Latest Entries »

Kemudahan Transaksi

Nama saya Norma Kristiani. Pekerjaan yang sekarang saya geluti adalah menjadi guru Bahasa Indonesia SMA National Plus di Alam Sutera, Serpong. Sekitar lima tahun yang lalu, ketika masih menjadi mahasiswa, saya membuka rekening baru di BCA. Adalah suatu hal yang membanggakan saya bisa membuka rekening di bank yang sudah memiliki nama seperti BCA. Saya membuka rekening BCA karena saat itu saya diilih menjadi bendahara konser di kampus swasta di Jogjakarta. Awalnya, saya bertanya kepada teman, saudara, dan panitia konser, kira-kira bank mana yang memiliki fasilitas ATM yang mudah dan cepat dijangkau di mana saja. Semua menjawab, BCA. Dan memang benar, selain ATM yang terdapat di banyak tempat (kampus-kampus, pusat perbelanjaan, hotel, mall, dll.), BCA juga memberikan banyak kemudahan. Saya mampu mengumpulkan dana dari berbagai donatur yang kebanyakan berasal dari rekening BCA maupun rekening lain dengan mudah karena BCA memiliki kerja sama dengan banyak bank lain. Tidak hanya sampai konser selesai. Sampai sekarang pun, saya selalu menggunakan BCA sebagai teman setia dalam bertransaksi, untuk pembelian tiket pesawat, pembelian pulsa, transfer ke bank lain dan berbagai promo menarik lainnya. Pokoknya oke deh, BCA! Jangan ketinggalan ya, gunakan semua fasilitas yang diberikan oleh BCA, khususnya dengan key BCA. Saya masih berharap dan percaya BCA bisa mewujudkan impian hunian saya dan pasangan saya, nantinya. Mari menabung di BCA dan nikmati kemudahan bertransaksi, di manapun dan kapanpun kamu berada. Kunjungi juga website BCA yang baru ya, di http://www.bca.co.id/

 
<a href=” http://www.bca.co.id/id/about/berita/2012_may_01_Ayo_Kita_Berbagi_Cerita_bersama_BCA/2012_may_01_Ayo_Kita_Berbagi_Cerita_bersama_BCA.jsp” target=”_blank”><img src=”http://www.bca.co.id/include/images/user/bca-blog-competition.jpg” /> </a>

Sore itu saya melakukan sebuah kesalahan yang agak ‘bodoh’. Cincin yang biasanya saya gunakan di jari manis tangan kiri saya, saya paksa masukkan ke jari manis tangan kanan saya. Masuk sih masuk, tapi ternyata gak bisa keluar lagi. hohoho…  Sepuluh menit berlalu saya paksa benda ini lepas dari jari saya, tapi nihil, yang ada jari saya bertambah bengkak dan merah juga panas. Bentuknya sudah seperti tempura goreng, hehehe…. Sejak itu saya biarkan hingga keesokan harinya. Bangun tidur, saya merasakan sakit yang luar biasa. Jari saya semakin bengkak, mungkin aliran darah yang tidak lancar dan tertekan. Karena saya harus berangkat kerja, akhirnya saya biarkan saja. Selama saya kerja, saya benar-benar menahan sakit hingga saya pulang kerja. Sepulang kerja, saya menelpon ayah saya dan ia menyuruh saya merendam jari saya dengan es batu selama mungkin. Percuma. Itu kata yang saya ucapkan. Hampir 45 menit saya merendam jari saya sampai beku. Saya olesi minyak sayur, minyak tawon, sabun mandi, sabun cuci, tapi semua sia-sia. Karena tak tahan dengan rasa sakit itu, saya disuruh ayah saya ke ugd rumah sakit. RS pertama yang saya kunjungi tidak bisa menangani masalah saya. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya bawa ke UGD salah satu Rumah Sakit swasta di BSD. Di sana saya mendapatkan sambutan yang ramah dan baik oleh perawat di situ. Tak lama pak dokter datang melihat kondisi jari saya. Setelah tahu duduk permasalahan saya, dokter tersebut menyuruh perawat mengambil “tang dewa”. Tang tersebut fungsinya untuk memotong benda keras, seperti cincin. Panjang sekitar 50cm lebih. busyettt… Tang terbesar dan terpanjang pertama yang pernah saya lihat. Sang dokter langsung mengambil keputusan untuk memotong….hmmmm….cincin saya (yang jelas bukan jari saya yang jadi korban untuk dipotong, heheh).

Berhasil…berhasil…HOREEE… Rasanya bukan main legaaanyaa….makcesss… Cincin itupun lepas dari jari saya. Ketika saya akan membayar, dokternya bilang “gak usah, Mbak, pulang saja”. Saya pun mengucapkan terima kasih sekali untuk pak dokter malam itu (senin, 9 mei 2011, jam 19.30 wib). Semoga kebaikan hatimu terbalas. Sayangnya saya lupa menanyakan nama dokter jaga malam itu. Terima kasih deh pokoknya buat pak dokter, buat RS tersebut juga, terima kasih, jari saya bisa terselamatkan.

Dia, si Kartini Keluarga

Tanggal 21 April selalu dirayakan sebagai hari Kartini. Hari untuk mengenang jasa pahlawan bagi kaum perempuan. Dia adalah Kartini. Setiap tahun, hari Kartini selalu dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang berbau adat dan kedaerahan. Mulai dari mengenakan pakaian adat, lomba berbusana adat, lomba berpuisi, dan sebagainya. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya di seluruh kalangan masyarakat di Indonesia, baik kalangan formal maupun informal. Semua wanita bisa menginspirasi menjadi Kartini bagi siapa saja. Bagi saya setiap wanita di mata saya adalah seorang Kartini. Setiap wanita berperan sesuai dengan perannya. Ibu, misalnya. Bagi saya Ibu adalah Kartini di keluarga saya. Ia tak hanya mengurus kebutuhan suami dan anaknya, namun juga memikirkan segala hal dalam keluarga. Tak ada Ibu, pekerjaan rumah bisa kacau, tak ada ibu semua keluarga kelaparan karena tak ada yang memasak, tak ada ibu, rumah tak kan rapi. Begitulah sosok ibu bagi saya. Si Kartini keluarga.

Tak hanya ibu, nenekku pun adalah Kartini yang tangguh. Sore itu di sudut ruang rumah itu, ku lirik raut dan garis mata tua itu dengan kacamata di hidungnya dan sebuah pena dan buku TTS sambil sesekali menyerngitkan alisnya, seolah-olah serius dan berfikir. Sangat lekat dalam ingatku bahwa buku yang berisi deretan kotak-kotak kosong itulah satu-satunya hiburan di waktu senggangnya selain sinetron di televise di kala malam. Chatarina Sumarmi, namanya. Seorang ibu sekaligus ayah bagi kelima anaknya. Cucunya sudah sebelas, layaknya jumlah grup sepak bola.

Hamper 40 tahun sudah ia lalui seorang diri tanpa sosok seorang suami. Namun, kesendiriannya tak menjadi penyurut serta penghalang semangatnya untuk terus maju dan survive. Ia benar-benar membesarkan kelima anaknya dengan peluh dan upayanya seorang diri. Perjuangannya tak habis di situ. Ia terus berjuang menjadikan kelima anaknya menjadi “orang”. Sejak anak-anaknya masih kecil, ia sudah mengajarkan bagaimana mencari sebutir nasi. Anaknya ada yang ia suruh menjajakan jajanan hasil buatannya, ada pula yang mengamen, menjadi kondektur bus, ada juga yang menjadi pengisi acara (MC) di beberapa acara. Semua anaknya lakukan untuk menyambung hidup mereka. Sungguh perjuangan yang tak ada habinya.

Kini kelima anaknya telah dewasa dan berumah tangga. Ini membuat ia bahagia karena seluruh anaknya bisa bekerja dengan layak. Sosok wanita ini menjadi inspirasi bagi anak dan cucunya juga tetangga sekitarnya. Ia menjadi Kartini bagi kelima anaknya, bahkan sosok ayah pun ia lakoni. Tetaplah menjadi Kartini keluarga dan masyarakat. We love u… SELAMAT HARI KARTINI IBUKU, MBAHKU, BUDHEKU, BULIKKU, MBAKKU, ADIKKU, dan untukku. Jadilah si Kartini yang tangguh. Menjadi terang bagi sang malam.

Sepenggal Cerita Cinta Untukmu, IBU

KASIH IBU

Kasih ibu,
kepada beta
tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi,
tak harap kembali,
Bagai sang surya, menyinari dunia.

Sering ku alunkan lagu ini untukmu IBU. Lagu terindah yang pernah ada untuk seorang ibu. Sebuah lagu yang sangat mewakili betapa besar kasih seorang ibu.

Ibu adalah seorang yang melahirkan kita di dunia ini dan tanpanya kita tak kan pernah ada.

Kasih ibu kepadaku sangat luar biasa. Ia merawatku ketika ku masih menjadi janin. Ketika ku masih belum berbentuk. Sembilan bulan lamanya ia membawa beban yang tak ringan di perutnya. Tak ada keluh sekecap pun keluar dari ucapnya. HEBAT. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Demi kehadiranku di dunia, ia benar-benar rela melakukan apapun bahkan nyawanya sekalipun.

Ibu, aku tak pernah mendengarmu meminta balas atas budimu kepadaku. Tapi aku, Ibu, aku selalu meminta balas atas budiku padamu dan kau memberinya. Malu aku akan diriku.

Ibu, setiap hari peluhmu kau curahkan hanya untuk anak-anakmu. Kau hebat. Tak hanya mau berdiam di rumah, namun kau pun bekerja untukku. Guru, itulah profesimu. Sesuai dengan jiwamu, TANPA TANDA JASA. Bangga aku akan engkau, bu. Kau pandai mendidikku dan adik-adikku. Lincah gerakmu tak menyurutkan semangatmu. Tak pernah lelah mengisi waktumu.

Oh ibu, pengorbanan akan cintamu tak kan pernah terganti. Pagi, siang, sore, malam, kau selalu menjaga agar aku tak lapar, melawat ketika ku sakit, menghibur ketika dukaku. Lucu sifatmu selalu menggelitik bibirku untuk tertawa. Tak pernah kau tampakkan kesedihanmu, bebanmu, marahmu, pada anak-anakmu. Sungguh, tak pernah ku lihat itu. Garis matamu tak pernah bohong, kau sediakan suka cita untuk anak-anakmu.

Kala kejenuhan melandamu, kau menutupnya dengan candamu. Sesekali kau alunkan melodi dan lirik indah untukku. Suaramu mengalun merdu. Menghiburku. Kau petikkan gitar dengan merdu.

Chatarina Mardiyani, begitu indah namanya. Semangatmu menginspirasiku. Aku ingin seperti ibu. Ibu yang perkasa. Ibu yang tangguh. Ibu yang penyayang. Ibu yang pandai. Ibu yang sabar. Ibu yang ceria. Ibu yang luar biasa. Bersyukur aku memilikimu ibu. Bersyukur aku akan kasihmu.

Satu hal yang selalu kau pesan. Jadilah kebanggaan keluarga. Jadilah anak ibu yang luar biasa. Kepakkan sayapmu dan hiasi dunia. Jangan pernah lelah dan mengeluh. Selalu semangat dan BERDOA.

Kelak ibu, ku kan menjadi “orang” dan merawatmu di tua nanti. Terima kasih. Hanya itu yang bisa ku balas untukmu ibu. Terima kasih telah membentukku menjadi wanita yang dewasa, kuat, dan mengerti akan kasih. Terima kasih tak terhingga untukmu. Terima kasih untuk segala waktumu, tenagamu, peluhmu, jerih payahmu, senyummu, candamu, tangismu, dan doamu. TAK KAN TERGANTI.

Panjang umur, selalu sehat dan  bahagia. Itulah doaku yang paling tulus untukmu, IBU.

Chatarina Mardiyani

(Sepenggal cerita cinta untuk ibuku yang berulang tahun ke-46, 28 Februari 2011— maaf baru ku posting ^.^v AKU SAYANG IBU, muachhhh)

Sahabat Sejati

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”, (Amsal 17:17).


Ada kata-kata mutiara yang dapat mewakili arti sahabat yang sesungguhnya;

–> Teman memberimu senyuman,

namun sahabat memberimu kebahagiaan.

–> Teman akan menceritakan yang tidak benar tentang dirimu,

namun sahabat akan tutup mulut dengan kesalahanmu.

–> Teman hanya menerima kelebihanmu,

namun sahabat akan menerima kekuranganmu.

–> Seribu teman akan datang saat kamu tertawa bahagia, namun seorang sahabat akan datang saat kamu  berderai air mata.


Temukanlah sahabat sejatimu!

Indah Rasamu….

Indah Rasamu….

By: Norma Kristiani

tergolek nisan…

tanpa penghuni…

seonggok batu dan nama,

hisaan dan hanya kenangan…

indah dan hanya mebius asa,

perih membuai rasa…

keterpurukanmu tak menghalau masamu..

sudah, biar, hilang….

tak ayal, kunang-kunang menyinari gelap, mentari menutup kelam…

hmmm…indah…

kan terkenang masamu di detakku,

kan mengalir di nadiku,

hanya sang angin membawa kabar yang kan mengerti,

hanya sang fajar yang mengirim kehangatan di relungku yang kan mematri…

hmmm…indah…

ku kenang..

kau…

yang menghias pelangiku….

RINGKASAN BUKU

RINGKASAN BUKU


A. Identitas Buku

  1. Judul : Ilmu Pragmatk (Teori dan Penerapannya)
  2. Pengarang : Prof. Dr. P. W. J. Nababan
  3. Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  4. Tahun Terbit : 1987
  5. Kota Terbit : Jakarta
  6. Jumlah Halaman : 92 halaman

B. Ringkasan Buku :

BAB 1

PENDAHULUAN

Pragmatic secara lebih luas lagi untuk “aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Secara singkat, dapat diketahui bahwa setiap bahasa memiliki subsistem kinesik, paralinguistic, dan proksemik yang sedikit banyak berbeda. Levison (1983) memberikan lima definisi dari ilmi pragmatic, dua diantaranya adalah:

  1. pragmatic ialah kajian dari hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa.
  2. pragmatic adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai bagi kalimat-kalimat itu.

Pragmatic sebagai ilmu, dan dengan demikian juga bahan pelajarannya, bersumber pada ilmu-ilmu lain yang juga mengkaji bahasa dan factor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa secara wajar. Ilmu-ilmu itu ialah:

a. Falsafah bahasa, terutama dengan teori Tindak Tutur dan Implikatur Percakapan.

b. Sosiolinguistik

c. Antropologi

d. Etnografi Berbahasa

f. Linguistik, terutama Analisis Wacana dan Teori “Dieksis” atau Rujukan.

BAB II

VARIASI BAHASA

Ada empat macam variasi bahasa tergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam bahasa itu. Ke empat kategori factor-faktor itu ialah sebagai berikut:

  1. Factor-faktor geografis
  2. Faktor-faktor kemasyarakatan
  3. Faktor-faktor situasi berbahasa
  4. Factor-faktos waktu

Ragam bahasa yang berhubungan dengan daerah tempat penuturnya disebut dialek.perbedaan dialek terdapat pada seluruh aspek bahasa: fonologi, ejaan dan lafal, morfologi dan sintaksis, kosakata dan peribahasa, dan juga dalam bentuk pragmatic. Ragam bahasa yang berkaitan dengan golongan sosial penutur-penuturnya disebut sosiolek. Sosiolek yang diajarkan di Indonesia adalah “sosiolek terpelajar”. Kelompok ragam bahasa yang ketiga berkaitan dengan situasi berbahasa. Siapa-siapa pemeran serta berbahasa itu serta topic dan jalur. Berbahasa itu.dari factor-faktor tersebut, dikembangkan apa yang disebut ragam-ragam fungsional atau situasional, yang kita sebut di sini fungsiolek. Martin Joos, seorang linguis Amerika, membagi ragam fungsiolek ini menjadi lima subragam, yaitu: subragam beku, resmi, usaha, santai, dan subragam akrab.

Ragam yang ke empat ialah yang berhubungan dengan perubahan bahasa dalam berlalunya waktu. Ragam ini disebut ragam kronolek. Ragam bahasa dalam pengajaran berbahasa bertujuan memperkenalkan berbagai bentuk bahasa kepada pelajar dan membantunya memperoleh keterampilan mengerti dan menggunakan berbagai bentuk dan ragam bahasa itu untuk berbagai ragam komunikasi dalam berbagai situasi berbahasa.

BAB III

Tindak Bahasa

Pengkajian tentang pragmatic yang paling menarik dan kelihatan relevan sekali dengan pengajaran bahasa dan belajar bahasa. Menjelang abad ke-20 ini semakin disadari orang bahwa sukarr sekali dipisahkan makna bahasa dan penggunaannya, sehingga timbulah pernyataan “makna bahasa adalah penggunaan bahasa itu” dalam pandangan aliran yang disebut “logical positivism”.

Austin mengatakan bahwa secara analitis dapat kita pisahkan tiga macam tindak bahasa yang terjadi secara serentak, yaitu:

a. tindak lokusi

b. tindak ilokusi

c. tindak perlokusi

sesuatu ungkapan yang dipakai menidentifikasikan sesuatu benda, proses, kejadian, tindakan, atau sesuatu individu disebut suatu ungkapan rujukan. Ungkapan ini menhunjuk kepada hal-hal tertentu. Rujukan tertentu ditnadai oleh “itu” di belakang ungkapan rujukan itu, missal, orang itu. Sedangkan rujukan taktertentu ditandai oleh kata penggolongan seperti seorang, sebuah, selembar.

Teori tindak tutur bahasa menimbulkan dua macam pendapat tentang hubungan tindak bahasa ini dengan teori dan pengkajian bahasa, yang disebutmtesis keterpulangan, atau disederhanakan menjadi tesis saja dan lawannya antithesis. Tesis ini mengatakan bahwa tindak bahasa tidak dapat dipulangkan kepada persoalan benar dan tak benar. Antithesis itu mengatakan sebaliknya bahwa makna ilokusi itu dapat dipulangkan kepada sintaksis dan semantic.

BAB VI

IMPLIKATUR PERCAKAPAN

Konsep yang paling penting dalam ilmu pragmatic yang paling menonjolkan pragmatic sebagai suatu cabang ilmu bahasa adalah implikatur percakapan. Levinson(1983) melihat kegunaan konsep implikatur terdiri atas empat butir:

  1. Konsep implikatur memungkinkan penjelasan fungsional yang bermakna atas fakta-fakta kebahasaan yang tak terjangkau oleh teori linguistic.
  2. Konsep implikatur memberikan suatu penjelasan yang tegas/implicit tentang bagaimana mungkinnya apa yang diucapkannya secara lahiriah berbeda dari apa yang dimaksud dan bahwa pemakai bahasa itu mnegerti pesan yang dimaksud.
  3. Konsep implikatur ini kelihatannya dapat menyederhanakan pemerian semantic dari perbedaan hubungan antar klausa, walaupun klausa itu dihubungkan dengan kata struktur yang sama.
  4. Konsep implikatur ialah bahwa hanya beberapa butir saja dasar-dasar implikatur dapat menerangkan berbagai macam fakta/gejala yang secara lahiriah kelihatan tidak atau berlawanan.

Grice (1957, juga dalam Steinberg & Jakobovits, 1971) membedakan dua macam makna yang dia sebut natural meaning dan non-natural meaning. Menurut Grice, terdiri atas empat aturan percakapan yang mendasari kerja sama penggunaan bahasa yang efisien yang secara keseluruhan disebut dasar kerja sama. Dasar kerja sama ini terdiri dari empat aturan percakapan, yaitu: kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Grice juga menyebutkan adanya aturan lain yang umumnya bersifat sosial, estetis, atau susila/moral.

Implikatur percakapan memilki cirri-ciri sebagai berikut:

  1. Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu.
  2. Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan.
  3. Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu akan arti konvensional dari kalimat yang dipakai.
  4. Kebenaran dari isi sesuatu implikaturpercakapan bukanlah tergantung pada kebenaran akan yang dikatakan.

BAB V

TEORI DIEKSIS

Dalam linguistic telah kita bertemu dengan istilah rujukan atau referensi, yaitu kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan. Dalam dieksis orang, yang menjadi criteria ialah peran peserta dalam peristiwa bahasa itu, yakni kategori orang pertama, kedua dan ketiga. Dieksis tempat adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang dipandang dari lokasi orang dalam peristiwa bahasa itu.

Dieksis waktu adalah pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang dari waktu suatu ungkapan dibuat, yaitu sekarang, kemarin, dulu, besok, dan lain-lain.dieksis wacana adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan dan atau yang sednag dikembangkan. Dieksis sosila menunjukkan perbedaan-perbedaan kemasyarakatan yang terdapat antara peran-peran peserta, terutama aspek peran sosial antara pembicara dan pendengar dan antara pembicara dengan rujukan/referensi yang lain. Gejala kebahasaan yang didasarkan pada sikap sosial terhadap orang atau peristiwa disebut eufemisme. Dieksis sejati adalah kata/frasa yang artinya dapat ditenagkan seluruhnya dengan konsep dieksis. Sedangkan dieksis taksejati adalah kata/frasa yang atinya hanya sebgaian fungsinya adalah non-dieksis.

BAB VI

PRAANGGAPAN

Implikatur merupakan salah satu persyaratan yang memungkinkan saling mengerti dalam interaksi komunikasi. Oleh karena implikatur itu didasarkan pada hubungan kerja sama antar pemeran dalam situasi dan konteks berbahasa, maka ia disimpulkan secara pragmatic bukan semantic dan sintaktik. Praanggapan adalah penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang membuat bentuk bahasa mempunyai makna bagi penerima bahasa itu, dan membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.

Konsep praanggapan ini berasal dari perdebatan dalam ilmu falsafah khususnya tentang hakikat rujukan dan ungkapan-ungkapan rujukan. Seiring dengan pelepasan konsep praanggapan semantiuk itu, bermunculah beberapa teori praanggapan pragmatic yang menggunakan factor-faktor dan konsep pragmatic dalam definisi praanggapanya, yang biasanya menggunakan dua konsep dasar, yakni: kewajaran dan pengetahuan bersama.

BAB VII

ANALISIS WACANA

Analisis wacana adalah istilah yang berganda makna oleh karena cakupannya luas dan belum begitu lama ini dikaji secara serius oleh para linguis dan ahli-ahli ilmu soail lainnya. Dua perkembangan dalam kajian atau analisis wacana, yaitu: yang pertama ialah berusaha membuat analisis struktur suatu wacana lisan atau tertulis yang terjadi atau dilakukan secara alamiah, yaitu kegiatan berkomunikasi normal, sedangkan yang kedua ialah yang berusaha mengkaji bahasa dalam penggunaan dalam konteks sosial, khususnya pertukaran ujaran antara pembicara dan lawan bicara, dengan kata lain bahasa dalam interaksi. Kalau kita hendak menganalisis atau mengkaji penggunaan bahasa atau bahasa yang dipakai untuk interaksi komunikasi secra nyata, dapat kita mengkajinya dalam bentuk lisan maupun tertulis. Bahasa yang digunakan itu dapat disebut teks dan bahasa lisan yang dipakai itu disebut wacana. Van Dyk (1977), menyatakan bahwa hubungan teks dengan wacana sama dengan hubungan kalimat dengan ujaran.

BAB VIII

PENDEKATAN PRAGMATIK DALAM PENGAJARAN BAHASA

Analisis keadaan pengajaran bahasa Indonesia menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pengajaran dan bahan pengajaran. Tujuan pengajaran dalam kurikulum 1975, ialah “keterampilan berbahasa Indonesia”. Pada permulaan dasawarsa 10970-an berkembang suatu pemikiran yang timbul dari kurang puasnya orang dengan hasil pengajaran bahasa secara structural, yang membuat orang sanggup membuat bentuk-bentuk bahasa menurut pola-pola yang dilatihkan tetapi belum tentu dapat menggunakannya. Satu gagasan yang timbul adalah yang disebut pendekatan kognitif yang menekankan keterampilan mengerti dan menggunakan aturan-aturan pembentukan kalimat-kalimat yang bermakna.

Dalam pembicaraan di atas, kita memakai istilah pragmatic secra lebih luas lagi untuk “aturan pemakaian bahasanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaan”. Bahasa mempunyai bentuk-bentuk yang sesuai konteks dan keadaan. Bentuk-bentuk yang berbeda itu disebut ragam bahasa. Ada empat macam variasi bahasa bergantung pada factor yang berhubungan atau sejalan dengan ragam itu. Keempat factor itu adalah;

  1. Factor geografis
  2. Factor-faktor kemasyrakatan
  3. Factor-faktor situasi berbahasa
  4. Factor-faktor waktu

Orientasi belajar mengajar bahasa berdasarkan tugas dan fungsi berkomunikasi ini disebut pendekatan komunikatif. Dalam pendekatan ini, bentuk bahasa yang dipakai selalu dikaitkan dengan factor-faktor penentu di atas. Ilmu yang mempelajari hubungan bahasa dengan factor-faktor penentu itu disebut ilmu pragmatic.unsur-unsur bahasa meliputi lafal/ejaan, struktur, dan kosa kata, sedangkan kegiatan berbahasa meliputi membaca, menulis/mengarang, berbicara, dan pragmatic.

Keterampilan pragmatic dipelajari melalui dua jalur, yaitu jalur formal, dan non-formal.dalam belajar bahasa asing, keterampilan pragmatic ini dapat dipelajari hanya melalui cara formal oleh karena para pelajar tidak mempunyai kesempatan untuk memperolehnya secara informal. Diperlukan juga bahan-bahan pengajaran yang berorientasi keterampilan pragmatic, artinya materi pembelajaran yang melibatkan konteks dan situasi dalam pengembangannya dan penyajiannya. Pendekatan pragmatic yang diterapkan dalam pengajaran bahasa asin bergantung pada tujuan pembelajaran yang mencakup keterampilan menggunakan bahasa asing itu, tulisan dan/atau lisan. Tujuan pembelajaran ditentukan oleh sekolah. Tujuan pembelajaran dapat ditentukan dengan berbagai cara/factor, yaitu: kemauan dan pemikiran yang mempunyai sekolah, hasil suatu analisi kebutuhan, keinginan pelajar, dan lain-lain.

C. Kelebihan Buku :

Buku ini berisi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu pragmatic. Isinya sudah lengkap dan mencakup seluruh ilmu pragmatic. Tidak lupa, Nababan juga mencantumkan contoh-contoh yang juga membantu pembaca lebih memahami isi buku. Nababan juga membandingkan dengan bahasa Inggris juga contoh-contohnya. Selain itu juga membubuhkan bahan bacaan sebagai penunjang isi dari buku ini. Sumber yang digunakannya pun sangat lengkap dan rinci.

D. Kekurangan Buku :

Buku yang ditulis oleh Nababan ini selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Di sini bahasa yang digunakan masih sulit dipahami, ejaannya pun masih kurang baik. Contoh-contonya kebanyakan contoh dari bahasa asing. Nababan juga kurang teliti dalam penyusunan kalimat. Masih banyak pemborosan kata dan justru membingungkan. Kertas yang digunakan pun masih menggunakan kertas buram. Cover buku ini masih sederhana dan kurang menarik.

RINGKASAN JURNAL

A. Identitas Jurnal :

  1. Judul               : Pragmatik dan Aspek-Aspeknya dalam Pengajaran Bahasa Indonesia
  2. Pengarang      : Sudaryanto
  3. Penerbit          : Cakrawala Pendidikan
  4. Tahun terbit   : 1996
  5. Edisi               : Nomor 1, Tahun XV, Februari 1996
  6. Halaman        : Halaman 69 – 85

B. Ringkasan :

PRAGMATIK DAN ASPEK-ASPEKNYA DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Oleh: Sudaryanto

  1. Pendahuluan

Ketrampilan Bahasa Indonesia yang masih rendah atau belum sesuai dengan yang diharapkan memang sering dijumpai, baik dengan melihat secara sepintas maupun melalui penelitian-penelitian. Mendikbud Wardiman Djoyonegoro mengatakan bahwa kemampuan atau budaya baca bangsa Indonesia masih rendah (Kompas, 30 mei 1995). Mendikbud mengatakan pula bahwa berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik, sekitar 27 juta penduduk Indonesia belum memahami bahasa Indonesia (Kompas, 30 Maret 1995). Adanya kondisi seperti tersebut di atas tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh kekurangberhasilan pengajaran Bahasa Indonesia.

  1. Pendekatan Pragmatik atau Komunikatif?

Menurut Morris dalam Gazdar 91979 : 85) bahwa pragmatik merupakan salah satu bagian dari telaah isyarat-isyarat atau tanda-tanda bahasa. Menurutnya dikatakan bahwa isyarat-isyarat bahasa, dalam pengkajiannya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

    1. sintaktik
    2. semantik
    3. pragmatik.

Menurut Nababan (1987 : 2) yang dimaksud dengan Pragmatik ialah aturan-aturan pemakaian bahasa, yaitu pemilihan bentuk bahasa dan penentuan maknanya sehubungan dengan maksud pembicara sesuai dengan konteks dan keadaanya.

Menurut Leech (1983), yang dimaksud dengan pragmatik adalah suatu kajian bahasa yang berusaha menemukan makna-makna ujaran yang disesuaikan dengan situasi. Sedangkan menurut International Pragmatics Association (IPRA) yang dimaksud dengan pragmatik ialah penyelidikan bahasa yang menyangkut seluk belum penggunaan bahasa dan fungsinya (dalam Soemarmo, 1987 : 3).

  1. Hakikat Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia

GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pada Kurikulum 1984 maupun pada Kurikulum 1994, dinyatakan bahwa aspek-aspek pragmatik digunakan untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh penutur, yang meliputi :Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi, melaporkan, menanyakan, mengoreksi);

      1. a. Untuk menyatakan informasi faktual (mengidentifikasi, melaporkan, menanyakan, mengoreksi);

        b. Menyatakan sikap intelektual (menyatakan setuju atau tidak setuju, menyanggah dan sebagainya);

        c. Menyatakan sikap emosional (senang, tak senang, harapan, kepuasan dan sebagainya;

        d. Menyatakan sikap moral (meminta maaf, menyatakan penyesalan, penghargaan dan sebagainya);

        e. Menyatakan perintah (mengajak, mengundang, memperingatkan dan sebagainya);

        f. Untuk bersosialisasi (menyapa, memperkenalkan diri, menyampaikan selamat, meminta perhatian dan sebagainya), GBPP Kurikulum 1994 : 19).

Oleh karena dewasa ini yang digunakan GBPP Bahasa dan Sastra Indonesia Kurikulum 1994, uraian selanjutnya lebih dititikberatkan pada GBPP tersebut, yaitu diantaranya seperti di bawah ini :

        1. a. Fungsi bahasa untuk menyatakna informasi faktual

          b. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap intelektual

          c. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap emosional

          d. Fungsi bahasa untuk menyatakan sikap moral

          e. Fungsi bahasa untuk menyatakan perintah

          f. Fungsi bahasa untuk menyatakan bersosialiasi

Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bahasa tadi, Halliday (1973) membaginya menjadi :

  1. Fungsi instrumental
  2. Fungsi regulais
  3. Fungsi representasional
  4. Fungsi interaksional
  5. Fungsi personal
  6. Fungsi heuristik
  7. Fungsi imajinatif.

Popper (dalam Leech, 1983 : 49) mengelompokkan fungsi bahasa menjadi :

  1. Fungsi ekspresif
  2. Fungsi informatif
  3. Fungsi deskriptif
  4. Fungsi argumentatif.

Nababan (1987 : 13) yang mendasarkan diri dari pandangan Martin Joos mengenai ragam fungsiolek, membagi fungsi Bahasa Indonesia berdasarkan gaya bahasa (style) menjadi :

  1. ragam beku
  2. ragam resmi
  3. ragam usaha
  4. ragam santai
  5. ragam akrab
  1. Pengajaran Aspek-aspek Pragmatik Bahasa Indonesia

Aspek-aspek pragmatik diantaranya sebagai berikut :

    1. Aspek sosialisasi
    2. Aspek intelektual
    3. Aspek menyelenggarakan sesuatu atau aspek perintah

Ditinjau dari penyajian aspek-aspek pragmatik yang terdapat di dalamnya, ternyata buku-buku yang berlandaskan pada GBPP Kurikulum 1994 lebih bersifat atau sesuai dengan pendekatan prgamatik komunikatif dibandingkan dengan buku-buku yang disusun berdasarkan GBPP Kurikulum 1994.

  1. Penutup

Berdasarkan uraian-uraian di atas jelaslah bahwa pengajaran aspek-aspek pragmatik atau fungsi-fungsi bahasa mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.

C. Kelemahan :

Jurnal ini berisi tentang ilmu pragmatic dan aspek-aspeknya dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Isinya sangat baik karena member pengalaman baru dan ilmu baru bagi pembacanya. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami, tidak terlalu panjang namun isinya sudah berbobot. Susunan paragraph dan isinya pun sudah baik. Sumber yang digunakan sudah banyak dan baik.

D. Kekurangan :

Selain memiliki kelebihan, jurnal ini pun memiliki kelemahan, namun hanya sedikit. Banyak terdapat kata-kata asing yang tidak semua pembaca paham. Contoh-contohnya masih kurang banyak.

RINGKASAN JURNAL

A. Identitas Jurnal :

  1. Judul              : Pengajaran Pragmatik
  2. Pengarang     : Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi
  3. Penerbit         : Arena Almamater
  4. Tahun Terbit : 1991
  5. Edisi               : Januari-Maret 1991
  6. Halaman        : halaman 50-61

B. Ringkasan Jurnal :

PENGAJARAN PRAGMATIK

Oleh: Prof. Dr. A. M. Slamet Soewandi

Pragmatik Sebagai Cabang Ilmu Bahasa

  1. Pengantar

Menurut sejarahnya pragmatik dari kata Yunani pragma yang berarti tindakna sebagia ilmu pertama-tama muncul di dalam dunia filsafat. Filsafat pragmatisme adalah pemikiran tentang bagaimana manusia harus bertindak (Keraf, 1987). Pemikiran ini bersifat praktis, atau berkaitan dengan pengalaman hidup manusia sehari-hari. Filsafat yang memiliki nilai praktis ini mempengaruhi pemikiran tentang bahasa pula.

Dengan demikian pragmatik sebagai ilmu merupakan cabang linguistik yang bidang kajiannya bukan bunyi dan bentuk bahasa, bukan pula makna bahasa, melainkan fungsi bahasa. Kajian makna secara semantis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat (termasuk makna kata atau klausa) secara abstrak atau kalimat yang bebas-konteks, sedangkan kajian makna secara pragmatis memusatkan perhatiannya pada kajian makna kalimat atau konteks. Kalimat dalam konteks inilah yang disebut tuturan atau ujaran.

Hymes (1972) diakronimkan SPEAKING (setting dan scene; participans; ends; purpose dan goal; act sequences; keys; tone or spirit of act; instrumentalities, norms; norms of interactions dan interpretation; dan genres). Konteks berisi unsur pembicara melakukan komunikasi kepada mitra bicara dalam situasi, tempat, dan waktu tertentu, tentang sesuatu (topik) yang tertentu, dengan tujuan dan efek tertentu, dan cara atau jalur tertentu, dengan norma atau kaidah komunikasi tertentu dan dengan ragam bahasa tertentu.

  1. Pragmatik sebagai Bahan Kajian Ilmu Bahasa

Bambang Kaswanti Purwo (1990) membedakan bahan kajian menjadi dua :

    1. Bahan kajian linguistik
    2. Bahan pengajaran bahasa

Sebagai bahan kajian linguistik pragmatik mengkaji :

  1. deiksis
  2. praanggapan atau praduga (presupposition)
  3. tindak ujaran atau tindak tutur (speech acts)
  4. implikatur percakapan (convensational implicature) (1990 : 17)

Bahan kajian (1) mengacu bahan kajian yang berupa kata-kata yang rujukannya atua referennya berpindah-pindah (Purwo, 1984, 1990).

Nababan (1987; bandingkan dengan Purwo 91984) membedakan adanya lima jenis deiksis; deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana dan deiksis sosial.

Bahan kajian (2) mengkaji konsep dugaan atau anggapan sebelumnya yang ada pada benak penutur pada waktu berbicara.

Bahan kajian (3) menkaji suatu kenyataan berbahasa bahwa pada waktu setiap penutur mengatakan suatu kalimat, sebenarnya ia tidak hanya mengucapkan, melainkan bersamaan dengan pengucapan itu ia melakukan (menindakkan) sesuatu.

Nababan (1987) membedakan adanya tiga macam tindak bahasa : lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Dalam kaitan dengan konsep implikatur ini Grice 91957) membuat teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa supaya terajdi suatu komunikasi yang baik. Dikatakan bahwa di dalam menggunakan bahasa seseorang harus mengindahkan prinsip kerja sama (cooperative principles) dan prinsip kesopanan (politeness principles). Prinsip kerjasama berisi empat aturan (maksim) yang menyangkut aspek kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Maksim kuantitas menyarankan untuk hanya menggunakan sejumlah kata secukupnya, maksim kualitas menyarankan untuk hanya mengatakan yang sebenarnya, maksim relevansi menyarankan untuk hanya mengatakan yang relevan, dan maksim cara menyarankan untuk mengatakan secara jelas.

Prinsip kesopanan berisi enam aturan (maksim) kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, permufakatan dan simpati. Maksim kebijaksanaan menyarankan untuk tidak merugikan mitra bicara, maksim kedermawanan menyarankan untuk tidak mengorbankan mitra bicara, maksim penghargaan menyarankan untuk memberikan pujian kepada mitra bicara, maksim kesederhanaan menyarankan untuk mengurangi cacian kepada mitra bicara, maksim permufakatan menyarankan untuk mengurangi ketidaksesuaian dengan mitra baca, dan maksim simpati menyarankan untuk mengurangi antipati kepada mitra bicara.

  1. Pragmatik sebagai Bahan Pengajaran Bahasa

Dengan mengambil pembagian Haliday (1973), Nababan (lihat juga tarigan, 1986) menyebutkan adanya tujuh fungsi bahasa bagi perseorangan, masing-masing instrumental, menyuruh, interaksi, kepribadian, khayalan, pemecahan masalah dna informatif.

Bahan pengajaran pragmatik di dalam kurikulum 1984 mencoba menjabarkan semuanya itu ke dalam enam aspek bahan pengajaran : sosial, intelektual, emosional, infomasi faktual, moral dan penyelesaian masalah.

Aspek sosial berkaitan dengan aturan hubungan antar sesama, norma masyarakat baik yang bersifat yuridis formal maupun yang bersifat konvensional. Aspek intelektual adalah aspek psikis manusia yang berkaitan dengan pikiran, budi yang bersifat diskursif : bersifat objektif, bukan subjektif memahami sesuatu dengan cara mengambil jarak. Aspek emosional merupakan aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan atau kepekaan intuitif. Aspek informasi formla berkaitan dengan hubungan antar sesamanya. Aspek moral ada hubungannya dengan unsur internal, horisontal dan vertikal. Aspek penyelesaian masalah berkaitan dengan aspek internal dan eksternal manusia, khususnya yang horisontal.

Pragmatik Sebagai Suatu Pendekatan Pengajaran Bahasa

    1. Pengantar

Konsep pendekatan adalah konsep yang berisi asumsi-asumsi atau aksioma-aksioma tentang sesuatu (Antony, 1963). Pendekatan dalam pengajaran bahasa mengacu pada asumsi atau aksioma tentang apa itu bahasa dan apa atau bagaimana belajar bahasa diyakini berlangsung.

    1. Ciri-ciri Pendekatan Pragmatik

Pandangan pragmatik tentang bahasa mengacu pada pnegertian bahwa bahasa :

      1. Merupakan suatu totalitas, bukan kumpulan komponen-komponen.
      2. Merupakan alat yang dipergunakan oleh manusia untuk melangsungkan hidupnya bersama dengan orang lain.

Krashen (1977) di dalam penelitiannya tentang perilaku anak yang belajar bahasa pertama menemukan bahwa bahan bahasa yang berupa intake (necessary input) adalha bahan yang paling efektif dan bahan itu diperoleh di dalam lingkungannya yang informal.

    1. Implikasi Pendekatan Pragmatik dalam Pengajaran Bahasa

Pertama, di dalam pengajaran dengan pendekatan pragmatik tujuan pengajaran yang harus dicapai adalah dimilikinya kemampuan komunikatif (use of linguistic elements). Kedua, pengajaran yang berupa satuan-satuan lingual itu harus disajikan di dalam suatu konteks komunikasi yang riil, bukan dibuat-buat. Ketiga, karena di dalam konteks komunikasi yang riil satuan-satuan lingual itu tidak tersaji secara sistematis, maka tekanan penyajian perlu diprioritaskan pada kadar keseringan kemunculan satuan-satuan lingual di dalam suatu konteks diisyaratkan bahwa penekanan penyajian pada urutan-urutan satuan lingual berdasarkan temuan linguistik menjadi kurang penting.

Setapak Kerinduan

Setapak Kerinduan

oleh: Norma Kristiani

tap…

tap…

tap…

langkah itu… kudengar lirih, mendayu… namun pasti

sama seperti langkah yang biasa kudengar…

aku menyukai langkah itu…

pasti namun berirama…

setapak demi setapak langkah itu meninggalkan hembusan angin, putih tak berwarna…

sejenak kutengok, hanya bentuk dan hilang terbawa angin…

hmmm….

kapan lagi ku dapat mendengar dan melihat jejak langkah itu lagi?

esok, mungkin….

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.