Sorot Pesta Buku Jogja 2009 Lewat Buku Panduan

Pikiran Dibuka Nurani Bicara”

Oleh : Norma Kristiani

Bukan kali pertama IKAPI mengadakan ajang seperti ini, namun kali ini panitia membuatnya lebih berbeda dari sebelumnya. Pesta Buku Jogja 2009 merupakan tajuk yang diambil Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY untuk pameran buku yang digelar pada tanggal 11-16 Maret 2009. Selama sepekan ini Jogja Expo Center (JEC) yang dipilih menjadi arena pesta buku. Pameran buku yang diselenggarakan oleh IKAPI DIY kali ini merupakan pameran ke-21. Dari tahun ke tahun pelaksanaan pameran ini selalu ditunggu oleh masyarakat Yogyakarta dan selalu dipadati pengunjung. Tema yang diambil untuk pameran kali ini adalah “Pikiran Dibuka Nurani Bicara”. Ketua panitia pesta buku, YB Priyanahadi, dalam sambutannya di buku panduan pameran mengatakan bahwa dengan membaca buku, maka pikiran kita akan dibuka, wawasan diperluas. Dengan membaca buku pun dapat membentuk nurani yang semakin jernih, bening, dan dewasa.

Ada pepatah yang mengatakan, kalau pikiran itu seperti parasut. Parasut akan berfungsi dalam keadaan terbuka. Jika terus tertutup dan tidak bisa membuka, maka tamatlah riwayat orang yang memakai parasut tersebut. Demikianlah sepenggal pepatah yang yang dituturkan Ketua Umum IKAPI, Setia Dharma Madjid, dalam buku panduan pameran. Buku adalah jendela dunia. Karena hanya dengan membaca buku saja, kita dapat menjelajahi dunia, mengetahui perkembangan dunia dan berbagai pengetahuan dengan segala perubahannya. Itulah salah satu tujuan IKAPI mengadakan ajang seperti ini. IKAPI mengajak masyarakat Yogyakarta khususnya, untuk melihat dunia lewat ajang membaca buku.

“…Walaupun saat ini minat baca yang dimiliki oleh masyarakat relatif masih rendah, namun setiap ada penyelenggaraan pameran buku, animo dan antusiasme masyarakat untuk datang cukup mengembirakan….”, itulah sepenggal sambutan yang diutarakan Sultan HB X dalam buku panduan pameran. Sultan menginginkan pengunjung yang datang dalam pameran bukan hanya melihat-lihat saja, melainkan juga mau membeli. Memang benar, pameran ini diadakan bukan saja digunakan sebagai ajang pamer buku mereka saja, melainkan sebagai sarana bagi penulis dan penerbit untuk menjual hasil karya mereka. Peserta pameran tentunya mengharapkan buku-buku mereka laris manis diborong pembeli. Karena dengan cara membeli buku itu sendiri, kita dapat mendukung dan menghargai hasil tulisan mereka. Itulah bentuk apresiasi kita bagi mereka. Untuk mendukung bentuk apresiasi pengunjung, maka IKAPI menyusun strategi dengan memberi penawaran harga yang murah dengan diskon mulai dari 5% hingga 90%, benar-benar spektakuler!.

Pameran Dibuka, Buku Panduan Bicara

Tak perlu bingung menjelajahi lautan buku di JEC sore itu. Pengunjung yang datang dapat menjelajahi pameran hanya lewat buku panduan. Buku ini dapat pengunjung ambil di stand sekretariatan pameran yang berada di pojok kanan dari pintu masuk. “Buku ini kita dijual Rp 1000,- saja per buku mbak”, jelas Mila salah seorang panitia yang berada di stand tersebut. Buku ini ditulis oleh IKAPI DIY guna memudahkan pengunjung untuk memperoleh informasi tentang pameran, mulai dari siapa saja peserta yang mengikuti ajang ini, hingga bagaimana laporan ketua panitia pesta buku Jogja 2009 dan sambutan-sambutan dari ketua umum IKAPI, IKAPI DIY dan Gubernur DIY. Pengunjung juga dapat mengikuti seluruh kegiatan yang disuguhkan panitia, karena panitia mencantumkan jadwal kegiatan Pesta Buku Jogja 2009 dalam buku panduan tersebut. Peserta yang mengikuti pameran ini sejumlah 49 penerbit dengan stand yang berjumlah sekitar 70 stand. Berdesak-desakan dan ramai. Itulah situasi yang saya alami ketika menyusuri lorong-lorong stand yang dipadati pengunjung. Namun dengan adanya denah stand dan peserta pameran, pengunjung tak perlu kesusahan lagi mencari stand yang mereka inginkan.

Yang mengagumkan lagi adalah tulisan dari beberapa perwakilan, yaitu dari penerbit, guru, pelajar di beberapa sekolah, mahasiswa, kolumnis, bahkan dari ketua panitia PBJ 2009 sendiri. Semua hasil tulisan dari beberapa perwakilan tersebut sangat menarik. Tema tulisan yang mereka ambil keseluruhannya berbicara tentang buku yang dapat membuka cakrawala piiran kita akan dunia dan semua perkembangannya. Ataka salah satunya. Ia adalah perwakilan dari novelis, pelajar dari SMAN 3 Yogyakarta, yang menyumbangkan pikirannya dengan tulisan yang ia beri judul “Membaca Buku itu Dahyat!”. Ia menceritakan keajaiban buku yang mengubah hidupnya, mulai dari hobinya membaca buku hingga bagaimana hobi membacanya itu tertuang dalam sebuah tulisan. Ia mengatakan bahwa bukulah yang membangun imajinasinya yang kemudian menghipnotisnya untuk menulis fantasinya menurut versinya sendiri menjadi kenyataan. Sungguh dahsyat memang. Seorang Ataka yang masih pelajar namun sudah banyak mengenal dunia melalui kisah nyata para imajinatif yang menjadi referensinya. Pesannya adalah “bacalah buku, karena kamu akan merasakan kedahsyatannya. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin banyak pula pengetahuan yang kita terima”.

Banyak pengunjung yang sangat senang dengan adanya pameran ini. Hal ini terbukti dari antusias masyarakat yang datang dan tak sedikitn yang memborong buku-buku yang ditawarkan. “Semua jenis buku ada di sini! Wah, dahsyat! Awalnya saya mau membeli peta dunia dan beberapa novel, tapi saya sekarang malah bingung mau beli buku apa, soalnya semua bagus dan murah-murah”, tutur Kirana, salah satu mahasiswa Geografi UGM. Hal yang tak kalah menarik dalam pesta buku kali ini adalah adanya doorprize berupa kulkas, TV, minicompo, buku-buku,dan masih banyak lagi, dan grandprize berupa motor. “Semua orang bisa berkesempatan dapat hadiahnya mbak, caranya pengunjung membeli buku atau apapun di pameran ini minimal pembelanjaan Rp 20.000,-, nanti struk belanjanya ditukar dengan kupon di sekretariatan pameran”, tutur Mila, salah satu panitia dari stand sekretariatan ketika ditanya mengenai hadiah yang ditawarkan.

Masyarakat Jogja akan terus menanti hadirnya pesta buku yang akan datang, dan berharap banyak penawaran yang tak kalah menarik dengan sekarang. “Hidup IKAPI, hidup budaya baca”.