Category: RESENSI BUKU


RINGKASAN BUKU

RINGKASAN BUKU


A. Identitas Buku

  1. Judul : Ilmu Pragmatk (Teori dan Penerapannya)
  2. Pengarang : Prof. Dr. P. W. J. Nababan
  3. Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  4. Tahun Terbit : 1987
  5. Kota Terbit : Jakarta
  6. Jumlah Halaman : 92 halaman

B. Ringkasan Buku :

BAB 1

PENDAHULUAN

Pragmatic secara lebih luas lagi untuk “aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Secara singkat, dapat diketahui bahwa setiap bahasa memiliki subsistem kinesik, paralinguistic, dan proksemik yang sedikit banyak berbeda. Levison (1983) memberikan lima definisi dari ilmi pragmatic, dua diantaranya adalah:

  1. pragmatic ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa.
  2. pragmatic adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu.

Pragmatic sebagai ilmu, dan dengan demikian juga bahan pelajarannya, bersumber pada ilmu-ilmu lain yang juga mengkaji bahasa dan factor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa secara wajar. Ilmu-ilmu itu ialah:

a. Falsafah bahasa, terutama dengan teori Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan.

b. Sosiolinguistik

c. Antropologi

d. Etnografi Berbahasa

f. Linguistik, terutama Analisis Wacana dan Teori “Dieksis” atau Rujukan.

BAB II

VARIASI BAHASA

Ada empat macam variasi bahasa tergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam bahasa itu. Ke empat kategori factor-faktor itu ialah sebagai berikut:

  1. Factor-faktor geografis
  2. Faktor-faktor kemasyarakatan
  3. Faktor-faktor situasi berbahasa
  4. Factor-faktos waktu

Ragam bahasa yang berhubungan dengan daerah tempat penuturnya disebut dialek.perbedaan dialek terdapat pada seluruh aspek bahasa: fonologi, ejaan dan lafal, morfologi dan sintaksis, kosakata dan peribahasa, dan juga dalam bentuk pragmatic. Ragam bahasa yang berkaitan dengan golongan sosial penutur-penuturnya disebut sosiolek. Sosiolek yang diajarkan di Indonesia adalah “sosiolek terpelajar”. Kelompok ragam bahasa yang ketiga berkaitan dengan situasi berbahasa. Siapa-siapa pemeran serta berbahasa itu serta topic dan jalur. Berbahasa itu.dari factor-faktor tersebut, dikembangkan apa yang disebut ragam-ragam fungsional atau situasional, yang kita sebut di sini fungsiolek. Martin Joos, seorang linguis Amerika, membagi ragam fungsiolek ini menjadi lima subragam, yaitu: subragam beku, resmi, usaha, santai, dan subragam akrab.

Ragam yang ke empat ialah yang berhubungan dengan perubahan bahasa dalam berlalunya waktu. Ragam ini disebut ragam kronolek. Ragam bahasa dalam pengajaran berbahasa bertujuan memperkenalkan berbagai bentuk bahasa kepada pelajar dan membantunya memperoleh keterampilan mengerti dan menggunakan berbagai bentuk dan ragam bahasa itu untuk berbagai ragam komunikasi dalam berbagai situasi berbahasa.

BAB III

Tindak Bahasa

Pengkajian tentang pragmatic yang paling menarik dan kelihatan relevan sekali dengan pengajaran bahasa dan belajar bahasa. Menjelang abad ke-20 ini semakin disadari orang bahwa sukarr sekali dipisahkan makna bahasa dan penggunaannya, sehingga timbulah pernyataan “makna bahasa adalah penggunaan bahasa itu” dalam pandangan aliran yang disebut “logical positivism”.

Austin mengatakan bahwa secara analitis dapat kita pisahkan tiga macam tindak bahasa yang terjadi secara serentak, yaitu:

a. tindak lokusi

b. tindak ilokusi

c. tindak perlokusi

sesuatu ungkapan yang dipakai menidentifikasikan sesuatu benda, proses, kejadian, tindakan, atau sesuatu individu disebut suatu ungkapan rujukan. Ungkapan ini menhunjuk kepada hal-hal tertentu. Rujukan tertentu ditnadai oleh “itu” di belakang ungkapan rujukan itu, missal, orang itu. Sedangkan rujukan taktertentu ditandai oleh kata penggolongan seperti seorang, sebuah, selembar.

Teori tindak tutur bahasa menimbulkan dua macam pendapat tentang hubungan tindak bahasa ini dengan teori dan pengkajian bahasa, yang disebutmtesis keterpulangan, atau disederhanakan menjadi tesis saja dan lawannya antithesis. Tesis ini mengatakan bahwa tindak bahasa tidak dapat dipulangkan kepada persoalan benar dan tak benar. Antithesis itu mengatakan sebaliknya bahwa makna ilokusi itu dapat dipulangkan kepada sintaksis dan semantic.

BAB VI

IMPLIKATUR PERCAKAPAN

Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir:

  1. Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic.
  2. Konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan yang dimaksud.
  3. Konsep implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic dari perbedaan hubungan antar klausa, walaupun klausa itu dihubungkan dengan kata struktur yang sama.
  4. Konsep implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan.

Grice (1957, juga dalam Steinberg & Jakobovits, 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Menurut Grice, terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan, yaitu: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial, estetis, atau susila/moral.

Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut:

  1. Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu.
  2. Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan.
  3. Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti konvensional dari kalimat yang dipakai.
  4. Kebenaran dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada kebenaran akan yang dikatakan.

BAB V

TEORI DIEKSIS

Dalam linguistic telah kita bertemu dengan istilah rujukan atau referensi, yaitu kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan. Dalam dieksis orang, yang menjadi criteria ialah peran peserta dalam peristiwa bahasa itu, yakni kategori orang pertama, kedua dan ketiga. Dieksis tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang dipandang dari lokasi orang dalam peristiwa bahasa itu.

Dieksis waktu adalah pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang dari waktu suatu ungkapan dibuat, yaitu sekarang, kemarin, dulu, besok, dan lain-lain.dieksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan dan atau yang sednag dikembangkan. Dieksis sosila menunjukkan perbedaan-perbedaan kemasyarakatan yang terdapat antara peran-peran peserta, terutama aspek peran sosial antara pembicara dan pendengar dan antara pembicara dengan rujukan/referensi yang lain. Gejala kebahasaan yang didasarkan pada sikap sosial terhadap orang atau peristiwa disebut eufemisme. Dieksis sejati adalah kata/frasa yang artinya dapat ditenagkan seluruhnya dengan konsep dieksis. Sedangkan dieksis taksejati adalah kata/frasa yang atinya hanya sebgaian fungsinya adalah non-dieksis.

BAB VI

PRAANGGAPAN

Implikatur merupakan salah satu persyaratan yang memungkinkan saling mengerti dalam interaksi komunikasi. Oleh karena implikatur itu didasarkan pada hubungan kerja sama antar pemeran dalam situasi dan konteks berbahasa, maka ia disimpulkan secara pragmatic bukan semantic dan sintaktik. Praanggapan adalah penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa mempunyai makna bagi penerima bahasa itu, dan membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.

Konsep praanggapan ini berasal dari perdebatan dalam ilmu falsafah khususnya tentang hakikat rujukan dan ungkapan-ungkapan rujukan. Seiring dengan pelepasan konsep praanggapan semantiuk itu, bermunculah beberapa teori praanggapan pragmatic yang menggunakan factor-faktor dan konsep pragmatic dalam definisi praanggapanya, yang biasanya menggunakan dua konsep dasar, yakni: kewajaran dan pengetahuan bersama.

BAB VII

ANALISIS WACANA

Analisis wacana adalah istilah yang berganda makna oleh karena cakupannya luas dan belum begitu lama ini dikaji secara serius oleh para linguis dan ahli-ahli ilmu soail lainnya. Dua perkembangan dalam kajian atau analisis wacana, yaitu: yang pertama ialah berusaha membuat analisis struktur suatu wacana lisan atau tertulis yang terjadi atau dilakukan secara alamiah, yaitu kegiatan berkomunikasi normal, sedangkan yang kedua ialah yang berusaha mengkaji bahasa dalam penggunaan dalam konteks sosial, khususnya pertukaran ujaran antara pembicara dan lawan bicara, dengan kata lain bahasa dalam interaksi. Kalau kita hendak menganalisis atau mengkaji penggunaan bahasa atau bahasa yang dipakai untuk interaksi komunikasi secra nyata, dapat kita mengkajinya dalam bentuk lisan maupun tertulis. Bahasa yang digunakan itu dapat disebut teks dan bahasa lisan yang dipakai itu disebut wacana. Van Dyk (1977), menyatakan bahwa hubungan teks dengan wacana sama dengan hubungan kalimat dengan ujaran.

BAB VIII

PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA

Analisis keadaan pengajaran bahasa Indonesia menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pengajaran dan bahan pengajaran. Tujuan pengajaran dalam kurikulum 1975, ialah “keterampilan berbahasa Indonesia”. Pada permulaan dasawarsa 10970-an berkembang suatu pemikiran yang timbul dari kurang puasnya orang dengan hasil pengajaran bahasa secara structural, yang membuat orang sanggup membuat bentuk-bentuk bahasa menurut pola-pola yang dilatihkan tetapi belum tentu dapat menggunakannya. Satu gagasan yang timbul adalah yang disebut pendekatan kognitif yang menekankan keterampilan mengerti dan menggunakan aturan-aturan pembentukan kalimat-kalimat yang bermakna.

Dalam pembicaraan di atas, kita memakai istilah pragmatic secra lebih luas lagi untuk “aturan pemakaian bahasanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang sesuai konteks dan keadaan. Bentuk-bentuk yang berbeda itu disebut ragam bahasa. Ada empat macam variasi bahasa bergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam itu. Keempat factor itu adalah;

  1. Factor geografis
  2. Factor-faktor kemasyrakatan
  3. Factor-faktor situasi berbahasa
  4. Factor-faktor waktu

Orientasi belajar mengajar bahasa berdasarkan tugas dan fungsi berkomunikasi ini disebut pendekatan komunikatif. Dalam pendekatan ini, bentuk bahasa yang dipakai selalu dikaitkan dengan factor-faktor penentu di atas. Ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dengan factor-faktor penentu itu disebut ilmu pragmatic.unsur-unsur bahasa meliputi lafal/ejaan, struktur, dan kosa kata, sedangkan kegiatan berbahasa meliputi membaca, menulis/mengarang, berbicara, dan pragmatic.

Keterampilan pragmatic dipelajari melalui dua jalur, yaitu jalur formal, dan non-formal.dalam belajar bahasa asing, keterampilan pragmatic ini dapat dipelajari hanya melalui cara formal oleh karena para pelajar tidak mempunyai kesempatan untuk memperolehnya secara informal. Diperlukan juga bahan-bahan pengajaran yang berorientasi keterampilan pragmatic, artinya materi pembelajaran yang melibatkan konteks dan situasi dalam pengembangannya dan penyajiannya. Pendekatan pragmatic yang diterapkan dalam pengajaran bahasa asin bergantung pada tujuan pembelajaran yang mencakup keterampilan menggunakan bahasa asing itu, tulisan dan/atau lisan. Tujuan pembelajaran ditentukan oleh sekolah. Tujuan pembelajaran dapat ditentukan dengan berbagai cara/factor, yaitu: kemauan dan pemikiran yang mempunyai sekolah, hasil suatu analisi kebutuhan, keinginan pelajar, dan lain-lain.

C. Kelebihan Buku :

Buku ini berisi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu pragmatic. Isinya sudah lengkap dan mencakup seluruh ilmu pragmatic. Tidak lupa, Nababan juga mencantumkan contoh-contoh yang juga membantu pembaca lebih memahami isi buku. Nababan juga membandingkan dengan bahasa Inggris juga contoh-contohnya. Selain itu juga membubuhkan bahan bacaan sebagai penunjang isi dari buku ini. Sumber yang digunakannya pun sangat lengkap dan rinci.

D. Kekurangan Buku :

Buku yang ditulis oleh Nababan ini selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Di sini bahasa yang digunakan masih sulit dipahami, ejaannya pun masih kurang baik. Contoh-contonya kebanyakan contoh dari bahasa asing. Nababan juga kurang teliti dalam penyusunan kalimat. Masih banyak pemborosan kata dan justru membingungkan. Kertas yang digunakan pun masih menggunakan kertas buram. Cover buku ini masih sederhana dan kurang menarik.

RINGKASAN JURNAL

A. Identitas Jurnal :

  1. Judul               : Pragmatik dan Aspek-Aspeknya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia
  2. Pengarang      : Sudaryanto
  3. Penerbit          : Cakrawala Pendidikan
  4. Tahun terbit   : 1996
  5. Edisi               : Nomor 1, Tahun XV, Februari 1996
  6. Halaman        : Halaman 69 – 85

B. Ringkasan :

PRAGMATIK DAN ASPEK-ASPEKNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Oleh: Sudaryanto

  1. Pendahuluan

Ketrampilan Bahasa Indonesia yang masih rendah atau belum sesuai dengan yang diharapkan memang sering dijumpai, baik dengan melihat secara sepintas maupun melalui penelitian-penelitian. Mendikbud Wardiman Djoyonegoro mengatakan bahwa kemampuan atau budaya baca bangsa Indonesia masih rendah (Kompas, 30 mei 1995). Mendikbud mengatakan pula bahwa berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik, sekitar 27 juta penduduk Indonesia belum memahami bahasa Indonesia (Kompas, 30 Maret 1995). Adanya kondisi seperti tersebut di atas tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kekurangberhasilan pengajaran Bahasa Indonesia.

  1. Pendekatan Pragmatik atau Komunikatif?

Menurut Morris dalam Gazdar 91979 : 85) bahwa pragmatik merupakan salah satu bagian dari telaah isyarat-isyarat atau tanda-tanda bahasa. Menurutnya dikatakan bahwa isyarat-isyarat bahasa, dalam pengkajiannya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

    1. sintaktik
    2. semantik
    3. pragmatik.

Menurut Nababan (1987 : 2) yang dimaksud dengan Pragmatik ialah aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaanya.

Menurut Leech (1983), yang dimaksud dengan pragmatik adalah suatu kajian bahasa yang berusaha menemukan makna-makna ujaran yang disesuaikan dengan situasi. Sedangkan menurut International Pragmatics Association (IPRA) yang dimaksud dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo, 1987 : 3).

  1. Hakikat Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia

GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pada Kurikulum 1984 maupun pada Kurikulum 1994, dinyatakan bahwa aspek-aspek pragmatik digunakan untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh penutur, yang meliputi :Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi, melaporkan, menanyakan, mengoreksi);

      1. a. Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi, melaporkan, menanyakan, mengoreksi);

        b. Menyatakan sikap intelektual (menyatakan setuju atau tidak setuju, menyanggah dan sebagainya);

        c. Menyatakan sikap emosional (senang, tak senang, harapan, kepuasan dan sebagainya;

        d. Menyatakan sikap moral (meminta maaf, menyatakan penyesalan, penghargaan dan sebagainya);

        e. Menyatakan perintah (mengajak, mengundang, memperingatkan dan sebagainya);

        f. Untuk bersosialisasi (menyapa, memperkenalkan diri, menyampaikan selamat, meminta perhatian dan sebagainya), GBPP Kurikulum 1994 : 19).

Oleh karena dewasa ini yang digunakan GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia Kurikulum 1994, uraian selanjutnya lebih dititikberatkan pada GBPP tersebut, yaitu diantaranya seperti di bawah ini :

        1. a. Fungsi bahasa untuk menyatakna informasi faktual

          b. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap intelektual

          c. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap emosional

          d. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap moral

          e. Fungsi bahasa untuk menyatakan perintah

          f. Fungsi bahasa untuk menyatakan bersosialiasi

Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bahasa tadi, Halliday (1973) membaginya menjadi :

  1. Fungsi instrumental
  2. Fungsi regulais
  3. Fungsi representasional
  4. Fungsi interaksional
  5. Fungsi personal
  6. Fungsi heuristik
  7. Fungsi imajinatif.

Popper (dalam Leech, 1983 : 49) mengelompokkan fungsi bahasa menjadi :

  1. Fungsi ekspresif
  2. Fungsi informatif
  3. Fungsi deskriptif
  4. Fungsi argumentatif.

Nababan (1987 : 13) yang mendasarkan diri dari pandangan Martin Joos mengenai ragam fungsiolek, membagi fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan gaya bahasa (style) menjadi :

  1. ragam beku
  2. ragam resmi
  3. ragam usaha
  4. ragam santai
  5. ragam akrab
  1. Pengajaran Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia

Aspek-aspek pragmatik diantaranya sebagai berikut :

    1. Aspek sosialisasi
    2. Aspek intelektual
    3. Aspek menyelenggarakan sesuatu atau aspek perintah

Ditinjau dari penyajian aspek-aspek pragmatik yang terdapat di dalamnya, ternyata buku-buku yang berlandaskan pada GBPP Kurikulum 1994 lebih bersifat atau sesuai dengan pendekatan prgamatik komunikatif dibandingkan dengan buku-buku yang disusun berdasarkan GBPP Kurikulum 1994.

  1. Penutup

Berdasarkan uraian-uraian di atas jelaslah bahwa pengajaran aspek-aspek pragmatik atau fungsi-fungsi bahasa mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

C. Kelemahan :

Jurnal ini berisi tentang ilmu pragmatic dan aspek-aspeknya dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Isinya sangat baik karena member pengalaman baru dan ilmu baru bagi pembacanya. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami, tidak terlalu panjang namun isinya sudah berbobot. Susunan paragraph dan isinya pun sudah baik. Sumber yang digunakan sudah banyak dan baik.

D. Kekurangan :

Selain memiliki kelebihan, jurnal ini pun memiliki kelemahan, namun hanya sedikit. Banyak terdapat kata-kata asing yang tidak semua pembaca paham. Contoh-contohnya masih kurang banyak.

RINGKASAN JURNAL

A. Identitas Jurnal :

  1. Judul              : Pengajaran Pragmatik
  2. Pengarang     : Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi
  3. Penerbit         : Arena Almamater
  4. Tahun Terbit : 1991
  5. Edisi               : Januari-Maret 1991
  6. Halaman        : halaman 50-61

B. Ringkasan Jurnal :

PENGAJARAN PRAGMATIK

Oleh: Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi

Pragmatik Sebagai Cabang Ilmu Bahasa

  1. Pengantar

Menurut sejarahnya pragmatik dari kata Yunani pragma yang berarti tindakna sebagia ilmu pertama-tama muncul di dalam dunia filsafat. Filsafat pragmatisme adalah pemikiran tentang bagaimana manusia harus bertindak (Keraf, 1987). Pemikiran ini bersifat praktis, atau berkaitan dengan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Filsafat yang memiliki nilai praktis ini mempengaruhi pemikiran tentang bahasa pula.

Dengan demikian pragmatik sebagai ilmu merupakan cabang linguistik yang bidang kajiannya bukan bunyi dan bentuk bahasa, bukan pula makna bahasa, melainkan fungsi bahasa. Kajian makna secara semantis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat (termasuk makna kata atau klausa) secara abstrak atau kalimat yang bebas-konteks, sedangkan kajian makna secara pragmatis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat atau konteks. Kalimat dalam konteks inilah yang disebut tuturan atau ujaran.

Hymes (1972) diakronimkan SPEAKING (setting dan scene; participans; ends; purpose dan goal; act sequences; keys; tone or spirit of act; instrumentalities, norms; norms of interactions dan interpretation; dan genres). Konteks berisi unsur pembicara melakukan komunikasi kepada mitra bicara dalam situasi, tempat, dan waktu tertentu, tentang sesuatu (topik) yang tertentu, dengan tujuan dan efek tertentu, dan cara atau jalur tertentu, dengan norma atau kaidah komunikasi tertentu dan dengan ragam bahasa tertentu.

  1. Pragmatik sebagai Bahan Kajian Ilmu Bahasa

Bambang Kaswanti Purwo (1990) membedakan bahan kajian menjadi dua :

    1. Bahan kajian linguistik
    2. Bahan pengajaran bahasa

Sebagai bahan kajian linguistik pragmatik mengkaji :

  1. deiksis
  2. praanggapan atau praduga (presupposition)
  3. tindak ujaran atau tindak tutur (speech acts)
  4. implikatur percakapan (convensational implicature) (1990 : 17)

Bahan kajian (1) mengacu bahan kajian yang berupa kata-kata yang rujukannya atua referennya berpindah-pindah (Purwo, 1984, 1990).

Nababan (1987; bandingkan dengan Purwo 91984) membedakan adanya lima jenis deiksis; deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial.

Bahan kajian (2) mengkaji konsep dugaan atau anggapan sebelumnya yang ada pada benak penutur pada waktu berbicara.

Bahan kajian (3) menkaji suatu kenyataan berbahasa bahwa pada waktu setiap penutur mengatakan suatu kalimat, sebenarnya ia tidak hanya mengucapkan, melainkan bersamaan dengan pengucapan itu ia melakukan (menindakkan) sesuatu.

Nababan (1987) membedakan adanya tiga macam tindak bahasa : lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Dalam kaitan dengan konsep implikatur ini Grice 91957) membuat teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa supaya terajdi suatu komunikasi yang baik. Dikatakan bahwa di dalam menggunakan bahasa seseorang harus mengindahkan prinsip kerja sama (cooperative principles) dan prinsip kesopanan (politeness principles). Prinsip kerjasama berisi empat aturan (maksim) yang menyangkut aspek kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Maksim kuantitas menyarankan untuk hanya menggunakan sejumlah kata secukupnya, maksim kualitas menyarankan untuk hanya mengatakan yang sebenarnya, maksim relevansi menyarankan untuk hanya mengatakan yang relevan, dan maksim cara menyarankan untuk mengatakan secara jelas.

Prinsip kesopanan berisi enam aturan (maksim) kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, permufakatan dan simpati. Maksim kebijaksanaan menyarankan untuk tidak merugikan mitra bicara, maksim kedermawanan menyarankan untuk tidak mengorbankan mitra bicara, maksim penghargaan menyarankan untuk memberikan pujian kepada mitra bicara, maksim kesederhanaan menyarankan untuk mengurangi cacian kepada mitra bicara, maksim permufakatan menyarankan untuk mengurangi ketidaksesuaian dengan mitra baca, dan maksim simpati menyarankan untuk mengurangi antipati kepada mitra bicara.

  1. Pragmatik sebagai Bahan Pengajaran Bahasa

Dengan mengambil pembagian Haliday (1973), Nababan (lihat juga tarigan, 1986) menyebutkan adanya tujuh fungsi bahasa bagi perseorangan, masing-masing instrumental, menyuruh, interaksi, kepribadian, khayalan, pemecahan masalah dna informatif.

Bahan pengajaran pragmatik di dalam kurikulum 1984 mencoba menjabarkan semuanya itu ke dalam enam aspek bahan pengajaran : sosial, intelektual, emosional, infomasi faktual, moral dan penyelesaian masalah.

Aspek sosial berkaitan dengan aturan hubungan antar sesama, norma masyarakat baik yang bersifat yuridis formal maupun yang bersifat konvensional. Aspek intelektual adalah aspek psikis manusia yang berkaitan dengan pikiran, budi yang bersifat diskursif : bersifat objektif, bukan subjektif memahami sesuatu dengan cara mengambil jarak. Aspek emosional merupakan aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan atau kepekaan intuitif. Aspek informasi formla berkaitan dengan hubungan antar sesamanya. Aspek moral ada hubungannya dengan unsur internal, horisontal dan vertikal. Aspek penyelesaian masalah berkaitan dengan aspek internal dan eksternal manusia, khususnya yang horisontal.

Pragmatik Sebagai Suatu Pendekatan Pengajaran Bahasa

    1. Pengantar

Konsep pendekatan adalah konsep yang berisi asumsi-asumsi atau aksioma-aksioma tentang sesuatu (Antony, 1963). Pendekatan dalam pengajaran bahasa mengacu pada asumsi atau aksioma tentang apa itu bahasa dan apa atau bagaimana belajar bahasa diyakini berlangsung.

    1. Ciri-ciri Pendekatan Pragmatik

Pandangan pragmatik tentang bahasa mengacu pada pnegertian bahwa bahasa :

      1. Merupakan suatu totalitas, bukan kumpulan komponen-komponen.
      2. Merupakan alat yang dipergunakan oleh manusia untuk melangsungkan hidupnya bersama dengan orang lain.

Krashen (1977) di dalam penelitiannya tentang perilaku anak yang belajar bahasa pertama menemukan bahwa bahan bahasa yang berupa intake (necessary input) adalha bahan yang paling efektif dan bahan itu diperoleh di dalam lingkungannya yang informal.

    1. Implikasi Pendekatan Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa

Pertama, di dalam pengajaran dengan pendekatan pragmatik tujuan pengajaran yang harus dicapai adalah dimilikinya kemampuan komunikatif (use of linguistic elements). Kedua, pengajaran yang berupa satuan-satuan lingual itu harus disajikan di dalam suatu konteks komunikasi yang riil, bukan dibuat-buat. Ketiga, karena di dalam konteks komunikasi yang riil satuan-satuan lingual itu tidak tersaji secara sistematis, maka tekanan penyajian perlu diprioritaskan pada kadar keseringan kemunculan satuan-satuan lingual di dalam suatu konteks diisyaratkan bahwa penekanan penyajian pada urutan-urutan satuan lingual berdasarkan temuan linguistik menjadi kurang penting.

RESENSI CERPEN

 

Analisis Cerpen

 

A. Cerpen 1: 

  1. Identitas Cerpen:

    1. Judul : Nyidam

    2. Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta

    3. Tahun Terbit : 1994

    4. Pengarang : Z. Arifin

    5. Halaman : Halaman 22 s.d. 32

    2.  Sinopsis Cerpen:

 Cerpen ini menceritakan tentang pengorbana seorang suami dan calon ayah. Dimana demi memenuhi keinginan calon bayinya, begitu yang dikatakan istrinya, dia mau melakukan apa saja. Istrinya berkata bahwa jabang bayinya menginginkan dia masuk penjara selama dia mengandung. Berbagai cara dilakukan dan ditempuh Sarkoman demi calon anak dan Iyah, istrinya, bahkan sampai harus mengorbankan nyawanya sekalipun.

B. Cerpen 2:

1. Identitas Buku:

a. Judul : Maling

b. Pengarang : Kiswondo

c. Penerbi : Pustaka Pelajar dan Forum Pecinta Sastra Bulak Sumur (FPSB)

d. Tahun Terbit : 1994

e. Halaman : Halaman 1 s.d. 12 

2. Sinopsis Cerpen:

Cerpen ini diceritakan oleh Juru Rawat yang menjaga mayat di Ambulance. Dimana dia menyaksikan perjalanan seorang yang suci dan mulia dihadapan yang kekal. Orang itu sangat menyayangi keluarganya dan demi menghidupi keluarganya, dia menuruti hawa napsunya untuk mencuri. seumur-umur baru sekali dia melakukan hal ini\, hingga akhirnya dia meninggal. Tetapi orang yang semula mengira dia akan masuk neraka, namun dengan kuasa Tuhan, dia diberi kesempatan dan akhirnya mendapati dirinya menuju kehidupan kekal disurga.

 

ANALISIS NOVEL

 

  1. ANALISIS NOVEL

  1. Identitas Buku:

    1. Judul : Victory

    2. Pengarang : Luna Torashyngu

    3. Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

    4. Tahun Terbit : 2006

    5. Halaman : 296 halaman

    6. Cover : Cover novel ini sangat bagus. kombinasi warna yang padu antara latar, judul, nama pengarang, dan gambar. Warna covernya mendominasi biru tua yaitu sebagai latar belakang cover. Tulisan judul berwarna kuning, terletak di sebelah kanan atas dan nama pengarang berada dibawah judul, berwarna putih. Adapun gambarnya merupakan gambar kartun serang pria yang memeluk seorang gadis diatas balkon, berwarna biru tua keungu-unguan. Sangat menarik.

      2.  Sinopsis Novel:

Novel ini menceritakan tentang arti dari sebuah cinta sejati. Oti dan Raka adalah dua saudara tiri yang berbeda karakter dan sifat. Oti adalah seorang cewek tomboy dan cuek, tetapi dia mempunyai kelebihan yaitu keberanian dalam membela teman-temannya. Sedangkan Raka adalah seorang cowok dengan sikap tenang dan dewasa.

Saat membela temannya, Oti menerima tantangan dari kakak kelasnyauntuk mengikuti pemilihan putri SMA, di SMAnya. Untuk memenangkan pertandingan, Oti harus menjadi gadis yang feminim. Dia diharuskan memakai make-up dan gaun yang tidak pernah dipakainya. Namu8n Oti menerima tantangan kakak kelasnya itu. Dia mulai berubah dirinya agar dia bisa memenangkan kontes itu, walaupun sempat putus asa.

Raka yang dulunya benci mulai perlahan memperhatikan perubahan pada diri Oti dan diam-diam timbul perasaan yang aneh pada dirinya. Raka mulai menjadi lebih perhatiandan lembut. Perlahan tapi pasti, mereka mulai merasakancinta. Halangan muncul dari orang tua mereka yang tidak setuju dengan hubungan mereka. Oti dan Raka akhirnya berpisah karena mereka mengetahui bahwa mereka sebenarnya adalah saudara sedarah.

Dua tahun berlalu, Oti yang kuliah di London datang ke Bandung untuk menemui Raka. Oti dan Raka sama-sama belum bisa melupakan cinta yang pernah terjadi diantara mereka. Akhirnya karena sebuah kecelakaan menyebabkan kehidupan mereka berubah. Oti menjadi lumpuh dan mereka mengetahui bahwa sebenarnya mereka bukan saudara sedarah. Namun kelumpuhan Oti tidak memupuskan perasaan Raka padanya, melainkan menguatkan cinta mereka.

2. Analisis Unsur Ekstrinsik: 

  1. Tokoh

    1. Victory/Oti

    2. Raka

    3. Ai

    4. Ticka

    5. Laras

   2. Penokohan

  1. Victory/Oti: Tomboy, cuek, selalu membela temannya, baik, dan setia.

  2. Raka : Tenang, dewasa, baik, dan setia.

  3. Ai : Baik hati dan cerewet

  4. Ticka : Cerewet tetapi supel.

  5. Laras : Polos, pemalu, dan selalu bicara apa adanya.

    3. Alur

        Novel ini menggunakan alur maju dan alur mundur. Ini terlihat ketika Ai teringat kembali mengenai hubungan yang dihadapi Victory dan Raka sampai akhirnya mereka bisa bersama. 

    4. Kelebihan

       Novel ini mempunyai kelebihan pada covernya yang terlihat menarik sehingga dapat menarik pembaca untuk membaca isinya. selain itu juga kelebihannya terletak pada bahasa yang dipakai sangat segar, dengan gaya bahasa anak muda jaman sekarang namun mudah untuk dipahami. Isinya pun cocok untuk dibaca oleh semua kalanga, mulai dari remaja hingga orang tua sekalipun.

     5. Kekurangan

         Novel ini selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan yaitu terdapat pada kertas yang digunakan, masih menggunakan kertas buram.

     6. Amanat

          Amanat yang ingin disampaikan novel ini adalah kita bisa memberikan makna mengenai cinta, keberanian, solidaritas dan kepercayaan juga kesetiaan.

 

 

Resensi Novel

 

 

Judul                   : Jodoh Monica

Pengarang            : Alberthiene Endah

Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun terbit         : 2004

Jumlah halaman    : 344 halaman

Jenis buku            : Lajang Kota

Sampul buku        : Sampul buku berwarna ungu cerah. Gambar depan buku adalah seorang wnaita yang memakai baju ungu tua dengan membawa gelas warna ungu juga. Sampul depan novel ini didominasi warna ungu, hal ini tampak pula pada nama pengarang yang berwarna ungu lebih tua dari warna dasar sampul buku, terletak di bagian bawah gambar. Sedangkan judulnya ditulis diatas gambar berwarna merah.

Isi buku                : Monica adalah wanita yang berusia hampir 34 tahun, dia seorang gadis yang cosmopolitan, memiliki teman- teman dan karir yang bagus. Monica menyesal atas apa yang terjadi dalma hidupnya karena di usianya yang hamper 34 tahun dia belum menikah. Jangankan menikah, monica bahkan belum pernah mengenal masa- masa pacaran. Masa mudanya dihabiskan untuk belajar dan menyibukan diri dengan mengikuti kegiatan- kegiatan disekolah maupun kampus. Untuk itu dia bertekad untuk mencari jodoh. Banyak hal yang dia lakukan, mulai dari mendekati manajernya bahkan sampai ikut biro jodoh. Namun dia belum bias menemukan jodohnya. Sampai pada akhirnya dia menemukan belahan hatinya pada rekan kerjanya yaitu Arya.

Kelebihan           : Novel ini tidak menggunakan kertas buram, banyak memuat nilai- nilai kehidupan dalam lingkup social. Seri novel laying kota ini menampilkan beragam kisah unik, khas, dan segar.

Kekurangan         : Cerita dalam novel ini sedikit berbelit- belit dan sangat tebal sehingga membuat pembaca lebih bersabar unutk menemukan akhir ceritanya.

 

 

 

RESENSI NOVEL

 

 

Judul                : Bosku Duren Jutek

Pengarang         : Myomi Pasturi

Penerbit           : PT Elex Media Komputindo, Jakarta

Tahun terbit      : 2007

Jumlah halaman : 279 halaman

Jenis buku         : Teenlit

Sampul buku     : Warna kuning terang adalah warna yang mendominasi sampul depan dari novel ini. Judul ditulis di sebelah kiri atas buku dan berwarna merah muda, sedangkan nama pengarang ditulis di atas judul dengan huruf yang lebih kecil berwarna putih yang dilapisi warna merah muda. Gambar berlatar kota metropolitan dan seorang wanita karir berambut panjang, dengan membawa tas merah dan beberapa buku, dengan pakaian warna putih. Tampak pula gambar seorang pria dengan wajah tampak samping.

Isi buku         : Lea adalah mahasiswa yang sedang magang di sebuah perusahaan besar. Lea mempunyai sifat ceplas- ceplos dan mudah emosi. Sifat ini justru membawa bencana dalam hidupnya. Saat dia berjalan- jalan di mall, dia memarahi seorang pria yang ternyata adalah bos di tempat dia magang. Dan ternyata sang bos adalah seorang duda yang mempunyai sifat galak dan “jutek”. Namun karena sifat sang bos tersebut lea jadi tertantang untuk menaklukan hati bosnya. Hal ini tidak mudah. Lea harus berhadapan dengan tunangan, anak, dan orang tua sang bos. Lea juga harus rela memutuskan hubungan dengan pacarnya. Namun hal itu terbayar saat Ando, sang bos melamar Lea untuk menjadi istrinya.

Kelebihan       : Ceritanya unik dan renyah. Happy ending dan bahasanya bisa dimengerti oleh semua kalangan.

Kekurangan     : Banyak istilah- istilah bahasa gaul yang tidak semua orang mengerti. Novel ini pun masih menggunakan kertas buram dan masih banyak cerita yang menggantung.

 

RESENSI NOVEL

Judul                     : Sepasang Peniti Perak

Pengarang              : Agnes Jessica

Penerbit                : Vania Books

Tahun terbit           : 2006

Jumlah halaman      : 288 halaman

Jenis buku              : TeenLit

Sampul buku         : Sampul depan didominasi dengan warna hijau. Gambar depan sampul adalah seorang gadis cantik yang memangku wajah dan tampak melamun. Nama pengarang ditulis di bagian atas berwarna kombinasi kuning dan oranye, sedangkan judul di bagian bawah buku dengan tulisan tegak bersambung.

Isi buku                : Novel ini bercerita mengenai dua pasang suami istri yang sudah bersahabat sejak SMA, ingin menjodohkan anak mereka apabila anak mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda. Kesepakatan mereka dikukuhkan dengan sepasang peniti perak. Namun pada malam kesepakatan itu, terjadi perampokan di rumah mereka. Para perampok itu menyebabkan perubahan nasib kedua pasang suami istri tersebut. 24 tahun berlalu, akhirnya takdir mempertemukan anak-a nak yang lahir dari kedua pasang suami dan istri tersebut. Randa dan Sisi, mereka dipertemukan di Yogyakarta. Randa adalah seorang penulis novel yang karyanya sudah banyak diterbitkan. Dia datang ke Yogyakarta untuk launching novel terbarunya. Sedangkan Sisi adalah seorang gadis sederhana yang berhasil memenagkan hadiah untuk jalan- jalan ke jogja disertai akomodasi. Pertemuan awal yang terjadi diantara mereka, meninggalkan kesan yang tidak enak. Kedua insan ini saling membenci. Namun, secara perlahan, kebencian kedua insan ini berubah menjadi cinta. Namun banyak rintangan dalam cinta merek. Karena Randa sudah mempunyai kekasih dan ternyata ayah angkat Randa adalah orang yang menyebabkan terpisahnya ayah dan ibu mereka. Namun demikian, semua rintangan tersebut dapt mereka atasi dan mereka hidup dengan meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan.

Kelebihan           : Selain memiliki kekurangan, novel ini juga memiliki beberapa kelebihan yaitu bahasanya cocok untuk semua kalangan, enak dan ceritanya pun menarik serta penuh teka- teki sehingga membuat pembaca lebih tertantang untuk membacanya.

Kekurangan         : Novel ini mempunyai kelemahna yaitu masih menggunakn kertas buram dan gambar sepasang peniti yang merupakan symbol dari judul diletakkan di sampul belakang.

 

RESENSI NOVEL

 

Judul                : Dealova

Pengarang         : Dyan Nuranindya

Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit      : 2005

Jumlah halaman : 303 halaman

Jenis buku         : Teen Lit

Sampul buku     : Sampul novel ini cukup menarik. Warnanya sangat anak muda. Terdapat gambar dua orang pria yang berbeda karakter dan seorang gadis cantik memakai baju putih dan topi kupluk putih. Latar sampul berwarna merah muda. Judul ditulis menindih gambar bagian bawah berwarna hijau dan di lapisi warna ungu tua. Pengarang buku ditulis di bagian atas buku berwarna hitam.

Isi buku           : Kara, cewek tomboy yang jago maen basket ini memang berbeda. Rambutnya panjang tidak seperti cewek tomboy lainnya yang berambut pendek. Kara sangat beruntung karena mempunyai orang tua dan kakak yang sayang banget sama dia, termasuk teman- teman kakaknya, terutama Ibel, cowok yang jago main gitar dan tidak senang dengan warna biru. Selama ini Kara hanya menganggap Ibel hanya sebatas kakak, jadi Kara tak peduli saat Ibel menunjukkan perhatiannya. Kara malah disukai oleh Dira, anak baru di sekolah yang juga jago main basket. Kara sempat benci dengan sifat Dira yang seenaknya sendiri. Namun akhirnya, benci itu menjadi cinta. Tetapi disaat cinta itu mulai berkembang ternyata Dira harus meninggalkan Kara untuk selamanya. Kara yang sedih dan kesepian mulai merasakan perhatian dari Ibel dan dia pun akhirnya jatuh cinta pada Ibel.

Kelebihan        : Banyak hal- hal yang menarik dalam cerita novel tersebut. Karakter tokohnya juga tidak monoton. Bahasanya bahasa anak muda. Cerita novel ini saling berkaitan dan smea bagus.

Kelemahan      : Masih menggunakan kertas buram. Ceritanya sedih namun happy ending. Namun bahasanya masih tampak kaku.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.