Category: Tokoh


Dia, si Kartini Keluarga

Tanggal 21 April selalu dirayakan sebagai hari Kartini. Hari untuk mengenang jasa pahlawan bagi kaum perempuan. Dia adalah Kartini. Setiap tahun, hari Kartini selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang berbau adat dan kedaerahan. Mulai dari mengenakan pakaian adat, lomba berbusana adat, lomba berpuisi, dan sebagainya. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya di seluruh kalangan masyarakat di Indonesia, baik kalangan formal maupun informal. Semua wanita bisa menginspirasi menjadi Kartini bagi siapa saja. Bagi saya setiap wanita di mata saya adalah seorang Kartini. Setiap wanita berperan sesuai dengan perannya. Ibu, misalnya. Bagi saya Ibu adalah Kartini di keluarga saya. Ia tak hanya mengurus kebutuhan suami dan anaknya, namun juga memikirkan segala hal dalam keluarga. Tak ada Ibu, pekerjaan rumah bisa kacau, tak ada ibu semua keluarga kelaparan karena tak ada yang memasak, tak ada ibu, rumah tak kan rapi. Begitulah sosok ibu bagi saya. Si Kartini keluarga.

Tak hanya ibu, nenekku pun adalah Kartini yang tangguh. Sore itu di sudut ruang rumah itu, ku lirik raut dan garis mata tua itu dengan kacamata di hidungnya dan sebuah pena dan buku TTS sambil sesekali menyerngitkan alisnya, seolah-olah serius dan berfikir. Sangat lekat dalam ingatku bahwa buku yang berisi deretan kotak-kotak kosong itulah satu-satunya hiburan di waktu senggangnya selain sinetron di televise di kala malam. Chatarina Sumarmi, namanya. Seorang ibu sekaligus ayah bagi kelima anaknya. Cucunya sudah sebelas, layaknya jumlah grup sepak bola.

Hamper 40 tahun sudah ia lalui seorang diri tanpa sosok seorang suami. Namun, kesendiriannya tak menjadi penyurut serta penghalang semangatnya untuk terus maju dan survive. Ia benar-benar membesarkan kelima anaknya dengan peluh dan upayanya seorang diri. Perjuangannya tak habis di situ. Ia terus berjuang menjadikan kelima anaknya menjadi “orang”. Sejak anak-anaknya masih kecil, ia sudah mengajarkan bagaimana mencari sebutir nasi. Anaknya ada yang ia suruh menjajakan jajanan hasil buatannya, ada pula yang mengamen, menjadi kondektur bus, ada juga yang menjadi pengisi acara (MC) di beberapa acara. Semua anaknya lakukan untuk menyambung hidup mereka. Sungguh perjuangan yang tak ada habinya.

Kini kelima anaknya telah dewasa dan berumah tangga. Ini membuat ia bahagia karena seluruh anaknya bisa bekerja dengan layak. Sosok wanita ini menjadi inspirasi bagi anak dan cucunya juga tetangga sekitarnya. Ia menjadi Kartini bagi kelima anaknya, bahkan sosok ayah pun ia lakoni. Tetaplah menjadi Kartini keluarga dan masyarakat. We love u… SELAMAT HARI KARTINI IBUKU, MBAHKU, BUDHEKU, BULIKKU, MBAKKU, ADIKKU, dan untukku. Jadilah si Kartini yang tangguh. Menjadi terang bagi sang malam.

KASIH IBU

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Sering ku alunkan lagu ini untukmu IBU. Lagu terindah yang pernah ada untuk seorang ibu. Sebuah lagu yang sangat mewakili betapa besar kasih seorang ibu.

Ibu adalah seorang yang melahirkan kita di dunia ini dan tanpanya kita tak kan pernah ada.

Kasih ibu kepadaku sangat luar biasa. Ia merawatku ketika ku masih menjadi janin. Ketika ku masih belum berbentuk. Sembilan bulan lamanya ia membawa beban yang tak ringan di perutnya. Tak ada keluh sekecap pun keluar dari ucapnya. HEBAT. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Demi kehadiranku di dunia, ia benar-benar rela melakukan apapun bahkan nyawanya sekalipun.

Ibu, aku tak pernah mendengarmu meminta balas atas budimu kepadaku. Tapi aku, Ibu, aku selalu meminta balas atas budiku padamu dan kau memberinya. Malu aku akan diriku.

Ibu, setiap hari peluhmu kau curahkan hanya untuk anak-anakmu. Kau hebat. Tak hanya mau berdiam di rumah, namun kau pun bekerja untukku. Guru, itulah profesimu. Sesuai dengan jiwamu, TANPA TANDA JASA. Bangga aku akan engkau, bu. Kau pandai mendidikku dan adik-adikku. Lincah gerakmu tak menyurutkan semangatmu. Tak pernah lelah mengisi waktumu.

Oh ibu, pengorbanan akan cintamu tak kan pernah terganti. Pagi, siang, sore, malam, kau selalu menjaga agar aku tak lapar, melawat ketika ku sakit, menghibur ketika dukaku. Lucu sifatmu selalu menggelitik bibirku untuk tertawa. Tak pernah kau tampakkan kesedihanmu, bebanmu, marahmu, pada anak-anakmu. Sungguh, tak pernah ku lihat itu. Garis matamu tak pernah bohong, kau sediakan suka cita untuk anak-anakmu.

Kala kejenuhan melandamu, kau menutupnya dengan candamu. Sesekali kau alunkan melodi dan lirik indah untukku. Suaramu mengalun merdu. Menghiburku. Kau petikkan gitar dengan merdu.

Chatarina Mardiyani, begitu indah namanya. Semangatmu menginspirasiku. Aku ingin seperti ibu. Ibu yang perkasa. Ibu yang tangguh. Ibu yang penyayang. Ibu yang pandai. Ibu yang sabar. Ibu yang ceria. Ibu yang luar biasa. Bersyukur aku memilikimu ibu. Bersyukur aku akan kasihmu.

Satu hal yang selalu kau pesan. Jadilah kebanggaan keluarga. Jadilah anak ibu yang luar biasa. Kepakkan sayapmu dan hiasi dunia. Jangan pernah lelah dan mengeluh. Selalu semangat dan BERDOA.

Kelak ibu, ku kan menjadi “orang” dan merawatmu di tua nanti. Terima kasih. Hanya itu yang bisa ku balas untukmu ibu. Terima kasih telah membentukku menjadi wanita yang dewasa, kuat, dan mengerti akan kasih. Terima kasih tak terhingga untukmu. Terima kasih untuk segala waktumu, tenagamu, peluhmu, jerih payahmu, senyummu, candamu, tangismu, dan doamu. TAK KAN TERGANTI.

Panjang umur, selalu sehat dan  bahagia. Itulah doaku yang paling tulus untukmu, IBU.

Chatarina Mardiyani

(Sepenggal cerita cinta untuk ibuku yang berulang tahun ke-46, 28 Februari 2011— maaf baru ku posting ^.^v AKU SAYANG IBU, muachhhh)

Ludwig van Beethoven (1804)

 

Ludwig van Beethoven adalah seorang komponis musik klasik dari Jerman. Ia dipandang sebagai salah satu komponis yang terbesar dan merupakan tokoh penting dalam masa peralihan antara Zaman Klasik dan Zaman Romantik. Karyanya yang terkenal adalah simfoni kelima, kesembilan, dan lagu piano Für Elise. Semasa muda, ia adalah pianis yang berbakat, populer di antara orang-orang penting dan kaya di Wina, Austria, tempatnya tinggal. Ia dibabtis pada tanggal 17 Desember 1770, di Bonn. Pangeran Bonn, Franz Xaver Stelker menunjuk Beethoven sebagai wakil Neefe dalam bermain organ dan harpsikord. Pada 1783, Beethoven menerbitkan tiga sonata yang didekasikan kepada Pangeran Franz, tapi karena ia belum mendapatkan gaji dari pekerjaannya, Beethoven meminta untuk menjadi wakil Neefe secara resmi. Permohonan ini dikabulkan pada tahun 1784. Pada 1785, Beethoven menggubah tiga trio piano untuk pangeran namun karya ini tak diterbitkan sampai Beethoven meninggal. Pada saat yang sama, Beethoven belajar musik pada Franz Ries.

Namun, pada tahun 1801, ia mulai menjadi tuli. Pada pertengahan 1801, Beethoven menyadari bahwa daya pendengarannya mulai berkurang akibat otoslerosis. Karena penyakit ini, Beethoven menjadi depresi dan dia menjadi semakin minder dalam pergaulan sosial. Salah satu alasan lain depresinya Beethoven adalah karena ia tak berhasil mendapatkan ‘teman hidup’. Banyak wanita bangsawan yang sering dicintainya namun umumnya cintanya bertepuk sebelah tangan.

Ketuliannya semakin parah dan pada 1817 ia menjadi tuli sepenuhnya. Meskipun ia tak lagi bisa bermain dalam konser, ia terus mencipta musik, dan pada masa ini mencipta sebagian karya-karyanya yang terbesar. Ia menjalani sisa hidupnya di Wina dan tak pernah menikah. Beethoven wafat pada tanggal 26 Maret 1987, di Winna.

 

Sumber: www.WikipediaIndonesia.com Ludwig_van_Beethoven. Diakses: 05/04/08.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.