KAYU JATI DAN KAYU MAHONI

 

Di sebuah hutan di salah satu pulau, terdapat sekelompok pohon yang menjulang kokoh dan terlihat sangat kuat. Kawasan itu adalah sekelompok pohon Jati. Entah sengaja ditanam atau sudah ada sebelum nenek moyang manusia ada, tidak jelas asal-usulnya.

Hutan itu sangat lebat oleh berbagai jenis tumbuhan, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang banyak jenisnya sampai yang langka sekalipun, semua ada. Bisa dibilang hutan itu masih asri dan asli, belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia yang nakal. Sungguh sebuah tempat yang indah, surga dunia.

Saat semua Penghuni hutan sedang beristirahat di suatu malam yang belum terlalu larut, terdengar suara gaduh di gerombolan kayu Jati.

Heh, di sini yang berkuasa kita, emang kamu bisa apa?” ucap sang Jati yang paling kokoh dan besar pada salah satu pohon Mahoni yang tidak sengaja hidup di antara kumpulan pohon Jati.

Iya, ngapain kamu di sini? Ini kawasan kita. Coba kalo gak ada kamu, pasti kita lebih damai”. Sombong Jati yang lain.

Sudah-sudah diaaammm kalian! Berisik! Kalian mengganggu tidurku, untuk apa kalian menyalahkan Mahoni? Toh dia ditakdirkan untuk hidup di sini. Kalau aku jadi mahoni yang boleh memilih untuk tinggal dimana, aku tidak akan memilih untuk tinggal di sini”, Marah salah satu pohon tuadi dekat kawasan Jati.

Urggh..!! Seharusnya kau yang diam pak Tua! Untuk apa kau mencampuri urusan kita”. Jawab si Jati pada pohon Tua itu.

Apa katamu? Berani-beraninya kau berkata seperti itu heh!” jawab pak tua tak mau kalah.

Sudah-sudah! Untuk apa kalian saling beradu mulut, toh aku tidak apa-apa. Aku sudah kebal oleh omongan Jati yang seperti itu, yang penting aku bisa hidup”, sela Mahoni menengahi.

Huh!”

Huh!” suara jengkel si Jati bersahut-sahutan. Kemudian suasana kembali tenang walaupun kadang terdengar suara-suara Jati yang mengejek.

Keadaan seperti tadi sering dan teru terjadi. Hingga suatu waktu terjadi kebisingan yang sangat mengganggu ketenangan kawasan hutan. Kebisingan itu bukan berasal dari kawasan jati yang mengejek mahoni, tapi kebisingan karena tangisan dari para kayu. Kenapa sih? Ternyata ada sekelompok penebang liar yang menebangi pohon-pohon dengan kualitas jual tinggi, salah satunya pohon jati.

Waktu berlalu, hingga kayu-kayu itu selesai ditebang dengan seenaknya. Para Jati menangis, ternyata sang mahoni pun ikut tertebang juga. Kayu-kayu itu diangkut dengan dihanyutkan melalui sungai. Begitu banyak pergolakan dalam perjalanan mereka di sungai, hingga tubuh-tubuh mereka terluka karena saling bertubrukan satu sama lain dan oleh batu-batu besar. Sangat mengenaskan bagi mereka. Hinngga tak Terasa mereka sudah berada pada sebuah truk angkut yang membawa mereka ke pabrik kayu. Jati merengek kesakitan, Mahoni juga.

“Tolong angkut kayu-kayu itu ke pabrik Meubel. Kita akan merengguk banyak uang dari sana,,hahaha”, kata salah satu pengusa kayu dengan tamak.

Aduh kita mau diapakan ini? Aku takut”, ujar jati pada siapa saja yang mendengar keluhannya.

Kau bisa diam tidak bodoh. Aku juga tak tau kita akan diapakan. Kita terima nasib saja”., jawab salah satu batang kayu, entah siapa.

Detik berlalu. Menit berganti. Jam pergi dan hari pun silih berganti. Jati dan Mahoni sudah berpisah dan mereka tidak tahu apa yang dialami pada diri mereka.

Hingga disebuah rumah dengan bangunan baru.

Sepertinya aku pernah mengenalmu?”, Tanya sang abak kayu yang berada di atas meja kaca pada sang pintu yang berdiri kokoh.

Iya aku juga mengenalmu. Kau Jati kan dari Hutan seberang? Dulu aku pernah tinggal bersama kawananmu jati” jawab mahoni.

Hah kau mahoni?” jawab Jati malu.

Iya aku Mahoni yang dulu sering kau hina”, jawab Mahoni bersahabat.

Maafkan aku mahoni. Ternyata tak selamanya aku kokoh, sekarang kau yang terlihat kokoh dan gagah, sedangkan aku hanya sebuah asbak yang tak bernilai apa-apa”, Kata jati menyesal

Tak apa jati. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Sekarang bertemanlah denganku. Walau kau hanya sebuah asbak, aku yakin kau juga berguna. Sekarang Jangan melihat sesuatu dari luarnya, tetapi lihatlah dari dalam dan selamilah, pasti kau akan tau bahwa tak selamanya luarnya kokoh dan kuat di dalamnya juga kokoh dan kuat. Sekarang kita berteman”, Jawab mahoni dengan senyuman.

Terima kasih mahoni”. Jati hanya bisa berkata seperti itu.

Merka saling tersenyum bersahabat.

Begitulah kisah jati yang sombong dan mahoni yang baik hati. “Apa yang kita tuai sama seperti yang kita tabur”

-SEKIAN-

(NORMA/Desember07)