udah gak papa, papi kan mampu. Harta papi tuh gak habis tujuh turunan deh mi, jadi mami tenang aja ya”. (sedikit sombong)

Listy : “bener ya pi gak habis tujuh turunan, kalogt mami minta hadiah lagi ya, kita bulan madu lagi yuk pi? Kemarin kita kan kurang ke Malaysia sama Eropa gitu!“ (merayu Arya, manja)

Arya : “(… alamakkk!! Sambil memukul jidat) Ya…ya… tapi kita rame-rame ya, kasian istri-istriku yang lainnya”.

Listy : “Papi gimana sih! Mami kan maunya berdua, kalo mau rame-rame, papi pergi aja sana sendiri!!!!!!” (marah terus masuk kamar )

Arya : “Duh mi, tunggu saying jangan marah”, (mengejar Listy)

(Ketiga istri kembali ke ruang keluarga, mereka masih berunding tentang jadwal)

Lagu ke-3….

Mona : “Akhirnya jadi juga jadwal kita. Kalau begini kan adil”. (sambil melihat jadwal yang telah dibuat bersama Anti dan Ride).

Anti : “Iya mbak jadi sama-sama adil kan? Jadi senin jatah mbak Ride sama mas Arya, Selasa sama mbak Mona, Rabu sama aku, dan Listy tu kebagian jatah terakhir, Kamis, kan dia istri terakhir!”.

Ride : “Iya, bagus ide kamu Anti, kita harus buat perjanjian ga boleh cemburu ya sama jadwal kita masing-masing, setuju?”.

Mona : “ Setuju”. (sambil mengacungkan jempol) (mereka Tertawa puas)

(Di tengah keceriaan para istri, datanglah Arya )

Arya : “Aduh-aduh rukunnya istri-istriku ini, lagi pada ngapain? (menghampiri ketiga istri)”

Anti : “Papi Arya, aku sama mbak Mona barusan selesai buat jadwal untuk papi! Nih liat”. (sambil mengulurkan kertas pada Arya)

Arya : “(Tercengang) mami-mamiku, aku bisa bangkrut kalo caranya kayak gini”.

Ride : “Ah papi…dulu kan ijin sama mami untuk poligami asal bisa nyukupin lahir batin istri-istrinya, ya kan? Jadi senin jatah aku sama mas Arya, Selasa sama mbak Mona, Rabu sama Anti, dan Listy tu kebagian jatah terakhir, Kamis, kan dia istri terakhir! ”.

Mona : “Setuju kan pi?”

(Selagi mereka bercakap-cakap, datang Listy dengan muka cemberut)

Listy : “Ada apa mbak kok rame banget sih?”.

Mona : “Udah tenang aja kamu, yang penting kan kita semua happy”

Listy : “Happy gimana sih pi? Ni kalian lagi ngapain?”

Arya : “Gini mi, mereka tuh buat jadwal buat papi bareng kalian-kalian”

Listy : “Jadi papi setuju?”

Arya : “Papi setuju-setuju saja, tapi berlaku minggu depan ya. Sekarang papi mau meeting dulu. Oke??!” (pergi sambil melempar kertas kepada istri-istrinya)

Ride+Mona : “Meeting???” (kaget bersamaan)

Lagu ke-4….

Anti : “Minggu-minggu kok meeting Pi?” (dengan raut yang curiga)

Listy : “Jangan bilang ada istri ke lima Papi !” (marah)

Arya : “Liat saja nanti”. (cuek)

Semua istri : “Papiiiiiiii….. jangan poligami lagi!!!!!” (semua serempak berteriak tak terima)

Para istri tidak terima dengan semua ini, dan menggugat cerai Arya. Makanya, buat pria-pria, “jangan poligami dong….!!!”


Sekian….”

thx to:

Pak P. hariyanto…makasih pak…saiya dapat “A”…hehehe


Tinggalkan sebuah Komentar

BAHASA BAKU

    BAHASA BAKU

  1. Pengertian Bahasa Baku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI : 2007), baku adalah pokok utama atau tolak ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan atau standar. Dalam bukunya, Abdul Chaer (1997 : 4) mengatakan bahwa bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang dijadikan dasar atau yang dijadikan standar. Menurut Kridalaksana (1978) dalam E. Zaenal Arifin bahwa bahasa baku termasuk dalam ragam bahasa resmi, yaitu bahasa yang digunakan dalam situasi formal atau resmi baik itu lisan maupun tulisan, digunakan dalam wacana teknis, dalam pembicaraan di depan umum (ceramah, kuliah, kotbah, dll.), dan saat berbicara dengan orang yang dihormati yaitu orang yang lebih tua, yang lebih tinggi status sosialnya maupun yang baru dikenal.

  1. Ciri-ciri Bahasa Baku

Menurut Abdul Chaer (1997 : 5-8) bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-cirinya, sebagai berikut:

  1. Pemakaian kaidah tata bahasa normatif, yang selalu digunakan secara eksplisit dan konsisten.

Misalnya :

  1. Pemakaian awalan me- dan awalan ber- secara eksplisit dan konsisten:

    Bahasa baku

    Bahasa tidak baku

    Gubernur meninjau daerah kebakaran.

    Gubernur tinjau daerah kebakaran.

    Anaknya bersekolah di Bandung.

    Anaknya sekolah di Bandung.

  2. Pemakaian kata penghubung bahwa dan karena dalam kalimat majemuk secara eksplisit dan konsisten, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Ia tidak tahu bahwa anaknya sering bolos.

Ia tidak tahu anaknya sering bolos

Ibu guru marah kepada Andi karena ia sering bolos.

Ibu guru marah kepadas Andi, ia sering bolos.

  1. Pemakaian pola frase untuk predikat aspek+pelaku+kata kerja secara konsisten, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Surat Anda sudah saya terima.

Surat Anda saya sudah baca.

  1. Pemakaian konstruksi sintesis, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Anaknya

Dia punya anak

memberitahukan

Kasih tahu

  1. Menghindari pemakaian unsure gramatikal dialek ragional atau unsure gramatikal bahasa daerah, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Mobil paman saya baru.

Paman saya mobilnya baru.

  1. Penggunaan Kata-kata Baku

Maksudnya adalah kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Misalnya:

Bahasa baku

Bahasa tidak baku

Cantik sekali

Cantik banget

Lurus saja

Lempeng saja

Masih kacau

Masih semrawut

Uang

Duit

Tidak mudah

Enggak gampang

Diikat dengan kawat

Diikat sama kawat

Bagaimana kabarnya?

Gimana kabarnya?

  1. Penggunaan Ejaan dalam Ragam Tulis

Ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD). EYD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata (dasar, berimbuhan, gabungan, ulang, dan serapan), penulisan partikel, penulisan angka, penulisan unsure serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya :

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Bersama-sama

Bersama2

Melipatgandakan

Melipat-gandakan

Pergi ke pasar

Pergi kepasar

Ekspres

Ekpres, espres

sistem

Sistim

  1. Penggunaan Lafal Baku dalam Ragam Lisan

Lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau ciri-ciri lafal daerah. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

[atap]

[atep]

[menggunakan]

[menggunakeun]

[kalaw]

[kalo], [kalo’]

[jumat]

[jum’at]

[Habis]

[abis]

[mahgrib]

[mah’grib]

[subuh]

[suboeh]

  1. Penggunaan Kalimat Secara Efektif

Kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca, persis seperti yang dimaksud oleh si pembicra atau si penulis.

Keefektifan kalimat ini dapat dicapai, antara lain:

  1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk dan keluarganya merasa tidak aman.

Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan keluarganya.

  1. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Dia datang ketika kami sedang makan.

Ketika kami sedang makan dan dia datang

  1. Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Bayarlah dengan uang pas!

Kepada para penumpang diharapkan membayar dengan uang pas.

  1. Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang ingin ditonjolkan. Misalnya:

Kalimat Biasa

Kalimat Bertekanan

Dengan pisau dikupasnya mangga itu

Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E. Zaenal, S. Amran Tasai. 1986. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinngi. Jakarta: MSP.

Chaer, Abdul. 1997. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Sabariyanto, Dirgo. 1993. Mengapa Disebut Bentuk Baku Dan Tidak Baku?. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

Tinggalkan sebuah Komentar

SMA Negeri 4 Denpasar, Bak Hotel Berbintang 5

SMA Negeri 4 Denpasar, Bak Hotel Berbintang 5

Bali. Merupakan nama sebuah pulau yang sudah mendunia. Tak hanya milik Indonesia saja, melainkan juga sudah menjadi bagian dari dunia dalam hal pariwisata. Keindahan dan keunikan Balilah yang menjadi daya tarik wisatawan asing. Bali memilki keunikan dalam adat istiadat yang sangat kental dengan agamanya, yaitu Hindu. Hal ini terlihat dari banyaknya patung-patung dewa-dewi dan tempat persembahyangan dan persembahan yang terdapat di setiap rumah-rumah dan gedung-gedung. Tak heran jika Bali dijuluki sebagai Pulau Dewata. Pulau yang penuh misteri dan sangat kuat agamanya.

“Selamat datang di Bali….”, begitu sambutan seorang wanita pada kami peserta study tour ketika tiba di Hotel Dewata Indah. Kami mahasiswa Prodi PBSID angkatan 2006 melakukan Study Tour selama hampir satu minggu lamanya, tepatnya tanggal 3-7 Juni 2009 lalu. Perjalanan saya ke Bali bersama rombongan adalah perjalanan pertama saya menginjak pulau Dewata. SMA Negeri 4 Denpasar adalah salah satu tempat yang menyita pemikiran saya karena tempat itu membuat saya terkagum-kagum dengan kemegahan gedungnya dan prestasi gemilang yang selalu diraihnya.

Gedung SMA ini sangat megah, bak hotel berbintang 5. Karena fisik gedungnya sangat luas dan megah. Tak hanya fisiknya saja, namun SMA Negeri 4 ini sangat berprestasi. Tak heran jika SMA ini akan mendapat gelar Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Tak terpikir oleh saya jika itu sebuah gedung sekolah. SMA Negeri 4 Denpasar ini terletak di wilayah barat Denpasar tepatnya di Jalan Gunung Rinjani, Perumnas Monang-Maning Denpasar. SMA Negeri 4 denpasar didirikan pada tanggal 19 Juli 1982, tetapi pada saat itu, gedungnya belum dibangun dan selesai dibangun tanggal 4 januari 1983.

Hasil kerja keras yang telah dilakukan selama ini membuat SMA Negeri 4 Denpasar menjadi dikenal baik di Bali bahkan hingga di luar daerah. Hal tersebut juga di dukung dengan hasil ujian nasional yang selalu konsisten tiap tahunnya hingga banyak siswa yang diterima dalam SIPENMARU (tes ujian masuk ke perguruan tinggi negeri pilihan). Disertai dengan meningkatnya siswa siswa yang diterima di perguruan tinggi favorit pada tingkat ASEAN (singapura). Hal tersebut berlangsung sejak EBTANAS tahun 1985, para siswa dari SMA Negeri 4 Denpasar mampu untuk memepertahankan prestasinya, menjadikan sekolah tersebut sebagai sekolah yang terbaik di provinsi Bali. Penerimaan siswa sebesar 100 persen dengan TPA (tes masuk). Penerimaan siswa baru hanya sejumlah 6 kelas yang tiap kelasnya menampung 35-40 siswa.

Dengan memboyong misi : cerdas intelektual, cerdas emosional, dan cerdas spiritual inilah SMA Negeri 4 Denpasar menjadi pujaan di Bali. Tak hanya itu saja, SMA Negeri 4 ini juga memiliki beberapa program guna meningkatkan kualitas mutu SMA menjadi nomor satu. Program-program tersebut, yaitu :

  1. Program remidi dan pengayaan

  2. Program peningkatan mutu

  3. Program pembelajaran dengan bahasa inggris

  4. Program pembelajaran dengan internet

  5. Program study banding

  6. Program bea siswa

  7. Program pengembangan sumber daya manusia

  8. Program kemitraan

Yang membuat saya kagum yaitu dalam hal peningkatan mutu siswa. Karena dalam program peningkatan mutu ini, sekolah menyediakan sarana bagi siswanya berupa kelompok-kelompok belajar yang lengkap sesuai kemampuan dan kesukaan dari siswa itu sendiri. Kelompok-kelompok tersebut yaitu mathematic club, physic club, chemistry club, biology club, computer club, English club, social club. Menjadi sebuah motivasi bagi kami sebagai calon guru. Terus belajar dan tak kenal lelah. Itulah pesan dari Wakasek SMA Negeri 4 Denpasar bagi kami para calon guru dan tentunya bila ingin menjadi bagian dari mereka.

Tanggapan (2)