Monumen Tentara Keamanan Rakyat, Pemanis Pusat Kota Yogyakarta yang Kokoh

Oleh : Norma Kristiani

YOGYAKATA, Rabu, (11/03), di malam yang sedikit lengang, saya menyusuri jalanan di pusat kota. Tepatnya di jalan Oerip Soemohardjo. Saya sengaja berjalan kaki agar bisa melihat keindahan kota Yogyakarta di kala malam. Kaki ku berhenti di satu titik dimana di situ terdapat sebuah monumen. “Wah, sejak kapsan monument ini ada? Kokoh”, hanya satu kata yang muncul di benak saya”. Monumen itu berada di dalam sebuah museum Dharma Wiratama. Tak ingin melewatkan kesempatan, saya meminta ijin pada salah satu penjaga museum itu agar saya bisa melihat lebih dekat bentuk dan tulisan yang ada di monumen tersebut.

Monumen ini berada di pusat kota Yogyakarta, tepatnya di jalan Oerip Soemohardjo, di Museum Dharma Wiratama. Museum ini kokoh berdiri sejak 1995, sudah 14 tahun berjaya. Sepintas monumen ini hanya monumen biasa yang ‘mungkin’ keberadaannya dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat yang melewatinya sebagai pemanis kota. Padahal letaknya bersebelahan dengan perempatan lampu merah Gramedia yang membuat monumen ini tampak. Monumen ini dinamakan monumen Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang dibangun oleh Alumni Akademi Militer Angkatan 1948, dan 1949/1950, pada peringatan 50 tahun hari jadi Akademi Militer. Monumen TKR dibangun untuk mengenang perjuangan tentara Indonesia dalam melawan penjajah dan menyelamatkan rakyat dari perang.

Monumen TKR ini berdiri kokoh, terdapat dua patung tentara yang mengapit pilar berisi sejarah berdirinya monumen ini. Tak perlu banyak bertanya pada penjaga museum tersebut, karena monumen ini sudah memaparkan seluruh informasi mengenai monument itu sendiri. Mulai dari sejarah TKR hingga sejarah penamaan jalan tempat berdirinya monument ini. Sejarah TKR dimulai dari terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945, kemudian berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 5 Oktober 1945, yang berkembang menjadi tentara keselamatan rakyat. Pada 22 Januari 1946 lahirlah Tentara Republik Indonesia (TRI) yang menjelma menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947 hingga sekarang. Awalnya lingkungan tempat ini adalah markas tertinggi tentara keamanan rakyat pucuk pimpinan tertinggi bersenjata Republik Indonesia, yang memancarkan kesatuan komando ke seluruh penjuru tanah air. Pada tanggal 12 November di tempat itu diadakan konferensi besar TKR dan terpilihlah Bapak Jenderal Soedirman sebagai panglima besar angkatan perang Republik Indonesia. Pemimpin pahlawan menentang penjajahan dan bersama Bapak Jenderal Oerip Soemohardjo, kepala staf umum. Peletak dasar organisasi anggota bersenjata Republik Indonesia merupakan dwitunggal dalam kepemimpinan angkatan bersenjata Republik Indonesia. Nama Oerip Soemiharjoi inilah yang digunakan sebagai nama jalan tempat monumen ini berdiri.

Monumen ini diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1995 oleh Soesilo Soedarman Jenderal TNI (Purn.), Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Ketika diatanyai seputar keberadaan dan makna monumen ini, Yonathan Sostenes, salah seorang mahasiswa yang kebetulan juga melewati jalan tersebut, “saya sering lewat jalan sini sih mbak, saya juga sering lihat monumen ini, tapi saya baru tahu kalo ini tuh monumen TKR. Ya, semoga saja masyarakat lain bisa mengetahui keberadaan monumen ini”, katanya.

Merupakan sebuah bangunan bersejarah yang patut dijaga dan dipandang keberadaannya, karena monumen ini dapat mengingatkan kita akan perjuangan besar para tentara demi keselamatan rakyat Indonesia di masa penjajahan. Namun ada beberapa tulisan di monumen tersebut yang hilang karena terhapus oleh waktu. Mari kita belajar untuk mengenal sejarah tentara Indonesia dengan sesekali berkunjung ke Monumen TKR ini. Monumen ini dapat dikunjungi oleh umum dan tidak dipungut biaya masuk.