BAHASA BAKU

  1. Pengertian Bahasa Baku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI : 2007), baku adalah pokok utama atau tolak ukur yang berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan atau standar. Dalam bukunya, Abdul Chaer (1997 : 4) mengatakan bahwa bahasa baku adalah salah satu ragam bahasa yang dijadikan pokok, yang dijadikan dasar atau yang dijadikan standar. Menurut Kridalaksana (1978) dalam E. Zaenal Arifin bahwa bahasa baku termasuk dalam ragam bahasa resmi, yaitu bahasa yang digunakan dalam situasi formal atau resmi baik itu lisan maupun tulisan, digunakan dalam wacana teknis, dalam pembicaraan di depan umum (ceramah, kuliah, kotbah, dll.), dan saat berbicara dengan orang yang dihormati yaitu orang yang lebih tua, yang lebih tinggi status sosialnya maupun yang baru dikenal.

  1. Ciri-ciri Bahasa Baku

Menurut Abdul Chaer (1997 : 5-8) bahasa baku dapat ditandai dengan ciri-cirinya, sebagai berikut:

  1. Pemakaian kaidah tata bahasa normatif, yang selalu digunakan secara eksplisit dan konsisten.

Misalnya :

  1. Pemakaian awalan me- dan awalan ber- secara eksplisit dan konsisten:

    Bahasa baku

    Bahasa tidak baku

    Gubernur meninjau daerah kebakaran.

    Gubernur tinjau daerah kebakaran.

    Anaknya bersekolah di Bandung.

    Anaknya sekolah di Bandung.

  2. Pemakaian kata penghubung bahwa dan karena dalam kalimat majemuk secara eksplisit dan konsisten, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Ia tidak tahu bahwa anaknya sering bolos.

Ia tidak tahu anaknya sering bolos

Ibu guru marah kepada Andi karena ia sering bolos.

Ibu guru marah kepadas Andi, ia sering bolos.

  1. Pemakaian pola frase untuk predikat aspek+pelaku+kata kerja secara konsisten, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Surat Anda sudah saya terima.

Surat Anda saya sudah baca.

  1. Pemakaian konstruksi sintesis, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Anaknya

Dia punya anak

memberitahukan

Kasih tahu

  1. Menghindari pemakaian unsure gramatikal dialek ragional atau unsure gramatikal bahasa daerah, misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Mobil paman saya baru.

Paman saya mobilnya baru.

  1. Penggunaan Kata-kata Baku

Maksudnya adalah kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang frekuensi penggunaannya cukup tinggi. Misalnya:

Bahasa baku

Bahasa tidak baku

Cantik sekali

Cantik banget

Lurus saja

Lempeng saja

Masih kacau

Masih semrawut

Uang

Duit

Tidak mudah

Enggak gampang

Diikat dengan kawat

Diikat sama kawat

Bagaimana kabarnya?

Gimana kabarnya?

  1. Penggunaan Ejaan dalam Ragam Tulis

Ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia saat ini adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD). EYD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata (dasar, berimbuhan, gabungan, ulang, dan serapan), penulisan partikel, penulisan angka, penulisan unsure serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya :

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Bersama-sama

Bersama2

Melipatgandakan

Melipat-gandakan

Pergi ke pasar

Pergi kepasar

Ekspres

Ekpres, espres

sistem

Sistim

  1. Penggunaan Lafal Baku dalam Ragam Lisan

Lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau ciri-ciri lafal daerah. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

[atap]

[atep]

[menggunakan]

[menggunakeun]

[kalaw]

[kalo], [kalo’]

[jumat]

[jum’at]

[Habis]

[abis]

[mahgrib]

[mah’grib]

[subuh]

[suboeh]

  1. Penggunaan Kalimat Secara Efektif

Kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca, persis seperti yang dimaksud oleh si pembicra atau si penulis.

Keefektifan kalimat ini dapat dicapai, antara lain:

  1. Susunan kalimat menurut aturan tata bahasa yang benar. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk dan keluarganya merasa tidak aman.

Tindakan-tindakan kekerasan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan keluarganya.

  1. Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis di dalam kalimat. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Dia datang ketika kami sedang makan.

Ketika kami sedang makan dan dia datang

  1. Penggunaan kata secara tepat dan efisien. Misalnya:

Bahasa Baku

Bahasa Tidak Baku

Bayarlah dengan uang pas!

Kepada para penumpang diharapkan membayar dengan uang pas.

  1. Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang ingin ditonjolkan. Misalnya:

Kalimat Biasa

Kalimat Bertekanan

Dengan pisau dikupasnya mangga itu

Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E. Zaenal, S. Amran Tasai. 1986. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinngi. Jakarta: MSP.

Chaer, Abdul. 1997. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Depdikbud. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Sabariyanto, Dirgo. 1993. Mengapa Disebut Bentuk Baku Dan Tidak Baku?. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.

About these ads