<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Agnesnorma's Weblog</title>
	<atom:link href="http://agnesnorma.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agnesnorma.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 May 2011 00:31:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='agnesnorma.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Agnesnorma's Weblog</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://agnesnorma.wordpress.com/osd.xml" title="Agnesnorma&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://agnesnorma.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>&#8220;Tempura Goreng&#8221; yang Menyiksaku</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/05/12/tempura-goreng-yang-menyiksaku/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/05/12/tempura-goreng-yang-menyiksaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 00:31:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[pengalamanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu saya melakukan sebuah kesalahan yang agak &#8216;bodoh&#8217;. Cincin yang biasanya saya gunakan di jari manis tangan kiri saya, saya paksa masukkan ke jari manis tangan kanan saya. Masuk sih masuk, tapi ternyata gak bisa keluar lagi. hohoho&#8230;  Sepuluh menit berlalu saya paksa benda ini lepas dari jari saya, tapi nihil, yang ada jari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=137&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sore itu saya melakukan sebuah kesalahan yang agak &#8216;bodoh&#8217;. Cincin yang biasanya saya gunakan di jari manis tangan kiri saya, saya paksa masukkan ke jari manis tangan kanan saya. Masuk sih masuk, tapi ternyata gak bisa keluar lagi. hohoho&#8230;  Sepuluh menit berlalu saya paksa benda ini lepas dari jari saya, tapi nihil, yang ada jari saya bertambah bengkak dan merah juga panas. Bentuknya sudah seperti tempura goreng, hehehe&#8230;. Sejak itu saya biarkan hingga keesokan harinya. Bangun tidur, saya merasakan sakit yang luar biasa. Jari saya semakin bengkak, mungkin aliran darah yang tidak lancar dan tertekan. Karena saya harus berangkat kerja, akhirnya saya biarkan saja. Selama saya kerja, saya benar-benar menahan sakit hingga saya pulang kerja. Sepulang kerja, saya menelpon ayah saya dan ia menyuruh saya merendam jari saya dengan es batu selama mungkin. Percuma. Itu kata yang saya ucapkan. Hampir 45 menit saya merendam jari saya sampai beku. Saya olesi minyak sayur, minyak tawon, sabun mandi, sabun cuci, tapi semua sia-sia. Karena tak tahan dengan rasa sakit itu, saya disuruh ayah saya ke ugd rumah sakit. RS pertama yang saya kunjungi tidak bisa menangani masalah saya. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya bawa ke UGD salah satu Rumah Sakit swasta di BSD. Di sana saya mendapatkan sambutan yang ramah dan baik oleh perawat di situ. Tak lama pak dokter datang melihat kondisi jari saya. Setelah tahu duduk permasalahan saya, dokter tersebut menyuruh perawat mengambil &#8220;tang dewa&#8221;. Tang tersebut fungsinya untuk memotong benda keras, seperti cincin. Panjang sekitar 50cm lebih. busyettt&#8230; Tang terbesar dan terpanjang pertama yang pernah saya lihat. Sang dokter langsung mengambil keputusan untuk memotong&#8230;.hmmmm&#8230;.cincin saya (yang jelas bukan jari saya yang jadi korban untuk dipotong, heheh).</p>
<p>Berhasil&#8230;berhasil&#8230;HOREEE&#8230; Rasanya bukan main legaaanyaa&#8230;.makcesss&#8230; Cincin itupun lepas dari jari saya. Ketika saya akan membayar, dokternya bilang &#8220;gak usah, Mbak, pulang saja&#8221;. Saya pun mengucapkan terima kasih sekali untuk pak dokter malam itu (senin, 9 mei 2011, jam 19.30 wib). Semoga kebaikan hatimu terbalas. Sayangnya saya lupa menanyakan nama dokter jaga malam itu. Terima kasih deh pokoknya buat pak dokter, buat RS tersebut juga, terima kasih, jari saya bisa terselamatkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=137&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/05/12/tempura-goreng-yang-menyiksaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dia, si Kartini Keluarga</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/04/21/dia-si-kartini-keluarga/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/04/21/dia-si-kartini-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 02:06:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 21 April selalu dirayakan sebagai hari Kartini. Hari untuk mengenang jasa pahlawan bagi kaum perempuan. Dia adalah Kartini. Setiap tahun, hari Kartini selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang berbau adat dan kedaerahan. Mulai dari mengenakan pakaian adat, lomba berbusana adat, lomba berpuisi, dan sebagainya. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya di seluruh kalangan masyarakat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=128&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 21 April selalu dirayakan sebagai hari Kartini. Hari untuk mengenang jasa pahlawan bagi kaum perempuan. Dia adalah Kartini. Setiap tahun, hari Kartini selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang berbau adat dan kedaerahan. Mulai dari mengenakan pakaian adat, lomba berbusana adat, lomba berpuisi, dan sebagainya. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya di seluruh kalangan masyarakat di Indonesia, baik kalangan formal maupun informal. Semua wanita bisa menginspirasi menjadi Kartini bagi siapa saja. Bagi saya setiap wanita di mata saya adalah seorang Kartini. Setiap wanita berperan sesuai dengan perannya. Ibu, misalnya. Bagi saya Ibu adalah Kartini di keluarga saya. Ia tak hanya mengurus kebutuhan suami dan anaknya, namun juga memikirkan segala hal dalam keluarga. Tak ada Ibu, pekerjaan rumah bisa kacau, tak ada ibu semua keluarga kelaparan karena tak ada yang memasak, tak ada ibu, rumah tak kan rapi. Begitulah sosok ibu bagi saya. Si Kartini keluarga.</p>
<p>Tak hanya ibu, nenekku pun adalah Kartini yang tangguh. Sore itu di sudut ruang rumah itu, ku lirik raut dan garis mata tua itu dengan kacamata di hidungnya dan sebuah pena dan buku TTS sambil sesekali menyerngitkan alisnya, seolah-olah serius dan berfikir. Sangat lekat dalam ingatku bahwa buku yang berisi deretan kotak-kotak kosong itulah satu-satunya hiburan di waktu senggangnya selain sinetron di televise di kala malam. Chatarina Sumarmi, namanya. Seorang ibu sekaligus ayah bagi kelima anaknya. Cucunya sudah sebelas, layaknya jumlah grup sepak bola.</p>
<p>Hamper 40 tahun sudah ia lalui seorang diri tanpa sosok seorang suami. Namun, kesendiriannya tak menjadi penyurut serta penghalang semangatnya untuk terus maju dan <em>survive</em>. Ia benar-benar membesarkan kelima anaknya dengan peluh dan upayanya seorang diri. Perjuangannya tak habis di situ. Ia terus berjuang menjadikan kelima anaknya menjadi “orang”. Sejak anak-anaknya masih kecil, ia sudah mengajarkan bagaimana mencari sebutir nasi. Anaknya ada yang ia suruh menjajakan jajanan hasil buatannya, ada pula yang mengamen, menjadi kondektur bus, ada juga yang menjadi pengisi acara (MC) di beberapa acara. Semua anaknya lakukan untuk menyambung hidup mereka. Sungguh perjuangan yang tak ada habinya.</p>
<p>Kini kelima anaknya telah dewasa dan berumah tangga. Ini membuat ia bahagia karena seluruh anaknya bisa bekerja dengan layak. Sosok wanita ini menjadi inspirasi bagi anak dan cucunya juga tetangga sekitarnya. Ia menjadi Kartini bagi kelima anaknya, bahkan sosok ayah pun ia lakoni. Tetaplah menjadi Kartini keluarga dan masyarakat. We love u… SELAMAT HARI KARTINI IBUKU, MBAHKU, BUDHEKU, BULIKKU, MBAKKU, ADIKKU, dan untukku. Jadilah si Kartini yang tangguh. Menjadi terang bagi sang malam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=128&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/04/21/dia-si-kartini-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Cerita Cinta Untukmu, IBU</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/03/17/sepenggal-cerita-cinta-untukmu-ibu/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/03/17/sepenggal-cerita-cinta-untukmu-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 05:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[KASIH IBU Kasih ibu, kepada beta tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi, tak harap kembali, Bagai sang surya, menyinari dunia. Sering ku alunkan lagu ini untukmu IBU. Lagu terindah yang pernah ada untuk seorang ibu. Sebuah lagu yang sangat mewakili betapa besar kasih seorang ibu. Ibu adalah seorang yang melahirkan kita di dunia ini dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=124&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>KASIH IBU</strong></p>
<p style="text-align:center;">Kasih ibu,<br />
kepada beta<br />
tak terhingga sepanjang masa</p>
<p style="text-align:center;">Hanya memberi,<br />
tak harap kembali,<br />
Bagai sang surya, menyinari dunia.</p>
<p>Sering ku alunkan lagu ini untukmu IBU. Lagu terindah yang pernah ada untuk seorang ibu. Sebuah lagu yang sangat mewakili betapa besar kasih seorang ibu.</p>
<p>Ibu adalah seorang yang melahirkan kita di dunia ini dan tanpanya kita tak kan pernah ada.</p>
<p>Kasih ibu kepadaku sangat luar biasa. Ia merawatku ketika ku masih menjadi janin. Ketika ku masih belum berbentuk. Sembilan bulan lamanya ia membawa beban yang tak ringan di perutnya. Tak ada keluh sekecap pun keluar dari ucapnya. HEBAT. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Demi kehadiranku di dunia, ia benar-benar rela melakukan apapun bahkan nyawanya sekalipun.</p>
<p>Ibu, aku tak pernah mendengarmu meminta balas atas budimu kepadaku. Tapi aku, Ibu, aku selalu meminta balas atas budiku padamu dan kau memberinya. Malu aku akan diriku.</p>
<p>Ibu, setiap hari peluhmu kau curahkan hanya untuk anak-anakmu. Kau hebat. Tak hanya mau berdiam di rumah, namun kau pun bekerja untukku. Guru, itulah profesimu. Sesuai dengan jiwamu, TANPA TANDA JASA. Bangga aku akan engkau, bu. Kau pandai mendidikku dan adik-adikku. Lincah gerakmu tak menyurutkan semangatmu. Tak pernah lelah mengisi waktumu.</p>
<p>Oh ibu, pengorbanan akan cintamu tak kan pernah terganti. Pagi, siang, sore, malam, kau selalu menjaga agar aku tak lapar, melawat ketika ku sakit, menghibur ketika dukaku. Lucu sifatmu selalu menggelitik bibirku untuk tertawa. Tak pernah kau tampakkan kesedihanmu, bebanmu, marahmu, pada anak-anakmu. Sungguh, tak pernah ku lihat itu. Garis matamu tak pernah bohong, kau sediakan suka cita untuk anak-anakmu.</p>
<p>Kala kejenuhan melandamu, kau menutupnya dengan candamu. Sesekali kau alunkan melodi dan lirik indah untukku. Suaramu mengalun merdu. Menghiburku. Kau petikkan gitar dengan merdu.</p>
<p>Chatarina Mardiyani, begitu indah namanya. Semangatmu menginspirasiku. Aku ingin seperti ibu. Ibu yang perkasa. Ibu yang tangguh. Ibu yang penyayang. Ibu yang pandai. Ibu yang sabar. Ibu yang ceria. Ibu yang luar biasa. Bersyukur aku memilikimu ibu. Bersyukur aku akan kasihmu.</p>
<p>Satu hal yang selalu kau pesan. Jadilah kebanggaan keluarga. Jadilah anak ibu yang luar biasa. Kepakkan sayapmu dan hiasi dunia. Jangan pernah lelah dan mengeluh. Selalu semangat dan BERDOA.</p>
<p>Kelak ibu, ku kan menjadi “orang” dan merawatmu di tua nanti. Terima kasih. Hanya itu yang bisa ku balas untukmu ibu. Terima kasih telah membentukku menjadi wanita yang dewasa, kuat, dan mengerti akan kasih. Terima kasih tak terhingga untukmu. Terima kasih untuk segala waktumu, tenagamu, peluhmu, jerih payahmu, senyummu, candamu, tangismu, dan doamu. TAK KAN TERGANTI.</p>
<p>Panjang umur, selalu sehat dan  bahagia. Itulah doaku yang paling tulus untukmu, IBU.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://agnesnorma.files.wordpress.com/2011/03/ibu.jpg"><img title="ibu" src="http://agnesnorma.files.wordpress.com/2011/03/ibu.jpg?w=118&#038;h=300" alt="Chatarina Mardiyani" width="118" height="300" /></a></p>
<p><em>(Sepenggal cerita cinta untuk ibuku yang berulang tahun ke-46, 28 Februari 2011&#8212; maaf baru ku posting ^.^v AKU SAYANG IBU, muachhhh)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=124&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2011/03/17/sepenggal-cerita-cinta-untukmu-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agnesnorma.files.wordpress.com/2011/03/ibu.jpg?w=118" medium="image">
			<media:title type="html">ibu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahabat Sejati</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/30/sahabat-sejati/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/30/sahabat-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 07:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran&#8221;, (Amsal 17:17). Ada kata-kata mutiara yang dapat mewakili arti sahabat yang sesungguhnya; &#8211;&#62; Teman memberimu senyuman, namun sahabat memberimu kebahagiaan. &#8211;&#62; Teman akan menceritakan yang tidak benar tentang dirimu, namun sahabat akan tutup mulut dengan kesalahanmu. &#8211;&#62; Teman hanya menerima kelebihanmu, namun sahabat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=113&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>&#8220;Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran&#8221;, (Amsal 17:17).</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>Ada kata-kata mutiara yang dapat mewakili arti sahabat yang sesungguhnya;</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>&#8211;&gt; Teman memberimu senyuman,</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>namun sahabat memberimu kebahagiaan.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8211;&gt; Teman akan menceritakan yang tidak benar tentang dirimu,</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>namun sahabat akan tutup mulut dengan kesalahanmu.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8211;&gt; Teman hanya menerima kelebihanmu,</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>namun sahabat akan menerima kekuranganmu.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>&#8211;&gt; Seribu teman akan datang saat kamu tertawa bahagia, namun seorang sahabat akan datang saat kamu  berderai air mata.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong>Temukanlah sahabat sejatimu!<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=113&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/30/sahabat-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indah Rasamu&#8230;.</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/21/indah-rasamu/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/21/indah-rasamu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 14:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Indah Rasamu&#8230;. By: Norma Kristiani tergolek nisan&#8230; tanpa penghuni&#8230; seonggok batu dan nama, hisaan dan hanya kenangan&#8230; indah dan hanya mebius asa, perih membuai rasa&#8230; keterpurukanmu tak menghalau masamu.. sudah, biar, hilang&#8230;. tak ayal, kunang-kunang menyinari gelap, mentari menutup kelam&#8230; hmmm&#8230;indah&#8230; kan terkenang masamu di detakku, kan mengalir di nadiku, hanya sang angin membawa kabar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=104&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Indah Rasamu&#8230;.</p>
<p style="text-align:center;">By: Norma Kristiani</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">tergolek nisan&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">tanpa penghuni&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">seonggok batu dan nama,</p>
<p style="text-align:center;">hisaan dan hanya kenangan&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">indah dan hanya mebius asa,</p>
<p style="text-align:center;">perih membuai rasa&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">keterpurukanmu tak menghalau masamu..</p>
<p style="text-align:center;">sudah, biar, hilang&#8230;.</p>
<p style="text-align:center;">tak ayal, kunang-kunang menyinari gelap, mentari menutup kelam&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">hmmm&#8230;indah&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">kan terkenang masamu di detakku,</p>
<p style="text-align:center;">kan mengalir di nadiku,</p>
<p style="text-align:center;">hanya sang angin membawa kabar yang kan mengerti,</p>
<p style="text-align:center;">hanya sang fajar yang mengirim kehangatan di relungku yang kan mematri&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">hmmm&#8230;indah&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">ku kenang..</p>
<p style="text-align:center;">kau&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">yang menghias pelangiku&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=104&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/21/indah-rasamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINGKASAN BUKU</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-buku/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 14:12:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[RESENSI BUKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[RINGKASAN BUKU A. Identitas Buku Judul : Ilmu Pragmatk (Teori dan Penerapannya) Pengarang : Prof. Dr. P. W. J. Nababan Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Terbit : 1987 Kota Terbit : Jakarta Jumlah Halaman : 92 halaman B. Ringkasan Buku : BAB 1 PENDAHULUAN Pragmatic secara lebih luas lagi untuk “aturan-aturan pemakaian bahasa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=92&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>RINGKASAN BUKU</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong><br />
</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>A. Identitas Buku</strong></span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Judul			: 	Ilmu Pragmatk (Teori dan Penerapannya)</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pengarang		: 	Prof. Dr. P. W. J. Nababan</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Penerbit		: 	Departemen Pendidikan dan Kebudayaan</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Tahun 	Terbit		: 1987</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Kota 	Terbit		: Jakarta</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Jumlah 	Halaman	: 92 halaman</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>B. Ringkasan Buku		:</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB 1</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>PENDAHULUAN</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pragmatic secara lebih luas lagi untuk “aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Secara singkat, dapat diketahui bahwa setiap bahasa memiliki subsistem kinesik, paralinguistic, dan proksemik yang sedikit banyak berbeda. Levison (1983) memberikan lima definisi dari ilmi pragmatic, dua diantaranya adalah:</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">pragmatic 	ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari 	penjelasan pengertian bahasa. </span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">pragmatic 	adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan 	kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi 	kalimat-kalimat itu.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pragmatic sebagai ilmu, dan dengan demikian juga bahan pelajarannya, bersumber pada ilmu-ilmu lain yang juga mengkaji bahasa dan factor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa secara wajar. Ilmu-ilmu itu ialah:</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">a. Falsafah bahasa, terutama dengan teori Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">b. Sosiolinguistik</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">c. Antropologi</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">d. Etnografi Berbahasa</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">f. Linguistik, terutama Analisis Wacana dan Teori “Dieksis” atau Rujukan.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB II</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>VARIASI BAHASA</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ada empat macam variasi bahasa tergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam bahasa itu. Ke empat kategori factor-faktor itu ialah sebagai berikut:</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Factor-faktor 	geografis </span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Faktor-faktor 	kemasyarakatan</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Faktor-faktor 	situasi berbahasa</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Factor-faktos 	waktu</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ragam bahasa yang berhubungan dengan daerah tempat penuturnya disebut dialek.perbedaan dialek terdapat pada seluruh aspek bahasa: fonologi, ejaan dan lafal, morfologi dan sintaksis, kosakata dan peribahasa, dan juga dalam bentuk pragmatic.  Ragam bahasa yang berkaitan dengan golongan sosial penutur-penuturnya disebut sosiolek. Sosiolek yang diajarkan di Indonesia adalah “sosiolek terpelajar”. Kelompok ragam bahasa yang ketiga berkaitan dengan situasi berbahasa. Siapa-siapa pemeran serta berbahasa itu serta topic dan jalur. Berbahasa itu.dari factor-faktor tersebut, dikembangkan apa yang disebut ragam-ragam fungsional atau situasional, yang kita sebut di sini fungsiolek. Martin Joos, seorang linguis Amerika, membagi ragam fungsiolek ini menjadi lima subragam, yaitu: subragam beku, resmi, usaha, santai, dan subragam akrab.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ragam yang ke empat ialah yang berhubungan dengan perubahan bahasa dalam berlalunya waktu. Ragam ini disebut ragam kronolek. Ragam bahasa dalam pengajaran berbahasa bertujuan memperkenalkan berbagai bentuk bahasa kepada pelajar dan membantunya memperoleh keterampilan mengerti dan menggunakan berbagai bentuk dan ragam bahasa itu untuk berbagai ragam komunikasi dalam berbagai situasi berbahasa. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB III</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Tindak Bahasa</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pengkajian tentang pragmatic yang paling menarik dan kelihatan relevan sekali dengan pengajaran bahasa dan belajar bahasa. Menjelang abad ke-20 ini semakin disadari orang bahwa sukarr sekali dipisahkan makna bahasa dan penggunaannya, sehingga timbulah pernyataan “makna bahasa adalah penggunaan bahasa itu” dalam pandangan aliran yang disebut “logical positivism”.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Austin mengatakan bahwa secara analitis dapat kita pisahkan tiga macam tindak bahasa yang terjadi secara serentak, yaitu:</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">a. tindak lokusi</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">b. tindak ilokusi</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">c. tindak perlokusi</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> sesuatu ungkapan yang dipakai menidentifikasikan sesuatu benda, proses, kejadian, tindakan, atau sesuatu individu disebut suatu ungkapan rujukan. Ungkapan ini menhunjuk kepada hal-hal tertentu. Rujukan tertentu ditnadai oleh “itu” di belakang ungkapan rujukan itu, missal, orang itu. Sedangkan rujukan taktertentu ditandai oleh kata penggolongan seperti seorang, sebuah, selembar.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Teori tindak tutur bahasa menimbulkan dua macam pendapat tentang hubungan tindak bahasa ini dengan teori dan pengkajian bahasa, yang disebutmtesis keterpulangan, atau disederhanakan menjadi tesis saja dan lawannya antithesis. Tesis ini mengatakan bahwa tindak bahasa tidak dapat dipulangkan kepada persoalan benar dan tak benar. Antithesis itu mengatakan sebaliknya bahwa makna ilokusi itu dapat dipulangkan kepada sintaksis dan semantic.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB VI</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>IMPLIKATUR PERCAKAPAN</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir:</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Konsep 	implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas  	fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Konsep 	implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang 	bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda 	dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan 	yang dimaksud.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Konsep 	implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic 	dari perbedaan hubungan antar klausa, walaupun klausa itu 	dihubungkan dengan kata struktur yang sama.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Konsep 	implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar 	implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara 	lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Grice (1957, juga dalam Steinberg &amp; Jakobovits, 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Menurut Grice, terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan, yaitu: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial, estetis, atau susila/moral. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut:</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sesuatu 	implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Biasanya 	tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih 	mempertahankan implikatur yang bersangkutan.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Implikatur 	percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti 	konvensional dari kalimat yang dipakai.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Kebenaran 	dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada 	kebenaran akan yang dikatakan.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB V</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>TEORI DIEKSIS</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dalam linguistic telah kita bertemu dengan istilah rujukan atau referensi, yaitu kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan. Dalam dieksis orang, yang menjadi criteria ialah peran peserta dalam peristiwa bahasa itu, yakni kategori orang pertama, kedua dan ketiga. Dieksis tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang dipandang dari lokasi orang dalam peristiwa bahasa itu.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dieksis waktu adalah pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang dari waktu suatu ungkapan dibuat, yaitu sekarang, kemarin, dulu, besok, dan lain-lain.dieksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan dan atau yang sednag dikembangkan. Dieksis sosila menunjukkan perbedaan-perbedaan kemasyarakatan yang terdapat antara peran-peran peserta, terutama aspek peran sosial antara pembicara dan pendengar dan antara pembicara dengan rujukan/referensi yang lain. Gejala kebahasaan yang didasarkan pada sikap sosial terhadap orang atau peristiwa disebut eufemisme. Dieksis sejati adalah kata/frasa yang artinya dapat ditenagkan seluruhnya dengan konsep dieksis. Sedangkan dieksis taksejati adalah kata/frasa yang atinya hanya sebgaian fungsinya adalah non-dieksis.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB VI</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>PRAANGGAPAN</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Implikatur merupakan salah satu persyaratan yang memungkinkan saling mengerti dalam interaksi komunikasi. Oleh karena implikatur itu didasarkan pada hubungan kerja sama antar pemeran dalam situasi dan konteks berbahasa, maka ia disimpulkan secara pragmatic bukan semantic dan sintaktik. Praanggapan adalah penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa mempunyai makna bagi penerima bahasa itu, dan membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Konsep praanggapan ini berasal dari perdebatan dalam ilmu falsafah khususnya tentang hakikat rujukan dan ungkapan-ungkapan rujukan. Seiring dengan pelepasan konsep praanggapan semantiuk itu, bermunculah beberapa teori  praanggapan pragmatic yang menggunakan factor-faktor dan konsep pragmatic dalam definisi praanggapanya, yang biasanya menggunakan dua konsep dasar, yakni: kewajaran dan pengetahuan bersama.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB VII</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>ANALISIS WACANA</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Analisis wacana adalah istilah yang berganda makna oleh karena cakupannya luas dan belum begitu lama ini dikaji secara serius oleh para linguis dan ahli-ahli ilmu soail lainnya. Dua perkembangan dalam kajian atau analisis wacana, yaitu: yang pertama ialah berusaha membuat analisis struktur suatu wacana lisan atau tertulis yang terjadi atau dilakukan secara alamiah, yaitu kegiatan berkomunikasi normal, sedangkan yang kedua ialah yang berusaha mengkaji bahasa dalam penggunaan dalam konteks sosial, khususnya pertukaran ujaran antara pembicara dan lawan bicara, dengan kata lain bahasa dalam interaksi. Kalau kita hendak menganalisis atau mengkaji penggunaan bahasa atau bahasa yang dipakai untuk interaksi komunikasi secra nyata, dapat kita mengkajinya dalam bentuk lisan maupun tertulis. Bahasa yang digunakan itu dapat disebut teks dan bahasa lisan yang dipakai itu disebut wacana. Van Dyk (1977), menyatakan bahwa hubungan teks dengan wacana sama dengan hubungan kalimat dengan ujaran. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>BAB VIII</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Analisis keadaan pengajaran bahasa Indonesia menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pengajaran dan bahan pengajaran. Tujuan pengajaran dalam kurikulum 1975, ialah “keterampilan berbahasa Indonesia”. Pada permulaan dasawarsa 10970-an berkembang suatu pemikiran yang timbul dari kurang puasnya  orang dengan hasil pengajaran bahasa secara structural, yang membuat orang sanggup membuat bentuk-bentuk bahasa menurut pola-pola yang dilatihkan tetapi belum tentu dapat menggunakannya. Satu gagasan yang timbul adalah yang disebut pendekatan kognitif yang menekankan keterampilan mengerti dan menggunakan aturan-aturan pembentukan kalimat-kalimat yang bermakna.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dalam pembicaraan di atas, kita memakai istilah pragmatic secra lebih luas lagi untuk “aturan pemakaian bahasanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang sesuai konteks dan keadaan. Bentuk-bentuk yang berbeda itu disebut ragam bahasa. Ada empat macam variasi bahasa bergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam itu. Keempat factor itu adalah;</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Factor 	geografis</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Factor-faktor 	kemasyrakatan</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Factor-faktor 	situasi berbahasa</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Factor-faktor 	waktu</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Orientasi belajar mengajar bahasa berdasarkan tugas dan fungsi berkomunikasi ini disebut pendekatan komunikatif. Dalam pendekatan ini, bentuk bahasa yang dipakai selalu dikaitkan dengan factor-faktor penentu di atas. Ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dengan factor-faktor penentu itu disebut ilmu pragmatic.unsur-unsur bahasa meliputi lafal/ejaan, struktur, dan kosa kata, sedangkan kegiatan berbahasa meliputi membaca, menulis/mengarang, berbicara, dan pragmatic.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Keterampilan pragmatic dipelajari melalui dua jalur, yaitu jalur formal, dan non-formal.dalam belajar bahasa asing, keterampilan pragmatic ini dapat dipelajari hanya melalui cara formal oleh karena para pelajar tidak mempunyai kesempatan untuk memperolehnya secara informal. Diperlukan juga bahan-bahan pengajaran yang berorientasi keterampilan pragmatic, artinya materi pembelajaran yang melibatkan konteks dan situasi dalam pengembangannya dan penyajiannya. Pendekatan pragmatic yang diterapkan dalam pengajaran bahasa asin bergantung pada tujuan pembelajaran yang mencakup keterampilan menggunakan bahasa asing itu, tulisan dan/atau lisan. Tujuan pembelajaran ditentukan oleh sekolah. Tujuan pembelajaran dapat ditentukan dengan berbagai cara/factor, yaitu: kemauan dan pemikiran yang mempunyai sekolah, hasil suatu analisi kebutuhan, keinginan pelajar, dan lain-lain.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>C. Kelebihan Buku	:</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Buku ini berisi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu pragmatic. Isinya sudah lengkap dan mencakup seluruh ilmu pragmatic. Tidak lupa, Nababan juga mencantumkan contoh-contoh yang juga membantu pembaca lebih memahami isi buku. Nababan juga membandingkan dengan bahasa Inggris juga contoh-contohnya. Selain itu juga membubuhkan bahan bacaan sebagai penunjang isi dari buku ini. Sumber yang digunakannya pun sangat lengkap dan rinci.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>D. Kekurangan Buku	:</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Buku yang ditulis oleh Nababan ini selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Di sini bahasa yang digunakan masih sulit dipahami, ejaannya pun masih kurang baik. Contoh-contonya kebanyakan contoh dari bahasa asing. Nababan juga kurang teliti dalam penyusunan kalimat. Masih banyak pemborosan kata dan justru membingungkan. Kertas yang digunakan pun masih menggunakan kertas buram. Cover buku ini masih sederhana dan kurang menarik.</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=92&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINGKASAN JURNAL</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-jurnal-2/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-jurnal-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 14:12:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[RESENSI BUKU]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[RINGKASAN JURNAL A. Identitas Jurnal : Judul               : Pragmatik dan Aspek-Aspeknya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia Pengarang      : Sudaryanto Penerbit          : Cakrawala Pendidikan Tahun terbit   : 1996 Edisi               : Nomor 1, Tahun XV, Februari 1996 Halaman        : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=94&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>RINGKASAN JURNAL</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>A. Identitas Jurnal	: </strong></span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Judul              			: Pragmatik dan Aspek-Aspeknya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pengarang     	: 	Sudaryanto</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Penerbit         	: 	Cakrawala Pendidikan</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Tahun 	terbit  	: 1996</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Edisi              		: 	Nomor 1, Tahun XV, Februari 1996</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Halaman        : 	Halaman 69 – 85</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>B. Ringkasan 		:</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>PRAGMATIK DAN ASPEK-ASPEKNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Oleh: Sudaryanto</strong></span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pendahuluan</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ketrampilan Bahasa Indonesia yang masih rendah atau belum sesuai dengan yang diharapkan memang sering dijumpai, baik dengan melihat secara sepintas maupun melalui penelitian-penelitian. Mendikbud Wardiman Djoyonegoro mengatakan bahwa kemampuan atau budaya baca bangsa Indonesia masih rendah (Kompas, 30 mei 1995). Mendikbud mengatakan pula bahwa berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik, sekitar 27 juta penduduk Indonesia belum memahami bahasa Indonesia (Kompas, 30 Maret 1995). Adanya kondisi seperti tersebut di atas tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kekurangberhasilan pengajaran Bahasa Indonesia.</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pendekatan 	Pragmatik atau Komunikatif?</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Menurut Morris dalam Gazdar 91979 : 85) bahwa pragmatik merupakan salah satu bagian dari telaah isyarat-isyarat atau tanda-tanda bahasa. Menurutnya dikatakan bahwa isyarat-isyarat bahasa, dalam pengkajiannya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :</span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">sintaktik</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">semantik</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">pragmatik.</span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Menurut Nababan (1987 : 2) yang dimaksud dengan Pragmatik ialah aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaanya. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Menurut Leech (1983), yang dimaksud dengan pragmatik adalah suatu kajian bahasa yang berusaha menemukan makna-makna ujaran yang disesuaikan dengan situasi. Sedangkan menurut </span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><em>International Pragmatics Association</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"> (IPRA) yang dimaksud dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo, 1987 : 3).</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Hakikat 	Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pada Kurikulum 1984 maupun pada Kurikulum 1994, dinyatakan bahwa aspek-aspek pragmatik digunakan untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh penutur, yang meliputi :Untuk menyatakan 			informasi faktual (mengidentifikasi, melaporkan, menanyakan, 			mengoreksi);</span></span></p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="a"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">a. 			Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi, melaporkan, 			menanyakan, mengoreksi);</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">b. 			Menyatakan sikap intelektual (menyatakan setuju atau tidak setuju, 			menyanggah dan sebagainya);</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">c. 			Menyatakan sikap emosional (senang, tak senang, harapan, kepuasan 			dan sebagainya;</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">d. 			Menyatakan sikap moral (meminta maaf, menyatakan penyesalan, 			penghargaan dan sebagainya);</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">e. 			Menyatakan perintah (mengajak, mengundang, memperingatkan dan 			sebagainya);</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">f. 			Untuk bersosialisasi (menyapa, memperkenalkan diri, menyampaikan 			selamat, meminta perhatian dan sebagainya), GBPP Kurikulum 1994 : 			19).</span></span></ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Oleh karena dewasa ini yang digunakan GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia Kurikulum 1994, uraian selanjutnya lebih dititikberatkan pada GBPP tersebut, yaitu diantaranya seperti di bawah ini :</span></span></p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol type="a">
<li>
<ol><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">a. 				Fungsi bahasa untuk menyatakna informasi faktual</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">b. 				Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap intelektual</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">c. 				Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap emosional</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">d. 				Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap moral</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">e. 				Fungsi bahasa untuk menyatakan perintah</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">f. 				Fungsi bahasa untuk menyatakan bersosialiasi</span></span></ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bahasa tadi, Halliday (1973) membaginya menjadi : </span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	instrumental</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	regulais</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	representasional</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	interaksional</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	personal</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	heuristik</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	imajinatif.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Popper (dalam Leech, 1983 : 49) mengelompokkan fungsi bahasa menjadi :</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	ekspresif</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	informatif</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	deskriptif</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Fungsi 	argumentatif.</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Nababan (1987 : 13) yang mendasarkan diri dari pandangan Martin Joos mengenai ragam fungsiolek, membagi fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan gaya bahasa (style) menjadi :</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">ragam 	beku</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">ragam 	resmi</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">ragam 	usaha</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">ragam 	santai</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">ragam 	akrab</span></span></li>
</ol>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pengajaran 	Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Aspek-aspek pragmatik diantaranya sebagai berikut :</span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Aspek 		sosialisasi</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Aspek 		intelektual</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Aspek 		menyelenggarakan sesuatu atau aspek perintah</span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Ditinjau dari penyajian aspek-aspek pragmatik yang terdapat di dalamnya, ternyata buku-buku yang berlandaskan pada GBPP Kurikulum 1994 lebih bersifat atau sesuai dengan pendekatan prgamatik komunikatif dibandingkan dengan buku-buku yang disusun berdasarkan GBPP Kurikulum 1994.</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Penutup</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Berdasarkan uraian-uraian di atas jelaslah bahwa pengajaran aspek-aspek pragmatik atau fungsi-fungsi bahasa mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>C. Kelemahan	:</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Jurnal ini berisi tentang ilmu pragmatic dan aspek-aspeknya dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Isinya sangat baik karena member pengalaman baru dan ilmu baru bagi pembacanya. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami, tidak terlalu panjang namun isinya sudah berbobot. Susunan paragraph dan isinya pun sudah baik. Sumber yang digunakan sudah banyak dan baik.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>D. Kekurangan	:</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Selain memiliki kelebihan, jurnal ini pun memiliki kelemahan, namun hanya sedikit. Banyak terdapat kata-kata asing yang tidak semua pembaca paham. Contoh-contohnya masih kurang banyak.</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=94&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-jurnal-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINGKASAN JURNAL</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-jurnal/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-jurnal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 14:11:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[RESENSI BUKU]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[RINGKASAN JURNAL A. Identitas Jurnal : Judul              : Pengajaran Pragmatik Pengarang     : Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi Penerbit         : Arena Almamater Tahun Terbit : 1991 Edisi               : Januari-Maret 1991 Halaman        : halaman 50-61 B. Ringkasan Jurnal : PENGAJARAN PRAGMATIK Oleh: Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi Pragmatik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=97&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-align:center;"><strong>RINGKASAN JURNAL</strong></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>A. Identitas Jurnal	:</strong></span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Judul	            	: 	Pengajaran Pragmatik</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pengarang    	: 	Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Penerbit        	: 	Arena Almamater</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Tahun 	Terbit	: 1991</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Edisi              		: 	Januari-Maret 1991</strong></span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Halaman       	: 	halaman 50-61</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>B. Ringkasan Jurnal	:</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>PENGAJARAN PRAGMATIK</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Oleh: Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pragmatik Sebagai Cabang Ilmu Bahasa</strong></span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pengantar</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Menurut sejarahnya pragmatik dari kata Yunani pragma yang berarti tindakna sebagia ilmu pertama-tama muncul di dalam dunia filsafat. Filsafat pragmatisme adalah pemikiran tentang bagaimana manusia harus bertindak (Keraf, 1987). Pemikiran ini bersifat praktis, atau berkaitan dengan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Filsafat yang memiliki nilai praktis ini mempengaruhi pemikiran tentang bahasa pula.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dengan demikian pragmatik sebagai ilmu merupakan cabang linguistik yang bidang kajiannya bukan bunyi dan bentuk bahasa, bukan pula makna bahasa, melainkan fungsi bahasa. Kajian makna secara semantis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat (termasuk makna kata atau klausa) secara abstrak atau kalimat yang bebas-konteks, sedangkan kajian makna secara pragmatis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat atau konteks. Kalimat dalam konteks inilah yang disebut tuturan atau ujaran.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Hymes (1972) diakronimkan SPEAKING (setting dan scene; participans; ends; purpose dan goal; act sequences; keys; tone or spirit of act; instrumentalities, norms; norms of interactions dan interpretation; dan genres). Konteks berisi unsur pembicara melakukan komunikasi kepada mitra bicara dalam situasi, tempat, dan waktu tertentu, tentang sesuatu (topik) yang tertentu, dengan tujuan dan efek tertentu, dan cara atau jalur tertentu, dengan norma atau kaidah komunikasi tertentu dan dengan ragam bahasa tertentu. </span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pragmatik 	sebagai Bahan Kajian Ilmu Bahasa</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bambang Kaswanti Purwo (1990) membedakan bahan kajian menjadi dua : </span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bahan 		kajian linguistik </span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bahan 		pengajaran bahasa</span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Sebagai bahan kajian linguistik pragmatik mengkaji :</span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">deiksis</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">praanggapan 	atau praduga (presupposition)</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">tindak 	ujaran atau tindak tutur (speech acts) </span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">implikatur 	percakapan (convensational implicature) (1990 : 17)</span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bahan kajian (1) mengacu bahan kajian yang berupa kata-kata yang rujukannya atua referennya berpindah-pindah (Purwo, 1984, 1990).</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Nababan (1987; bandingkan dengan Purwo 91984) membedakan adanya lima jenis deiksis; deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bahan kajian (2) mengkaji konsep dugaan atau anggapan sebelumnya yang ada pada benak penutur pada waktu berbicara. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bahan kajian (3) menkaji suatu kenyataan berbahasa bahwa pada waktu setiap penutur mengatakan suatu kalimat, sebenarnya ia tidak hanya mengucapkan, melainkan bersamaan dengan pengucapan itu ia melakukan (menindakkan) sesuatu.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Nababan (1987) membedakan adanya tiga macam tindak bahasa : lokusi, ilokusi dan perlokusi. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dalam kaitan dengan konsep implikatur ini Grice 91957) membuat teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa supaya terajdi suatu komunikasi yang baik. Dikatakan bahwa di dalam menggunakan bahasa seseorang harus mengindahkan prinsip kerja sama (</span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><em>cooperative principles</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">) dan prinsip kesopanan (</span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><em>politeness principles</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">). Prinsip kerjasama berisi empat aturan (maksim) yang menyangkut aspek kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Maksim kuantitas menyarankan untuk hanya menggunakan sejumlah kata secukupnya, maksim kualitas menyarankan untuk hanya mengatakan yang sebenarnya, maksim relevansi menyarankan untuk hanya mengatakan yang relevan, dan maksim cara menyarankan untuk mengatakan secara jelas.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Prinsip kesopanan berisi enam aturan (maksim) kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, permufakatan dan simpati. Maksim kebijaksanaan menyarankan untuk tidak merugikan mitra bicara, maksim kedermawanan menyarankan untuk tidak mengorbankan mitra bicara, maksim penghargaan menyarankan untuk memberikan pujian kepada mitra bicara, maksim kesederhanaan menyarankan untuk mengurangi cacian kepada mitra bicara, maksim permufakatan menyarankan untuk mengurangi ketidaksesuaian dengan mitra baca, dan maksim simpati menyarankan untuk mengurangi antipati kepada mitra bicara. </span></span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pragmatik 	sebagai Bahan Pengajaran Bahasa</strong></span></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Dengan mengambil pembagian Haliday (1973), Nababan (lihat juga tarigan, 1986) menyebutkan adanya tujuh fungsi bahasa bagi perseorangan, masing-masing instrumental, menyuruh, interaksi, kepribadian, khayalan, pemecahan masalah dna informatif. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Bahan pengajaran pragmatik di dalam kurikulum 1984 mencoba menjabarkan semuanya itu ke dalam enam aspek bahan pengajaran : sosial, intelektual, emosional, infomasi faktual, moral dan penyelesaian masalah.</span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Aspek sosial berkaitan dengan aturan hubungan antar sesama, norma masyarakat baik yang bersifat yuridis formal maupun yang bersifat konvensional. Aspek intelektual adalah aspek psikis manusia yang berkaitan dengan pikiran, budi yang bersifat diskursif : bersifat objektif, bukan subjektif memahami sesuatu dengan cara mengambil jarak. Aspek emosional merupakan aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan atau kepekaan intuitif. Aspek informasi formla berkaitan dengan hubungan antar sesamanya. Aspek moral ada hubungannya dengan unsur internal, horisontal dan vertikal. Aspek penyelesaian masalah berkaitan dengan aspek internal dan eksternal manusia, khususnya yang horisontal. </span></span></p>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pragmatik Sebagai Suatu Pendekatan Pengajaran Bahasa</strong></span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Pengantar</strong></span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Konsep pendekatan adalah konsep yang berisi asumsi-asumsi atau aksioma-aksioma tentang sesuatu (Antony, 1963). Pendekatan dalam pengajaran bahasa mengacu pada asumsi atau aksioma tentang apa itu bahasa dan apa atau bagaimana belajar bahasa diyakini berlangsung.</span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Ciri-ciri 		Pendekatan Pragmatik</strong></span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pandangan pragmatik tentang bahasa mengacu pada pnegertian bahwa bahasa :</span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Merupakan 			suatu totalitas, bukan kumpulan komponen-komponen.</span></span></li>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Merupakan alat 			yang dipergunakan oleh manusia untuk melangsungkan hidupnya 			bersama dengan orang lain.</span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Krashen (1977) di dalam penelitiannya tentang perilaku anak yang belajar bahasa pertama menemukan bahwa bahan bahasa yang berupa intake (</span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><em>necessary input</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">) adalha bahan yang paling efektif dan bahan itu diperoleh di dalam lingkungannya yang informal.</span></span></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Implikasi 		Pendekatan Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa</strong></span></span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">Pertama, di dalam pengajaran dengan pendekatan pragmatik tujuan pengajaran yang harus dicapai adalah dimilikinya kemampuan komunikatif (</span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;"><em>use of linguistic elements</em></span></span><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:small;">). Kedua, pengajaran yang berupa satuan-satuan lingual itu harus disajikan di dalam suatu konteks komunikasi yang riil, bukan dibuat-buat. Ketiga, karena di dalam konteks komunikasi yang riil satuan-satuan lingual itu tidak tersaji secara sistematis, maka tekanan penyajian perlu diprioritaskan pada kadar keseringan kemunculan satuan-satuan lingual di dalam suatu konteks diisyaratkan bahwa penekanan penyajian pada urutan-urutan satuan lingual berdasarkan temuan linguistik menjadi kurang penting.</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=97&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/20/ringkasan-jurnal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setapak Kerinduan</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/09/setapak-kerinduan/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/09/setapak-kerinduan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 06:49:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Setapak Kerinduan oleh: Norma Kristiani tap&#8230; tap&#8230; tap&#8230; langkah itu&#8230; kudengar lirih, mendayu&#8230; namun pasti sama seperti langkah yang biasa kudengar&#8230; aku menyukai langkah itu&#8230; pasti namun berirama&#8230; setapak demi setapak langkah itu meninggalkan hembusan angin, putih tak berwarna&#8230; sejenak kutengok, hanya bentuk dan hilang terbawa angin&#8230; hmmm&#8230;. kapan lagi ku dapat mendengar dan melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=89&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Setapak Kerinduan</strong></p>
<p style="text-align:center;">oleh: Norma Kristiani</p>
<p style="text-align:right;">tap&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">tap&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">tap&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">langkah itu&#8230; kudengar lirih, mendayu&#8230; namun pasti</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">sama seperti langkah yang biasa kudengar&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">aku menyukai langkah itu&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">pasti namun berirama&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">setapak demi setapak langkah itu meninggalkan hembusan angin, putih tak berwarna&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">sejenak kutengok, hanya bentuk dan hilang terbawa angin&#8230;</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">hmmm&#8230;.</p>
<p style="text-align:right;">kapan lagi ku dapat mendengar dan melihat jejak langkah itu lagi?</p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:right;">esok, mungkin&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=89&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2010/05/09/setapak-kerinduan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CERITA PENDEK</title>
		<link>http://agnesnorma.wordpress.com/2009/12/24/cerita-pendek/</link>
		<comments>http://agnesnorma.wordpress.com/2009/12/24/cerita-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 08:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agnesnorma</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://agnesnorma.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[AKHIR SEBUAH PENANTIAN Oleh: Norma Kristiani &#160; &#160; “Bunda………….”, panggil Dhea pada ibunya sambil berlari kembali menghampiri ibunya yang masih berdiri memandang Dhea. “Dhe ga mau pisah sama Bunda. Gimana nanti kalo Dhe kangen ma Bunda? Kan jauh banget Bun, trus gimana kalo mpe Dhe sakit?”, kata Dhea yang hari itu mau berangkat ke Jogja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=84&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><b>AKHIR SEBUAH PENANTIAN<br /> </b></p>
<p style="text-align:center;">Oleh: Norma Kristiani</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Bunda………….”, panggil Dhea pada ibunya sambil berlari kembali menghampiri ibunya yang masih berdiri memandang Dhea.</p>
<p>“Dhe ga mau pisah sama Bunda. Gimana nanti kalo Dhe kangen ma Bunda? Kan jauh banget Bun, trus gimana kalo mpe Dhe sakit?”, kata Dhea yang hari itu mau berangkat ke Jogja buat kuliah.</p>
<p>“Dhea sayang, kamu kayak anak kecil aja sih. Kalo kangen ma Bunda kan bisa telpon atau sms. Dhea harus belajar mandiri dong, udah mau kuliah juga masa masih kayak gini? Malu ah”, jawab ibunya sambil memberi nasehat.</p>
<p>Wajah Dhea seperti ditekuk tujuh, langsung cemberut manja. Tanpa melawan pada bundanya, Dhea pun akhirnya pamit untuk berangkat. “Dhe berangkat dulu ya Bunda, jangan lupa sering-sering hubungin Dhe, bilang ke adik-adik nanti kalo mereka udah pulang sekolah, Kak Dhea pamit. Da Bunda sayang”, pamit Dhea lagi pada bundanya sambil mencium pipi kanan kiri bundanya.</p>
<p>“<i>Lets go</i> pak, kita berangkat. Hati-hati ya pak”, kata Dhea pada pak Isman, sopirnya. Mobil yang dibawa oleh Pak Isman, sopir kepercayaan keluarganya, melaju menyisakan asap putih.</p>
<p>Sejak sepeninggalan ayahnya menghadap sang Khalik, satu tahun yang lalu, Dhea semakin dekat dengan bundanya. Memang dari dulu Dhea juga sudah dekat dengan kedua orang tuanya, terlebih Bundanya. Prisilla Dhea Sanityo, begitu nama lengkap Dhea sebenarnya. Nama yang sangat dia banggakan, karena ada terselip nama keluarga diakhir namanya. Tahun ini dia memasuki dunia perkuliahan. Usianya 18 tahun. Usia rata-rata seseorang&nbsp; menjadi mahasiswa. Dia kuliah di salah satu universitas swasta katolik terkenal di Jogja. Kebetulan dia mengambil jurusan farmasi sesuai dengan minat dan bakatnya di bidang biologi dan ilmu pasti lainnya.</p>
<p>Dhea anak yang manja, tapi pada hal-hal tertentu saja, yaitu dia tidak pernah berpisah dengan keluarganya. Kalau pada hal lain jangan ragukan kemandiriannya. Saat itu bundanya tidak bisa mengantarnya pindah karena tidak bisa meninggalkan adiknya yang masih duduk di banggku kelas enam sekolah dasar. Sebenarnya Dhea gak papa sih pindah ke Jogja, Cuma karena dia belum terbiasa untuk jauh pada bundanya, jagi rada gimana gitu.</p>
<p>Hari-hari dilaluinya dengan semangat, walau awalnya Dhea tidak pernah absent menangis karena kangen rumah. Masalah nilai Indeks Prestasi di awal semester, Dhea sudah bisa menunjukkan pada bundanya bahwa sebenarnya dia sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.</p>
<p>Selang beberapa minggu setelah awal semester dua, ada salah satu masalah yang menghampirinya. Hal ini membuat kuliahnya sedikit terhambat. Sello. Nama itu ga bisa dia singkirin semenjak dia berkenalan dengan nama itu, pada acara antar jurusan. Perasaan yang pertama kali dia rasakan. Jatuh cinta. Ya, Dhea jatuh cinta pada Sello, teman satu kelompok ketika kegiatan kampus belangsung selama tiga hari. Terlambat mungkin bagi usianya untuk jatuh cinta. Mungkin karena selama SMA dia termasuk anak yang tertutup dan belum mau mengenal namanya pacaran.</p>
<p>“Dhea, Dhea, sekalinya jatuh cinta lo tu aneh. Jangan &#8216;mpe gara-gara Sello doang hidup lo jadi gak jelas gini”, ceramah Resti, teman SMA nya dulu yang kebetulan juga satu kampus dengannya, Cuma beda jurusan sih.</p>
<p>“Yah, Res lo tau gw gak pernah pacaran, ternyata rasanya jatuh cinta tuh sengsara ya?”, jawab Dhea sambil membayangkan dirinya berkencan dengan Sello.</p>
<p>“Dasar aneh”. “Buggg”,&nbsp; ucap Resti sambil melempar buku yang dia baca pada Dhea. Dhea gak ambil pusing walau sebenarnya sakit juga sih tangannya dilempar buku setebel kamus oxford.</p>
<p>Gak tau kenapa, tiap Dhea berjalan hampir selalu berpapasan dengan yang namanya Sello. Gak bisa di bayangin lagi gimana tampang sumringah Dhea, kayak Kepiting rebus yang kematengan, merah banget, malu-malu kucing mungkin. Sello sih awalnya nganggep itu biasa aja, tapi lama-lama dia juaga aneh kali ya ngeliat tampang Dhea yang selalu ‘salting’ kalo ketemu dia.</p>
<p>“Aduh kok gw begok bener sih Res? Tiap gw keteme Sello gw Cuma bisa kasih senyum yang ga jelas gitu. Tiba-tiba lidah gw dah gak bisa ngomong. Aaaaaa…..sebel, sebel, sebel, nyesel Res. Lo denger ga sih Res?”, adu Dhea pada Resti yang gak mau comment apa-apa masalah ini.</p>
<p>“Bosen ah gw!”, kata Resti, “habisnya curhatan lo gak berkembang-kembang, gak ada kemajuan. Ajak ngobrol kek, atau bercanda kek, apa kek”, Resti gemes ngeliat Dhea cuma bisa memendam perasaannya. Sebenarnya sih dia gak tega liat sahabatnya seperti itu. Diam-diam Resti mengatur rencana jitu buat sahabatnya yang lagi kasmaran itu. Kebetulan Resti dan Sello mengikuti kegiatan kemahasiswaan atau UKM yang sama, yaitu paduan suara mahasiswa.</p>
<p>“Sell, bisa jemput aku gak? Gak ada tebengan nih, cowok ku lagi ada acara di kampusnya jadi gak bisa anter aku latian PSM. Mau ya mau”, pinta Resti berpura-pura bersandiwara.</p>
<p>“Aduh aku takut cowokmu marah Res, mending kamu minta tolong Dhea aja, kayaknya dia punya motor kan? Satu kos pula”, jawab Sello gak tega juga.</p>
<p>“Yaelah Dhea dimintain tolong, dia mah suka sibuk sama pacarnya tuh, buku-buku plus laptop yang ga jelas. Mukanya aja udah kaya kalkulator, apalah ga jelas. Aku dah bilang ma Dion cowokku kok, kalo aku minta jemput kamu. Dia ga bakal marah. Alah ma temen ini Sell, pliissss”, jelas Resti panjang lebar ampe pengen muntah.</p>
<p>“Yaudah, yaudah, nanti aku ke kos kamu jam enam kurang ya, C.U ya res, bye”, jawab Sello mengakhiri telepon dari Resti.</p>
<p>“Gitu dong bang Sello, dari tadi coba, pulsaku jadi sekarat nih, tapi thx ya, C.U juga”, sambung Resti sambil kemudian menutup ponselnya.</p>
<p>“Huh, akhirnya Sello mau juga”, ucap Resti sambil siap-siap mandi.</p>
<p>Dia berencana menjodohkan Sello pada sahabatnya yang menderita karena cinta, hahaha…. Mak comblang siap jalankan job. Strategi demi strategi dipasang oleh Resti. Mulai dari barang Dhea yang tiba-tiba dipinjam oleh Sello, tapi Sello menikmati rencana yang sudah diatur rapi oleh Resti. Dhea semakin hari bisa menyesuaikan diri dengan Sello. Mereka saling bertukar nomor HP dan sering ‘smsan’. Dhea bener-bener seneng banget sama semua ini. Tiap hari dia selalu berdoa dan berdoa untuk yang terbaik. Yah namanya Dhea, udah kutu buku, suci pula. Lengkap sudah.</p>
<p>Perasaan suka mulai dirasakan Sello. Sempet suatu hari Sello curhat pada Resti akan perasaannya pada Dhea yang mulai berubah. Sekarang kalo gak sms Dhea tiga kali sehari aja, rasanya bagai laut tanpa garam. Ceilee, Sungai kale, tawar. Hehehe. Bukan main bahagianya Resti tahu hal itu. Jadi kan usahanya gak sia-sia plus berkurang bebannya. Coz sebenernya udah hampir putus asa dia menjadi Mak Comblang, tapi Dhea selalu memaksanya untuk terus membantuya. Mau gimana lagi? Resti juga bukan tipe yang kerja setengah-setengah, jadi ya jalan terus.</p>
<p>“Gimana Res? Sello gimana ma gw? Kangen nih ma dia, dua hari gak ngeliat senyumnya yang cute abiz”, Tanya Dhea sambil memegang wajahnya dengan kedua tangannya, gemes kali.</p>
<p>“Edan lo, Nyante aja coy, sabar tu yang penting. Lo kan tau “cinta tuh butuh pengorbanan”. Gw aja yang gak lagi kasmaran ikut berkorban”, jawab Resti sampil ngetik tugas pappernya.</p>
<p>“Iya itu juga gw tau. Tapi kan kesabaran tuh ada batesnya Res. Mpe kapan gw harus bertahan? Mpe kapan gw harus nunggu Sello tapi gw sendiri gak tau perasaan dia. Huh, berbahagialah lo Sell, Karena ada yang menyayangi lo mpe segininya”, Dhea mulai putus asa. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Sello akhir-akhir ni merasakan perasaan yang sama. Kayak lagu aja.</p>
<p>“Lihat tanggal mainnya aja mbaknya, jangan putus asa gitu dong, gw juga udah lelah melihatmu menjomblo, hhahahaha”, goda Resti.</p>
<p>“Urgh, diaammmmm!!!”, Dhea gak terima, langsung kembali ke kamarnya. Tapi sebenarnya dia gak marah.</p>
<p>Hari ini tiba-tiba Sello ngajak ketemuan Resti di taman kampus. Lusa adalah ulang tahun Dhea yang ke-19, Sello pengen banget kasih <i>surprise</i> buat Dhea, plus nembak Dhea pas ultahnya. Resti dengan senang hati mau membantu semua rencana Sello, coz ini yang ditunggu-tunggu Resti, sello menyatakan perasaan sukanya pada Dhe sahabatnya.</p>
<p>“Ya asal kalian berdua nanti gak lupa ma mak comblang yang hebat dan cerdas ini. Awas kalo ampe diriku ini dilupakan. Gak terima”, ancam Resti dengan memukul lengan Sello, bercanda .</p>
<p>“Beres mbaknya. Nanti kamu ma Dion mau makan dimana terserah, aku yang bayar”, jawab Sello sumringah.</p>
<p>“Hah? Yang bener nih. Bener dong! Harus! Siap Sell, itung-itung gw berlibur dengan kekasih hatiku. Thank’s before ya”, jerit Resti gembira. Halah Res, Res, mbok biasa aja <i>tho</i>.</p>
<p>Ciyattt!!!. Hari itupun tiba. Sip!!! Sello menyiapkan kejutan kecil buat Dhea di pincak bukit yang aku sebut ‘Bukit Bintang’, coz kalo malam pas kita naik ke atas bukit, kita bisa liat pemandangan lampu-lampu kota yang mirip bintang. Aku jadi pengen ke sana. Romantis banget sih.</p>
<p>Rencananya aku beralasan menyuruh Dhea menemaniku mencari tempat romantis buat Dion kekasih hatinya. Dhea mau-mau aja, dari pada di kos ga ngapa-ngapain. Dhea gak ada rasa penasaran sedikit pun. Baguslah kalau Dhea gak curiga sama gelagat kelompok mak comblang. Hehehe.</p>
<p>Pas nyampe di sana. Di pinggir-pinggir jalan setapak tempat mereka lewat dipasang lampu-lampu kecil dan bunga mawar kuning kesukaan Dhea.</p>
<p>“Anjrit Res, ni tempat romantis banged. Udah gak usah milih tempat lain. Ni dah harus lo pilih, gak boleh gak. Gw aja di suruh bulan madu di sini juga mau, gak kalah ma Bali”, kata Dhea ngarang. Ngasal banget malah, dasar Dhea.</p>
<p>“Emang ini dah pilihan gw. Yuk masuk, gak sabar gw pengen liat dalamnya, pasti romantis banget deh”, Resti menggandeng tangan Dhea sambil ga sabar masuk, tapi Dhea yang ogah-ogahan ninggalin suasana depan yang bener-bener buat jantungnya dag-dig-dug bayangin pangeran menggandeng tangannya sekarang. Hmmm… ni lagi, gak-gak aja.</p>
<p>Mata Dhea terbelalak bukan main ketika masuk ke dalam. Ada Sello yang udah berdiri dengan senyum yang ter-<i>cute</i> menurut Dhea. Bunga mawar kuning dan boneka bebek super duper besar telah menyambut kedatangannya. Gak kuat kakinya menopang tubuhnya yang sebenarnya gak berat. Upss, jangan jatoh ya Dhe, batin Dhea berdoa.</p>
<p>“Res! Lho? Kemana Resti? Aduh tu anak kabur kemana coba?”, Resti tiba-tiba menghilang sengaja tapi tanpa sepengetahuan Dhea. Resti malam itu juga memesan kursi untuknya dan kekasih hatinya, yang tak jauh dari ‘TKP’ penembakan, hehe. Dhea ‘salting’, ga bisa ngapa-ngapain, lemes, kayak kepiting rebus.</p>
<p>“Dhe”, panggil Sello, “<i>happy birthday”</i> ya. Ni buat kamu. Buat nemenin kamu kalo lagi kencan ma kekasihmu”, Sello mengulurkan bunga dan boneka itu sambil memegang tangan Dhea.</p>
<p>“Alamak, mimpi apa gw semalem, perasaan mimpi digigit ular kok malah gini”, kata Dhea dalam hati.</p>
<p>“Hhmm&#8230; Eh makasih ya Sell, tapi gw ga pernah kencan ma sapa-sapa kok”, balas Dhea gugup.</p>
<p>“Maksudku kalo kamu kencan ma laptop dan buku-bukumu, hehe”, Sello menggoda.</p>
<p>“Ah, kamu Sell, bisa aja. Pasti si jelek Resti ya yang cerita? Awas tu anak”, jawab Dhea malu.</p>
<p>“Dhe, lihat deh lampu-lampu di bawah sana mirip bintang-bintang ya. Indah banget pemandangannya. Aku sayang kamu”, kata Sello pada Dhea, tapi kata-kata terakhir dipelankan oleh Sello.</p>
<p>“Iya ih, keren banget pemandangannya, aku juga suka. HAH? APA??! Tadi kamu bilang apa Sell???”, Dhea kaget karena dia baru sadar bahwa dia mendengar kata-kata terkhir Sello. Semakin gemetarlah kaki Dhea, orang jakarte bilang, ni hati ‘nge-DJ’, jedag-jedug gak karuan.</p>
<p>“Aku sayang kamu Dhe, aku gak mau bohongin diri aku kalo aku bener-bener sayang kamu. Hhmm…aku pengen banget aku bisa jadi orang yang bisa semangatin kamu lebih”, ulang Sello pada Dhea sambil tak melepas tangan Dhe yang sebenernya gemeteran gak karuan.</p>
<p>Lama Dhea memandang wajah Sello tanpa bisa menjwab. Sebenarnya dia udah punya jawaban pasti. Iya! Itu jawaban Dhea, tapi kok ya susuah aja bilangnya.</p>
<p>“Dhe… ”, kata Sello menunggu jawabannya.</p>
<p>“Eh iya, iya, maaf, aku juga suka kamu. Hmm… maksud aku, udah lama juga aku suka kamu sell, lama banget setelah kegiatan kampus,tapi……. aQ gak berani nyatain perasaanku ini”, jawab Dhea malu-malu tapi pasti.</p>
<p>“Dhe… thx Dhe… thx God buat semua ini… ini bener nyata kan Dhe? Jawabanmu iya kan?, Sello meloncat-loncat gembira tanpa melepas tangan Dhea.</p>
<p>Hanya anggukan kepala dan seutas senyum termanis miliknya yang hanya bisa dia ungkapkan saat itu.</p>
<p>“Dhea… ”, Sello memeluk Dhea sangat bahagia. Dhea tak bisa apa-apa, dia hanya pasrah karena dia tak kalah bahagianya seperti Sello. Mereka berpelukan lama banget, pelukan hangat itu adalah wujud dari perasaan mereka yang terluapkan. Sebuah moment indah disaksikan oleh ratusan bintang cinta, sepasang mata bahagia, dan bukit bintang.</p>
<p>“Akhirnya tugasku selesai sudah. Dua sahabat telah menjadi satu dalam restu Resti’s Comblang Group”, kata Resti nakal pada Dion kekasihnya dengan hadiah tangan Dion yang mengacak-acak rambutnya. Mereka tertawa bersamaan sambil pergi meninggalkan bukit bintang, sang saksi cinta dua sejoli.</p>
<p>“Special Tuhanku, Resti sahabat tersayangku makasih banget ya, janji Sello ke kamu pasti kita kabulin kok. Buat Laptopku, bunga mawar kuning dan boneka bebekku yang super besar, Bukit Bintang, makasih banget. Kalian adalah hal terindahku yang membawaku pada seseorang yang bener-bener aku sayang. Sello makasih buat semua cinta yang udah kamu kasih buat aku. Udah lama aku menginginkan hal ini. Bersamamu.…</p>
<p>Aku percaya “Rasa sayang ada karena kita merasa saling memiliki”. Lembaran indah ini akan ku bingkai indah di dalam albumku. Dhea menutup Diarynya dan memeluknya. Sello, Aku bahagiaaaaaaaa&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/agnesnorma.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/agnesnorma.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=agnesnorma.wordpress.com&amp;blog=3435901&amp;post=84&amp;subd=agnesnorma&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agnesnorma.wordpress.com/2009/12/24/cerita-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/473ae09cc1ce6df4ec548e8ab1342652?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">agnesnorma</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
